Metro, panjimas – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, mengajak seluruh warga persyarikatan untuk senantiasa bersyukur atas usia Muhammadiyah yang kini telah memasuki tahun ke-113.
Seruan ini disampaikan dalam sambutannya pada acara Resepsi Milad Muhammadiyah Lampung 2025 yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Metro Lampung pada Ahad (30/11). “Marilah kita bersyukur atas nikmat Allah ini,” ujarnya.
Mu’ti memberikan penafsiran khusus mengenai makna “Muhammadiyah”. Menurutnya, selain mengikuti Rasulullah, Muhammadiyah juga berarti melanjutkan misi Rasulullah Muhammad, yaitu menghadirkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Tujuannya adalah menghadirkan Islam sebagai syariat yang diikuti oleh umat manusia dari latar belakang suku dan kebangsaan apa pun.
Sebagai bentuk tahaddus bin nikmah (menyebutkan nikmat Allah) dan bukti komitmen menjalankan keputusan Muktamar ke-48 di Surakarta, yaitu “Memajukan Indonesia, mencerahkan semesta,” Muhammadiyah kini telah menyebar secara global.
Muhammadiyah saat ini memiliki 31 Cabang Istimewa (PCIM) yang tersebar di berbagai negara. PCIM yang paling bungsu adalah Muhammadiyah Timor Leste. Mu’ti menjelaskan bahwa pengembangan ini berawal dari rintisan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Timor saat masih menjadi bagian dari NKRI. Bahkan, muncul usulan agar Muhammadiyah Timor Leste menjadi sister organization yang berdiri dengan badan hukum negara Timor Leste, mengingat banyaknya anggotanya adalah warga negara Timor Leste, meskipun saat ini statusnya masih PCIM.
Amal usaha Muhammadiyah (AUM) juga telah berdiri di beberapa negara. Mu’ti menyebutkan bahwa PP Muhammadiyah terus menjalin kerja sama internasional; contohnya, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir baru-baru ini menghadiri acara di Universitas Muhammadiyah Malaysia di Perlis dan juga menandatangani kerja sama dengan perguruan tinggi di Madinah Almunawarah, Saudi Arabia.
Abdul Mu’ti dengan tegas mengajak warga persyarikatan untuk tidak perlu malu menunjukkan identitas sebagai Muhammadiyah. Ia memberikan contoh keberhasilan yang didorong oleh identitas yang jelas. Ia menceritakan bagaimana ia dapat menjabat sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah karena rekomendasi dari PP Muhammadiyah.
Selain itu, ia menyoroti kisah penulis terkenal, Andrea Hirata (seorang alumni Muhammadiyah), yang gigih mempertahankan nama SD Muhammadiyah di Belitong saat penyiapan film Laskar Pelangi. Walaupun produser khawatir nama Muhammadiyah akan membuat film tidak laku, Andrea Hirata bersikukuh, dan akhirnya film Laskar Pelangi menjadi salah satu box office dengan penonton lebih dari 6 juta, setara dengan film Habibi dan Ainun.
Mu’ti juga menyinggung hasil disertasinya yang kemudian terbit menjadi buku berjudul Kristen Muhammadiyah. Istilah ini kini populer di kalangan Muhammadiyah.
Ia menjelaskan, di UM Kupang, sekitar 75% dari 8.000 mahasiswanya beragama Kristen Katolik. Mereka bahkan tidak ragu menyanyikan lagu “Sang Surya”. Mu’ti juga menceritakan insiden di Papua di mana seorang Wakil Gubernur yang beragama Kristen namun alumni Muhammadiyah meminta izin untuk memimpin doa secara Islam.
Dalam hal pengembangan AUM, Mu’ti mengumumkan bahwa di Universitas Pendidikan Muhammadiyah Kabupaten Sorong (Provinsi Papua Barat Daya) akan segera didirikan Rumah Sakit Muhammadiyah yang ke-127. Pembangunan rumah sakit tersebut dianggarkan sekitar 250 miliar dan diproyeksikan memiliki kualitas setara dengan Rumah Sakit Muhammadiyah Metro. Selain itu, universitas tersebut sedang merintis pendirian Fakultas Kedokteran. Saat ini, Muhammadiyah telah memiliki 164 perguruan tinggi dan 21 fakultas kedokteran.
Dengan menegaskan pentingnya syukur, identitas, dan kontribusi nyata, Abdul Mu’ti memberikan pesan bahwa perjalanan panjang Muhammadiyah adalah modal moral untuk terus memperkuat peran kebangsaan dan kemanusiaan.
“Kita harus bangga sebagai warga Muhammadiyah,” ujarnya, seraya mengajak seluruh kader menjaga tradisi berkemajuan agar persyarikatan ini tetap menjadi mata air pencerahan bagi semesta













