BeritaMUINasionalNews

Sekjen MUI Bicara Soal Dakwah kepada Generasi Muda Agnostik

19

Jakarta, panjimas – Dakwah kepada anak muda agnostik memerlukan pendekatan yang lebih personal, logis, dan inklusif daripada sekadar penyampaian materi agama secara tradisional. Karena agnostisisme sering kali berakar pada keraguan intelektual atau ketidakpuasan terhadap institusi agama, strategi yang efektif harus berfokus pada dialog dua arah.

Hal itu pula yang menjadi tema pembahasan dialog antara Sekjen MUI, buya Amirsyah Tambunan saat diwawancarai dalam tayangan podcast MUI TV pada hari Selasa,(5/5/26).

Buya Amirsyah Tambunan mengajak seluruh komponen masyarakat seperti keluarga, orang tua, guru, pendakwah dan ulama untuk menjadi pendengar yang baik bagi anak muda saat ini cenderung ingin didengar daripada terus-menerus diceramahi. Berikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan keraguan, pertanyaan, atau trauma mereka terhadap agama tanpa langsung menghakimi atau mengoreksi.

Buya juga menyitir Nash ayat dalam Quran yang terdapat dalam Surat An-Nisa : Ayat 9, yang berbunyi : وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ

Artinya: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya…”

“Di MUI kita sudah melahirkan banyak para juru dakwah yang sudah lulus sertifikasi da’i sehingga diharapkan untuk terus bergerak dan memaksimalkan aktivitas dakwah di masyarakat, termasuk kepada segmen anak-anak muda yang mulai menyukai faham agnostik seperti yang berkembang saat ini,” ujar Buya Amirsyah.

 

Kelompok agnostik biasanya sangat menghargai rasionalitas. Dalam berdiskusi, hindari hanya menggunakan dalil teks suci (seperti ayat Al-Quran atau Hadis) sebagai otoritas tunggal jika mereka belum mengimaninya.

 

Gunakan logika tentang keteraturan alam semesta sebagai bukti adanya pencipta atau diskusikan tentang keberadaan Allah secara filosofis.

 

“Kita juga harus bisa mengkampanyekan pembatasan gadget di bawah usia 16 tahun dari pengaruh negatif gadget yang saat ini sudah tidak bisa terbendung lagi,” pungkas Buya Amirsyah.

Exit mobile version