NasionalNewsOpini

Ketika Budaya Moyang Kita Memahami Perubahan Iklim

73
×

Ketika Budaya Moyang Kita Memahami Perubahan Iklim

Sebarkan artikel ini

Anang Fahmi (Pusdiklat BAZNAS – Dosen UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto)

Hujan lebat yang mengguyur Aceh pada Desember 2025 menyebabkan banjir bandang yang merenggut ratusan nyawa. Belum lagi badai siklon yang kini semakin sering menghantam pesisir Sumatera. Tanah longsor di Jawa Barat terjadi hampir setiap musim hujan. Sementara di sisi lain, Nusa Tenggara Timur dilanda kekeringan berkepanjangan.

Bencana demi bencana ini bukan sekadar nasib buruk. Para ahli iklim menyebutnya sebagai dampak perubahan iklim global yang sudah lama diprediksi. Tapi yang menarik, jauh sebelum ada satelit cuaca dan superkomputer untuk memprediksi bencana, nenek moyang kita di Nusantara sebenarnya sudah punya cara untuk mengantisipasi dan hidup berdampingan dengan alam.

Inilah yang coba diangkat kembali dalam Konsili Nasional Ekosentris Indonesia—sebuah upaya merevitalisasi pemikiran kuno tentang alam, yang dalam bahasa Yunani disebut “phusikoi” atau ilmu tentang alam, dengan menggabungkannya bersama kearifan lokal Nusantara.

Belajar dari Pemikir Yunani Kuno

Sekitar 2.600 tahun lalu, jauh sebelum sains modern lahir, sekelompok pemikir di Yunani sudah bertanya: apa sebenarnya yang menjadi dasar dari semua yang ada di alam ini? Mereka menyebutnya “arche”—prinsip paling mendasar dari alam semesta.

Thales, salah satu pemikir pertama, mengatakan air adalah sumber segala kehidupan. Bukan tanpa alasan. Air memang ada di mana-mana: di laut, di awan, dalam tubuh makhluk hidup, bahkan dalam tanah. Anaximenes memilih udara. Heraclitus melihat api dan perubahan sebagai hakikat alam—tidak ada yang tetap, semuanya mengalir dan berubah.

Empedocles kemudian mensintesiskan semuanya: tanah, air, udara, dan api adalah empat elemen dasar yang membentuk segala sesuatu. Yang penting dari pemikiran mereka bukan soal siapa yang benar, melainkan cara pandang mereka: alam adalah satu kesatuan yang saling terhubung. Jika satu bagian terganggu, yang lain ikut terpengaruh.

Zaman yang Tidak Normal

Kita sekarang hidup di masa yang oleh para ahli disebut “Post Normal Times”—zaman yang serba tidak pasti. Prediksi cuaca yang dulu akurat, kini sering meleset. Pola musim yang sudah dipahami petani turun-temurun, kini berubah. Ketidakpastian ini bukan karena ilmu pengetahuan kita kurang, tapi karena sistem alam sendiri sedang berubah dengan cepat.

Ambil contoh siklon tropis. Dulu jarang menghantam Indonesia karena suhu laut kita tidak cukup panas untuk membentuk badai besar. Tapi sekarang, suhu permukaan Samudra Hindia terus naik akibat pemanasan global. Air laut yang lebih hangat ini seperti bahan bakar bagi siklon. Maka jangan heran jika badai besar kini lebih sering terjadi.

Di Sumatera, banjir bandang yang melanda bukan hanya karena hujan lebat. Hutan yang gundul tidak lagi bisa menyerap air hujan. Tanah yang telah menjadi perkebunan sawit atau pemukiman tidak punya kemampuan menahan air seperti hutan. Akibatnya, air langsung mengalir deras ke pemukiman penduduk.

Ini yang dimaksud dengan ketidakseimbangan “arche” dalam bahasa modern: siklus air terganggu, sistem iklim berubah, dan keseimbangan alam terancam.

Kearifan yang Terlupakan

Yang sering kita lupakan, nenek moyang di Nusantara sebenarnya sudah memahami prinsip-prinsip ini jauh sebelum kita mengenal istilah “perubahan iklim” atau “ekosistem”. Bedanya, mereka tidak menuliskannya dalam jurnal ilmiah, tapi dalam praktik hidup sehari-hari.

Di Jawa, ada filosofi “memayu hayuning bawana”—merawat dan menjaga keselarasan dunia. Ini bukan sekadar slogan, tapi panduan konkret dalam bertani, membangun rumah, bahkan mengelola desa. Petani Jawa tradisional tidak asal menanam. Mereka punya kalender pertanian “pranata mangsa” yang membagi tahun menjadi periode-periode tertentu berdasarkan pengamatan alam: kapan angin bertiup dari arah mana, kapan bintang tertentu muncul, bagaimana perilaku hewan.

Di Bali, sistem irigasi “subak” bukan sekadar membagi air. Subak didasarkan pada filosofi “Tri Hita Karana”—tiga penyebab kebahagiaan: harmoni dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Maka pembagian air tidak hanya soal teknis, tapi juga spiritual dan sosial.

Masyarakat Dayak di Kalimantan punya “tana ulen”—tanah keramat yang tidak boleh disentuh. Fungsinya? Menjaga hutan lindung yang merupakan sumber mata air dan habitat satwa. Tanpa perlu penelitian ilmiah, mereka paham bahwa hutan tertentu harus dijaga agar air tetap mengalir dan tanah tidak longsor.

Bahkan nelayan Bugis yang dikenal sebagai pelaut ulung tidak mengandalkan teknologi canggih. Mereka membaca tanda-tanda alam: warna awan, arah angin, pola ombak, bahkan perilaku burung dan ikan. Pengetahuan ini dikumpulkan selama berabad-abad melalui pengamatan teliti terhadap alam.

Mengapa Kearifan Ini Penting Sekarang

Sayangnya, modernisasi sering membuat kita menganggap pengetahuan tradisional sebagai ketinggalan zaman. Kita lebih percaya pada teknologi dan lupa pada kearifan lokal. Padahal, banyak penelitian menunjukkan bahwa kearifan tradisional sangat efektif untuk menghadapi perubahan iklim.

Hutan bakau yang dilindungi oleh masyarakat pesisir tradisional, misalnya, terbukti mampu mengurangi kerusakan akibat badai dan tsunami hingga 70 persen. Bakau berfungsi sebagai tembok alami yang meredam gelombang. Tapi di banyak tempat, bakau ditebang untuk tambak atau pembangunan.

Masyarakat Simeulue yang selamat dari tsunami 2004 terkenal karena mereka punya pengetahuan turun-temurun bernama “smong”—cerita tentang gempa dan ombak besar yang diajarkan dalam lagu dan dongeng. Ketika gempa terjadi, mereka langsung lari ke bukit tanpa menunggu peringatan resmi.

Sistem pertanian tradisional seperti “mina padi”—memelihara ikan di sawah—ternyata lebih tahan terhadap kekeringan dibanding monokultur modern. Ikan membantu mengendalikan hama, kotorannya jadi pupuk alami, dan keberadaan air untuk ikan membuat sawah tidak mudah kering.

Menggabungkan Kearifan dan Sains

Gerakan Neo-Phusikoi yang digagas dalam Konsili Nasional Ekosentris Indonesia ini bukan tentang meninggalkan sains modern dan kembali ke masa lalu. Sebaliknya, ini tentang menggabungkan kekuatan keduanya.

Sains modern unggul dalam mengukur, memprediksi, dan menganalisis perubahan iklim dengan detail. Satelit bisa memantau suhu laut, komputer bisa memprediksi jalur badai, sensor bisa mendeteksi pergerakan tanah. Tapi sains modern sering lupa bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan terpisah darinya.

Di sinilah kearifan tradisional melengkapi. Ia mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam, bukan menguasainya. Untuk mengambil secukupnya, bukan sebanyak-banyaknya. Untuk merawat, bukan hanya mengeksploitasi.

Saatnya Mendengarkan Lagi

Bencana demi bencana yang menimpa kita adalah peringatan bahwa ada yang tidak beres dengan cara kita memperlakukan alam. Teknologi saja tidak cukup. Kita perlu perubahan mendasar dalam cara pandang kita terhadap alam.

Ketika pemikir Yunani kuno mencari “arche”—prinsip dasar alam—mereka ingin memahami bagaimana hidup selaras dengan kosmos. Ketika leluhur kita di Nusantara mengembangkan kearifan lokal, tujuannya sama: hidup harmonis dengan alam.

Pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan iklim itu nyata—kita sudah merasakannya setiap hari. Pertanyaannya adalah: apakah kita mau mendengarkan lagi kebijaksanaan yang telah ditinggalkan nenek moyang kita?

Di tengah ketidakpastian zaman, mungkin sudah waktunya kita tidak hanya mengandalkan teknologi terbaru, tapi juga menoleh pada kearifan budaya lama. Karena pada akhirnya, bencana yang kita hadapi hari ini sebenarnya sudah lama diperingatkan—baik oleh sains modern maupun oleh leluhur kita. Yang kita butuhkan hanya kesediaan untuk mendengarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *