Uncategorized

Safari Pesantren di Madura: Menag Serap Aspirasi dan Rawat Warisan Keilmuan Nusantara

130
×

Safari Pesantren di Madura: Menag Serap Aspirasi dan Rawat Warisan Keilmuan Nusantara

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas — Hujan turun pelan saat rombongan Menteri Agama Nasaruddin Umar tiba di Pulau Madura. Langit kelabu tak mengurangi semangat Menag untuk memulai rangkaian safari pesantren. Justru suasana itu menambah kekhusyukan perjalanan—sebuah kunjungan yang bukan sekadar agenda kerja, tetapi ziarah intelektual dan spiritual ke pusat-pusat lahirnya ulama besar Nusantara.

Ziarah ke Makam Pendiri Pesantren As-Shomadiyah

Tujuan pertama Menag adalah kompleks pemakaman leluhur pengasuh Pondok Pesantren As-Shomadiyah, Bangkalan. Di sinilah bersemayam KH. Makki Syarbini, pendiri pesantren yang menjadi pelita keilmuan bagi masyarakat sekitar.

Menag menundukkan kepala, memanjatkan doa, dan berbincang singkat dengan pengasuh tentang sejarah panjang perjuangan pendiri pesantren dalam memajukan ilmu agama.

“Para ulama seperti KH. Makki Syarbini telah membangun pondasi kokoh bagi tradisi keilmuan Nusantara. Kita datang bukan hanya untuk berziarah, tetapi meneguhkan tekad meneruskan perjuangan beliau,” ujar Menag, Sabtu (29/11/2025).

Menghormati Syeikhona Kholil, Sang Pahlawan Nasional 2025
Usai ziarah pertama, Menag melanjutkan perjalanan ke makam Syeikhona Kholil Bangkalan, ulama besar yang baru saja ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 116/TK/2025.

Penetapan ini menjadi momentum bersejarah bagi dunia pesantren. “Syeikhona Kholil bukan hanya guru para pendiri bangsa, tetapi guru bagi peradaban. Gelar pahlawan nasional beliau adalah pengakuan negara atas jasa besar pesantren dalam membentuk karakter Indonesia,” tutur Menag.

Hujan ringan kembali turun saat Menag tiba di kompleks makam. Suasana hening menyelimuti area pemakaman, seolah turut memberi penghormatan kepada ulama yang menjadi guru Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan jajaran ulama besar lainnya.

Serap Aspirasi dan Serahkan Bantuan Rp100 Juta untuk Pesantren Syeikhona Kholil

Menag kemudian berkunjung ke Pesantren Syeikhona Kholil. Di hadapan para pengasuh, termasuk Khadimul Ma’had RKH Fahruddin Aschal, Menag menerima sejumlah karya literatur pesantren berupa kitab turats karya asli Syeikhona Kholil. Ia juga menerima proposal pengembangan pesantren dan mendengar langsung penjelasan mengenai program Nahdlatut Turats yang dipimpin Lora Usman Kholil, cicit Syeikhona yang berfokus menjaga dan mengembangkan warisan intelektual leluhur.

Pada kesempatan tersebut, Kementerian Agama menyerahkan bantuan sebesar Rp100 juta untuk mendukung penguatan kegiatan pendidikan dan pengembangan pesantren.

“Semoga bantuan ini menjadi stimulan bagi penguatan kegiatan belajar, sarana pendidikan, dan pengembangan khazanah keilmuan di Pesantren Syeikhona Kholil,” kata Menag.

Kunjungan berlanjut ke Pondok Pesantren Syeikhona Kholil. Di sana, Menag menerima berbagai literatur pesantren, termasuk manuskrip dan kitab turats karya asli Syeikhona Kholil.

“Banyak kitab pesantren, terutama yang berbahasa Madura, merupakan kekayaan intelektual yang sangat berharga. Saya berharap seluruh literatur asli ini nanti bisa diterjemahkan ke bahasa Indonesia agar dapat diakses dan dipelajari lebih luas oleh masyarakat,” kata Menag.

Dalam dialog bersama pengasuh pesantren, Menag kembali menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat ekosistem pendidikan pesantren.

“Dengan dibentuknya Direktorat Jenderal Pesantren, kita ingin memastikan seluruh pesantren di Indonesia—besar maupun kecil—mendapat perhatian lebih dalam hal infrastruktur, fasilitas pendidikan, dan pengembangan SDM,” tegasnya.

Menag menjelaskan bahwa selama ini pesantren memiliki kekuatan unik yang berbeda dari lembaga pendidikan lainnya. Karena itu, keberadaan dirjen khusus akan mempercepat transformasi kualitas pendidikan, termasuk standarisasi kesehatan lingkungan pesantren, penguatan kurikulum kitab kuning, serta fasilitasi kemandirian ekonomi pesantren.

Meski diiringi cuaca hujan sepanjang hari, safari pesantren di Madura berlangsung hangat dan penuh makna. Bagi Menag, pulau ini adalah “rumah besar ulama Nusantara” di mana tradisi keilmuan, adab, dan spiritualitas tumbuh kuat dari generasi ke generasi.

“Setiap pesantren yang saya kunjungi membawa pesan penting bahwa masa depan Indonesia akan sangat ditentukan oleh keberlanjutan tradisi keilmuan pesantren,” ungkap Menag

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *