Pati, panjimas — Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, mengajak warga persyarikatan untuk terus meneguhkan iman, memperkuat amal saleh, dan menghidupkan spirit gerakan Muhammadiyah yang berkemajuan.
Hal itu ia sampaikan dalam Puncak Milad Muhammadiyah ke-113 dan Tabligh Akbar yang digelar di Pendopo Kabupaten Pati, Ahad (30/11).
Dalam tausiyahnya, Agus menegaskan bahwa Kiai Haji Ahmad Dahlan menanamkan dasar iman dan amal saleh dengan metode pengajaran yang mendalam. Ia mencontohkan bagaimana Sang Pendiri Muhammadiyah mengajarkan Surah Al-‘Ashr hingga lebih dari tujuh bulan demi memastikan nilai-nilai keimanan benar-benar meresap dan melahirkan amal saleh yang sesuai tuntunan Rasulullah.
Lebih jauh, Agus mengisahkan bagaimana KH Ahmad Dahlan mengajak murid-muridnya mengamalkan Surah Al-Ma’un, tidak berhenti pada bacaan atau kajian, tetapi diwujudkan dengan mengumpulkan dan membantu kaum miskin di sekitar Pasar Beringharjo.
Dari semangat itu lahirlah Gerakan Teologi Al-Ma’un, yang kemudian diperdalam oleh Kiai Sujak dan melahirkan lembaga pertolongan seperti PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem).
Agus mengingatkan bahwa sejak awal berdirinya, Muhammadiyah selalu menghadirkan tiga gerakan utama: feeding (pertolongan sosial), schooling (pendidikan), dan healing (pelayanan kesehatan). Di masa awal, tokoh-tokoh muda seperti Kiai Sudjak, Haji Fakhruddin, dan KH Hisyam memimpin berbagai amal usaha Muhammadiyah pada usia yang terbilang sangat muda.
Tak hanya historis, Agus juga menyoroti persoalan kekinian umat Islam. Ia mengutip keprihatinan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla tentang ketimpangan ekonomi umat Islam di Indonesia.
“Kalau mencari seratus pengusaha sukses, yang muslim kurang dari sepuluh. Tapi kalau mencari seratus keluarga miskin, yang muslim lebih dari sembilan puluh,” ujarnya menirukan pernyataan JK. Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan perlunya memperbaiki cara beragama agar selaras dengan etos kerja dan ajaran Islam yang memuliakan usaha.
Dalam kesempatan itu, Agus juga mendorong spirit dakwah kultural, bahwa perilaku umat Islam harus menjadi duta terbaik ajaran Islam. Ia mengutip pesan atlet MMA asal Rusia, Khabib Nurmagomedov, bahwa orang yang tidak membaca Al-Qur’an atau hadis akan menilai Islam melalui perilaku umatnya.
Terkait peran internasional Muhammadiyah, Agus memaparkan sejumlah kemajuan, termasuk keberadaan perguruan tinggi Muhammadiyah di Malaysia, berdirinya SD Muhammadiyah Australia (MAC – Muhammadiyah Australian College) di Melbourne, serta rencana kerja sama dakwah dengan Arab Saudi. Ia menjelaskan bagaimana sekolah Muhammadiyah di Australia mendapatkan kepercayaan luas, bahkan mayoritas siswanya merupakan diaspora internasional non-Indonesia.
Di bagian akhir, Agus menegaskan pentingnya menghidupkan ranting, cabang, dan memakmurkan masjid sebagai basis kekuatan gerakan Muhammadiyah. Ia juga menekankan peran Aisyiyah, termasuk pengembangan pesantren lansia, sebagai wujud penghormatan Islam kepada orang tua dan jalan untuk menghadirkan pelayanan bermartabat bagi para sepuh.
“Keberadaan Muhammadiyah harus membawa kemanfaatan bagi masyarakat,” tegasnya.
Acara ditutup dengan pekik semangat: “Islam mencerahkan, Muhammadiyah memajukan, Indonesia jaya-jaya-jaya!”, yang disambut antusias warga persyarikatan yang memenuhi Pendopo Pati













