MuhammadiyahNasionalNews

Menguatkan Kembali Ruh Kemuhammadiyahan

94
×

Menguatkan Kembali Ruh Kemuhammadiyahan

Sebarkan artikel ini

Mataram, panjimas – Pegawai di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) perlu adanya penguatan ideologi Muhammadiyah, dan pendalaman agama Islam melalui pengajian rutin yang terstruktur.

Pesan itu disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman pada Rabu (10/12) dalam Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah oleh keluarga besar Muhammadiyah Nusa Tenggara Barat di Mataram.

Pengajian bagi karyawan AUM, pesan dr. Agus harus diselenggarakan, meskipun ada karyawan yang terpaksa mengikuti pengajian tersebut. Sebab terpaksa pengajian lebih baik, karena berbalas surga daripada sukarela masuk neraka.

Tak hanya pengajian rutin yang terstruktur, pegawai di AUM juga skema supaya mereka bisa ikut aktif Bermuhammadiyah baik di cabang, maupun ranting Muhammadiyah tempat dia tinggal.

Mengutip Pak Jindar Tamimi, dr. Agus menyampaikan, pengajian merupakan ruh dakwah Muhammadiyah. Hal ini terbukti sejak zaman Kiai Ahmad Dahlan sampai sekarang, pengajian sebagai wadah internalisasi Kemuhammadiyahan.

Mengulas kegiatan pengajian zaman Kiai Ahmad Dahlan, dahulu sebelum umum disebut sebagai pengajian, jemaah yang mengaji ke Kiai Dahlan sering disebut sebagai gerombolan. Dari gerombolan ini Muhammadiyah berkembang.

Dari Gerombolan Pengajian ke Gerakan Internasional
Gerakan Muhammadiyah masa sekarang tidak hanya menjadi fenomena nasional, tapi juga internasional. Muhammadiyah hadir baik secara struktur maupun AUM di negara-negara asing salah satu Australia.

Salah satu AUM yang berkembang pesat di luar negeri adalah Muhammadiyah Australia College (MAC) di Melbourne. dr. Agus Taufiqurrahman menceritakan, MAC juga awalnya dimulai dari gerombolan pengajian oleh Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Australia.

“Yang ikut pengajian buka puasa dan tarawih bersama kita waktu itu ada dua bule muslim yang ikut pengajian PCIM itu. Ternyata ada juga muslim Australia yang ikut gabung dengan kita,” ungkap dr. Agus.

Saat ini peserta didik di MAC itu sebanyak 76 persen mereka bukan anak-anak Indonesia, tapi berasal dari berbagai negara. Hal itu membuktikan pelayanan Muhammadiyah ini diterima oleh semua bangsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *