Jakarta, panjimas – Kader maupun aktivis muda Muhammadiyah diharapkan tidak ‘fomo’ (Fear Of Missing Out) dalam Bermuhammadiyah, identitas otentik Muhammadiyah jangan ditinggalkan dan diganti dengan trend.
Pesan itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah, Zulfikar Ahmad Tawalla pada Jum’at (6/3) dalam Kajian Menjelang Berbuka di Masjid KH. Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Zulfikar menemukan, di beberapa masjid yang dikelola oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) kerap menggunakan istilah-istilah yang secara simbolik lebih dekat kepada kelompok tertentu.
“Terminologi-terminologi Islam kita di Muhammadiyah ini sering fomo dengan kondisi-kondisi mayoritas,” ungkap Zulfikar.
Menurutnya, simbol-simbol di ruang publik tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab dari simbol itu menunjukkan ideologi maupun pandangan keagamaan yang dianut atau dipraktikkan.
Pada kesempatan ini Zulfikar menyampaikan pentingnya ilmu bagi seorang kader maupun aktivis AMM. Sehingga kader dalam prosesnya bisa menjadi figur ulama intelektual dan intelektual yang ulama.
Setelah berilmu, imbuhnya, kader AMM tidak boleh berhenti pada tahapan teori dan normatif semata, melainkan ketika sudah berilmu harus juga mengamalkannya. Sebab hal itu yang menjadi ciri khas warga Muhammadiyah.
“Terminologi alim bagi Muhammadiyah itu adalah orang yang pintar, yang melepas kebodohan. Itu terminologi alim menurut orang-orang Muhammadiyah,” tuturnya.
Mengutip Imam Syafii, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah sekaligus Wamen ini menambahkan, selain ilmu dan amal, yang perlu untuk dimiliki kader AMM adalah adab. Sehingga dengan ilmunya dia tetap rendah hati.
Kader AMM jangan merasa pintar kemudian semua orang hendak dilawan. Bahkan guru-guru SMA nya yang dahulu mendidiknya semasa sekolah di kampung pun didebatnya karena ingin menunjukkan kebolehannya atau menyombongkan diri.













