BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Pendidikan Muhammadiyah Harus Integratif, Progresif, dan Berkeunggulan

32
×

Pendidikan Muhammadiyah Harus Integratif, Progresif, dan Berkeunggulan

Sebarkan artikel ini

Makassar,panjimas – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen-PNF) PP Muhammadiyah harus menjadi forum konsolidasi yang menghasilkan kerja nyata, bukan sekadar seremoni.

Pesan tersebut disampaikan dalam Rakornas yang digelar di Hotel Four Points Makassar, Jalan Andi Djemma, Kota Makassar.

“Jangan sampai semangat dan foto-fotonya saja yang langsung dibagikan setelah acara, tetapi tidak ada kerja nyata dan tidak ada laporan yang dikerjakan,” tegas Mu’ti pada Senin (15/2).

Menurutnya, forum Rakornas harus menjadi ruang saling mengisi dan menginspirasi. Agenda seremonial memang penting, namun tidak boleh terlalu dominan hingga mengaburkan substansi.

Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa sekolah dan madrasah Muhammadiyah merupakan yang terbesar dibanding organisasi mana pun. Namun, ia menegaskan bahwa kebesaran secara jumlah belum sepenuhnya diikuti kualitas terbaik.

“We are the largest, but not yet the face,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong penguatan kualitas pendidikan agar Muhammadiyah tidak hanya unggul secara kuantitatif, tetapi juga menjadi rujukan mutu.

Ia menekankan bahwa pendidikan Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada capaian akademik semata. Pendidikan harus melahirkan kader Persyarikatan dengan beragam potensi, sebagaimana cita-cita KH Ahmad Dahlan.

Sekolah Muhammadiyah, lanjutnya, tidak harus seragam dalam keunggulan. Setiap satuan pendidikan dapat memiliki kekhasan masing-masing, namun tetap berpijak pada nilai dasar Islam Berkemajuan, akhlakul karimah, dan tanggung jawab sosial.

Dalam mendirikan satuan pendidikan, Mu’ti menegaskan pentingnya perencanaan strategis yang matang, bukan pendekatan emosional. Pemetaan potensi perlu dilakukan agar sekolah dapat mengisi ruang yang belum terlayani.

“Tidak semua sekolah harus unggul di semua bidang. Bisa jadi ada sekolah yang kita siapkan unggul di akademik, ada yang menjadi sekolah olahraga, atau memiliki spesialisasi tertentu,” jelasnya.

Dalam paparannya, Mu’ti juga menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi dalam pendidikan Muhammadiyah. Ia mencontohkan bagaimana matematika memiliki kaitan erat dengan ajaran Islam, mulai dari perhitungan amal di yaumul hisab hingga ilmu falak dalam penentuan kiblat.

“Antara Al-Qur’an, ibadah, dan matematika itu tidak bisa dipisahkan. Inilah yang sejak awal diletakkan Muhammadiyah dengan pendekatan terintegrasi,” ujarnya.

Menurutnya, sekolah Muhammadiyah harus mampu mengajarkan disiplin keilmuan agama secara mendalam, tidak hanya hafalan, tetapi juga mampu mengintegrasikan dan mengontekstualisasikannya dengan ilmu lain.

Ia menyebut pendidikan sebagai pusat reformasi Islam di Muhammadiyah. Sejak awal, KH Ahmad Dahlan menghadirkan model pendidikan yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum sebagai solusi atas dikotomi sistem pendidikan saat itu.

Dalam diskursus yang lebih luas, Mu’ti menjelaskan bahwa pembaruan pendidikan Muhammadiyah bertumpu pada tiga kekuatan utama ajaran KH Ahmad Dahlan: pembaruan pemahaman agama yang kontekstual, solusi sosial melalui model sekolah integratif, serta upaya membangun persatuan umat dan bangsa.

Abdul Mu’ti juga mengingatkan bahwa sekolah tidak akan maju jika terjebak pada tiga hal: konflik, korupsi, dan kolot.

Pertama, jangan konflik yang berkepanjangan dan merusak energi organisasi. Kedua, jangan korupsi, karena Muhammadiyah dikenal tertib administrasi dan akuntabel. Ketiga, jangan kolot atau konservatif, tetapi terus melakukan pembaruan dengan growth mindset.

Ia juga mendorong penguatan jejaring nasional dan internasional agar sekolah Muhammadiyah bisa maju bersama. Sekolah yang sudah unggul dipertahankan dan ditingkatkan, sementara yang masih tertinggal harus diangkat.

Menanggapi angka putus sekolah dan tantangan akses pendidikan, Mu’ti menilai persoalan tersebut tidak semata faktor ekonomi, tetapi juga kultural dan geografis.

Muhammadiyah, katanya, harus menjangkau yang tidak terjangkau (reaching the unreached). Karena itu, Pendidikan Nonformal (PNF) seperti PKBM menjadi solusi strategis, terutama bagi siswa dengan kebutuhan khusus seperti atlet yang memerlukan fleksibilitas waktu belajar.

“PKBM itu sederhana dan memudahkan. Yang penting ada ruang belajar representatif, tutor, kurikulum, dan ijazah yang sah,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya mengangkat pendidikan informal sebagai bagian dari ekosistem pendidikan Muhammadiyah, serta memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, termasuk dalam layanan pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Menutup arahannya, Abdul Mu’ti berharap Rakornas menjadi ajang saling mengasah, berbagi pengalaman, dan memperkuat jejaring dalam melakukan tajdid pendidikan.

“Semoga Rakornas ini memperkuat peran nyata Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun generasi yang hebat dan kuat,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *