BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah: Perbedaan Awal Ramadan Harus Disikapi Cerdas

51
×

Muhammadiyah: Perbedaan Awal Ramadan Harus Disikapi Cerdas

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak umat Islam, terutama di Indonesia untuk saling menghormati perbedaan dalam menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah.

Dia mengatakan, tidak hanya di Indonesia, penentuan awal Ramadan di seluruh dunia dapat terjadi perbedaan. Hal tersebut merupakan hal yang lumrah, mengingat umat Islam tak memiliki satu kalender tunggal.

“PP Muhammadiyah meminta agar perbedaan waktu awal Ramadan disikapi secara cerdas dan tasamuh,” kata Haedar dalam siaran pers sebagaimana dikutip dalam laman resmi PP Muhammadiyah pada Selasa, 17 Februari 2026.

Sikap cerdas dan tasamuh tersebut, kata dia, menjadi ruang ijtihad yang mestinya tak perlu lahir rasa saling menyalahkan satu sama lain, maupun merasa paling benar di antara yang lainnya.

Ia mengingatkan tujuan puasa sebagai upaya peningkatan taqwa, baik untuk pribadi maupun kolektif. Karenanya, PP Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk lebif berfokus pada hal yang lebih substantif. “Perbedaan harus disikapi dengan arif dan bijaksana,” ujar Haedar.

Adapun dalam maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/1.0/E/2025 tentang Penetapan Hisab Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah 1447 Hijriah bertarikh 22 September 2025, ditetapkan 1 Ramadan jatuh pada 18 Februari 2026.

Dalam maklumat tersebut dijelaskan, pada saat matahari terbenam di hari ijtimak, sebelum pukul 24.00 UTC tidak ada satu wilayah pun di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1.

PKG 1 yang dimaksudkan, yakni tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat sebelum masuk pukul 24.00 UTC. Namun, penerapan KHGT dilanjutkan dengan memeriksa PKG 2.

Pemeriksaan hisab membuktikan setelah pukul 24.00 UTC, terdapat wilayah di daratan Amerika, tepatnya di koordinat 56°48’49″ Lintang Utara dan 158°51’44″ Bujur Barat.

Pada koordinat tersebut ditemukan wilayah yang telah memenuhi syarat dengan tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat, sementara waktu ijtimak tercatat sebelum fajar di New Zealand.

Dengan demikian, berdasarkan prinsip kesatuan matlak global, 1 Ramadan 1447 hijriah ditetapkan berlaku serentak di seluruh dunia pada 18 Februari 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *