Jakarta, panjimas – Syawal adalah bulan peningkatan baik kualitas iman maupun takwa dan amal shalih setelah Ramadhan, sekaligus menjadi jembatan untuk menjaga konsistensi atau istiqamah dalam ibadah ketika paska Ramadhan.
Disebut sebagai bulan peningkatan, Syawal juga berarti merupakan motivasi kepada umat Islam untuk tidak menurun semangat ibadahnya, melainkan meningkat terus. Termasuk diantara yang meningkat itu adalah ibadah puasa, tadarus, sedekah, dll.
Hal itu seperti yang disampaikan oleh Sekjen MUI, Dr Amirsyah Tambunan selaku Khotib sholat Jumat di Masjid Arrahman Rumah Sakit Islam (RSI) Cempaka Putih, Jakarta pada hari Jum’at (3/4/26).
Buya Amirsyah selaku Khotib juga menyampaikan soal peningkatan kesehatan fisik dan mental untuk mempertahankan ketaatan yang telah dilatih selama bulan Ramadhan, seperti Qiyamul lail, membaca Al-Quran, dan sedekah. “Menerapkan hasil didikan Ramadhan dengan bekerja lebih baik, ikhlas, dan menjaga silaturahmi, sebagaimana diulas pada momen bulan syawal untuk mempererat silaturahmi dan saling memaafkan,” ungkapnya dihadapan seluruh jamaah sholat jumat di Masjid tersebut.
Lebih lanjut Buya Amirsyah juga menguraikan lebih detail lagi tentang pesan Allah SWT dalam Qs.Ali Imran ayat 133:
۞ وَسَارِعُوۡۤا اِلٰى مَغۡفِرَةٍ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالۡاَرۡضُۙ اُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِيۡنَۙ ١٣٣
Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.
Untuk memperkuat kesehatan fisik dan mental merupakan bagian penting dari kesehatan mental-spritual. Karena orang yang beban dosa besar, akan merasakan beratnya beban mental. Beban mental merupakan akumulasi pekerjaan kognitif dan emosional yang berlebihan menyebabkan tugas yang ditanggung seseorang semakin berat.
Ini mencakup tekanan psikologis dari tuntutan tugas, baik di rumah maupun di tempat kerja, yang melebihi kapasitas mental, menyebabkan stres, kelelahan, dan penurunan kinerja.
Disilah penting menjaga, merawat kesehatan melaui iyuran BPJS dengan prinsip gotong royong atau ta’awun (تعاون) disebut sebagai sikap saling menolong, saling membantu dalam kebajikan dan ketakwaan.
“Konsep ini didasarkan pada ajaran Al-Qur’an (QS. Al-Maidah: 2) untuk bahu-membahu dalam kebaikan, namun dilarang dalam perbuatan dosa atau maksiat. Penelitian menunjukkan bahwa kesehatan fisik dan mental,” tandasnya
Kesehatan Fisik dan Mental
Kesehatan fisik dan mental bagaikan dua sisi mata uang saling bergantung dan sama pentingnya untuk mencapai kesejahteraan hidup yang utuh. Gangguan fisik berupa stres/depresi dapat memperburuk kondisi fisik, begitu pula sebaliknya.
“Menjaga keseimbangan keduanya memerlukan pola makan bergizi, tidur cukup, olah raga teratur, dan pengelolaan stres dengan dzikir kepada Allah,” pungkasnya.













