BeritaCitizenInternasionalNasionalNewsOpini

Ekonomi Syariah dan Peran Strategis Pesantren

5

Penulis : Khariri Makmun

(Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat & Pengasuh Pesantren Algebra, Ciawi, Bogor)

“Jika ribuan pesantren bergerak serentak membangun usaha, koperasi, wakaf produktif, dan pelatihan santri, maka umat tidak hanya selamat dari tekanan ekonomi—tetapi bangkit menjadi kekuatan ekonomi baru Indonesia.”

 

Di tengah tekanan ekonomi global dan domestik, Indonesia sedang memasuki fase yang tidak ringan. Nilai tukar rupiah tertekan, harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja formal tidak tumbuh secepat kebutuhan angkatan kerja, utang rumah tangga melalui pinjaman online meningkat, dan kelas menengah mulai tergerus daya belinya. Situasi ini jika dibiarkan akan melahirkan jurang sosial yang semakin lebar: segelintir kelompok sangat kaya dan mayoritas masyarakat rentan miskin.

 

Dalam konteks seperti ini, umat Islam tidak cukup hanya menjadi penonton keadaan. Diperlukan ikhtiar nyata berbasis nilai, kelembagaan, dan gerakan ekonomi yang kuat. Di sinilah ekonomi syariah dan pesantren memiliki peran strategis. Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan agama, tetapi juga bisa menjadi pusat pemberdayaan ekonomi rakyat.

 

Salah satu problem utama masyarakat hari ini adalah pola ekonomi konsumtif berbasis utang. Banyak keluarga bertahan hidup dengan cicilan, paylater, kartu kredit, hingga pinjaman online. Pendapatan habis sebelum bulan berganti. Ketika ada musibah sakit atau kehilangan pekerjaan, ekonomi rumah tangga langsung runtuh.

 

Dalam perspektif ekonomi Islam, sistem ekonomi yang terlalu bertumpu pada utang konsumtif adalah tanda rapuhnya struktur kesejahteraan. Islam menekankan produktivitas, keadilan distribusi, dan larangan eksploitasi finansial. Karena itu solusi tidak cukup dengan bantuan tunai sesaat, tetapi harus membangun sistem ekonomi yang sehat dan berkelanjutan.

 

Indonesia memiliki ribuan pesantren dengan jutaan santri, jaringan alumni luas, basis sosial kuat, dan kepercayaan masyarakat tinggi. Ini adalah modal besar yang belum sepenuhnya dioptimalkan. Jika dikelola serius, pesantren bisa menjadi episentrum kebangkitan ekonomi rakyat.

 

Pesantren memiliki tiga kekuatan utama.

 

Pertama, kekuatan moral. Pesantren mampu menanamkan etika kerja, kejujuran, amanah, dan hidup sederhana. Ini fondasi penting ekonomi sehat.

 

Kedua, kekuatan sosial. Pesantren punya jamaah, wali santri, alumni, dan masyarakat sekitar yang bisa menjadi ekosistem pasar.

 

Ketiga, kekuatan SDM. Santri muda adalah tenaga produktif yang bisa dilatih kewirausahaan, teknologi digital, pertanian modern, dan manajemen usaha.

 

Jika tiga kekuatan ini digerakkan, pesantren tidak hanya mencetak dai, tetapi juga pencetak pelaku ekonomi umat.

 

Ketika kondisi ekonomi nasional semakin tidak kondusif, langkah apa yang harus dilakukan Pesantren ?

 

5 Langkah Strategis Menghadapi Tekanan Ekonomi

 

1. Bangun Unit Usaha Produktif Pesantren

 

Pesantren harus mulai berpindah dari model bertahan hidup menuju model produktif. Setiap pesantren idealnya memiliki minimal satu usaha unggulan sesuai potensi daerah: pertanian, peternakan, air minum, koperasi sembako, bakery, percetakan, konveksi, digital marketing, atau produk herbal.

 

Jangan semua pesantren meniru bisnis yang sama. Pilih sektor yang realistis, dibutuhkan pasar, dan sesuai kemampuan pengelola.

 

Keuntungan usaha bisa menopang operasional pendidikan, beasiswa santri, dan kesejahteraan guru.

 

2. Bentuk Koperasi Syariah Pesantren

 

Koperasi syariah adalah alat paling relevan untuk melawan jeratan rentenir dan pinjol. Santri, alumni, wali santri, dan masyarakat bisa menjadi anggota. Dana dihimpun secara sehat lalu disalurkan untuk pembiayaan usaha kecil berbasis akad syariah seperti murabahah, mudharabah, atau musyarakah.

 

Jika satu pesantren memiliki koperasi kuat, masyarakat sekitar tidak perlu lari ke pinjaman berbunga tinggi.

 

3. Digitalisasi Ekonomi Pesantren

 

Banyak produk pesantren bagus, tetapi kalah pemasaran. Karena itu digitalisasi wajib dilakukan. Santri harus diajarkan desain grafis, marketplace, pemasaran media sosial, administrasi keuangan digital, dan branding produk.

 

Pesantren masa depan bukan hanya punya kitab kuning, tetapi juga punya studio konten, toko online, dan sistem kas modern.

 

Gabungan ilmu agama dan literasi digital akan melahirkan generasi santri yang relevan dengan zaman.

 

4. Kemandirian Pangan Pesantren

 

Saat harga pangan naik, lembaga pendidikan sering ikut terpukul. Karena itu pesantren perlu mengembangkan lahan produktif: sayur mayur, perikanan, ayam petelur, atau kebun buah. Minimal untuk menopang kebutuhan dapur internal.

 

Kemandirian pangan mengurangi beban biaya operasional sekaligus menjadi laboratorium bisnis nyata bagi santri.

 

Kemandirian pangan akan mengurangi ketergantungan pada pasar. Saat sebagian kebutuhan dapur dipenuhi sendiri, pesantren tidak terlalu terdampak gejolak harga. Anggaran belanja harian bisa dihemat dan dialihkan untuk beasiswa santri, peningkatan fasilitas, atau kesejahteraan guru. Jika hasil panen berlebih, produk juga bisa dijual ke masyarakat sekitar.

 

Program ini juga menjadi sarana pendidikan praktis bagi santri. Mereka belajar bertani, beternak, mengelola usaha, mencatat keuangan, dan memasarkan produk. Santri tidak hanya paham teori, tetapi juga memiliki keterampilan hidup. Dari sini, pesantren bisa menjadi pusat pendidikan sekaligus pusat pemberdayaan ekonomi umat.

 

5. Gerakan Wakaf Produktif

 

Selama ini wakaf di masyarakat sering dipahami sebatas tanah makam, masjid, atau bangunan fisik yang manfaatnya bersifat pasif. Padahal, dalam perspektif ekonomi Islam, wakaf memiliki potensi jauh lebih besar sebagai instrumen pembangunan ekonomi umat. Aset wakaf dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan yang terus mengalir dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.

 

Wakaf produktif bisa diwujudkan dalam bentuk ruko, kebun, gudang, minimarket, rumah sewa, lahan pertanian, atau pusat pelatihan keterampilan. Keuntungan dari pengelolaan aset tersebut kemudian digunakan untuk kepentingan sosial. Dengan model ini, wakaf tidak hanya diam sebagai aset, tetapi bergerak sebagai kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.

 

Hasil wakaf produktif dapat menopang pendidikan gratis, layanan kesehatan, beasiswa santri, hingga pembiayaan UMKM umat. Jika dikelola secara profesional, transparan, dan modern, wakaf bisa menjadi solusi nyata mengurangi kemiskinan dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Inilah salah satu instrumen ekonomi Islam yang sangat strategis untuk masa depan.

 

Apa yang Harus Dilakukan Umat Islam?

 

Di tingkat rumah tangga, umat Islam perlu mengubah orientasi ekonomi:

 

* Kurangi utang konsumtif.

* Bedakan kebutuhan dan gengsi.

* Bangun dana darurat.

* Mulai usaha kecil keluarga.

* Belanja produk umat dan UMKM lokal.

* Ikut koperasi syariah yang sehat.

* Investasi pada pendidikan keterampilan anak.

 

Umat juga perlu kembali memahami bahwa keberkahan ekonomi lahir dari disiplin, kejujuran, kerja keras, dan pengelolaan harta yang benar. Bukan dari gaya hidup pamer.

 

Selain masyarakat yang harus mengubah orientasi ekonomi, negara juga harus mengambil peran yang tepat.

Negara harus hadir mendorong pesantren menjadi pusat ekonomi baru. Bentuknya bisa melalui:

 

* akses pembiayaan murah,

* pelatihan manajemen usaha,

* sertifikasi halal,

* pendampingan digital,

* kemitraan BUMN,

* prioritas pengadaan produk pesantren.

 

Jika negara serius, pesantren bisa menjadi mesin ekonomi rakyat yang tersebar hingga desa-desa.

 

Tekanan ekonomi hari ini nyata. Namun bagi umat Islam, krisis tidak selalu berarti kehancuran. Krisis bisa menjadi momentum koreksi arah. Ketika model ekonomi konsumtif rapuh, saatnya kembali pada ekonomi produktif berbasis nilai.

 

Pesantren memiliki semua syarat untuk menjadi benteng kemandirian umat: jaringan, kepercayaan, SDM, dan moralitas. Tinggal kemauan untuk berubah dari sekadar pusat pendidikan menjadi pusat peradaban ekonomi.

 

Jika ribuan pesantren bergerak serentak membangun usaha, koperasi, wakaf produktif, dan pelatihan santri, maka umat tidak hanya selamat dari tekanan ekonomi—tetapi bangkit menjadi kekuatan ekonomi baru Indonesia.

Exit mobile version