BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Harus Hadir sebagai Penyeimbang Peradaban di Tengah Kompleksitas Zaman

17
×

Muhammadiyah Harus Hadir sebagai Penyeimbang Peradaban di Tengah Kompleksitas Zaman

Sebarkan artikel ini

Muhammadiyah harus hadir sebagai penyeimbang peradaban di Tengah Kompleksitas Zaman

CIREBON, panjimas – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa Muhammadiyah dalam kemajuannya di abad ini didasari dengan spirit kerja nyata, pengabdian, dan semangat perubahan yang terus hidup dalam kepribadian dan amal nyatanya.

 

“Itulah Muhammadiyah. Kalau dinarasikan ke dalam buku mungkin bisa berjilid-jilid. Tapi kita bisa saksikan di UM Cirebon, dan PTMA lainnya, Rumah Sakit Muhammadiyah, Sekolah-sekolah Muhammadiyah, semuanya menjadi saksi dari ciri bangsa dan negara yang maju,” jelas Haedar dalam acara pengajian sekaligus groundbreaking Gedung KH Ahmad Dahlan Tower 20 Lantai Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) pada Kamis (7/5).

 

Mengutip pepatah arab, “Lisanul Hal Afsahu Min Lisanil Maqal” yang berarti perbuatan itu jauh lebih valid, daripada ucapan. Haedar menekankan bahwa Muhammadiyah memiliki ciri khas pergerakan yang lebih dari sekadar perkataan, namun banyak berbuat melalui tindakan.

 

“Berjuta-juta kalimat bisa kita ungkapkan lewat tulisan, lewat podium, bahkan dengan kata-kata terindah yang mungkin bisa memukau siapapun. Tapi kata-kata ya hanya sebatas kata-kata jika tanpa perbuatan nyata,” tegas Haedar.

 

Maka, dalam pengimplementasiannya, Haedar juga menekankan bahwa Muhammadiyah harus terus meninggalkan jejak hidup yang baik untuk kemaslahatan bangsa dan bernegara.

 

“Ingatan adalah memori yang terburuk. Tetapi perbuatan itu akan terus hadir ditengah kita sampai kapanpun. Maka, ketika jejak hidup itu baik, maka akan dikenang baik selamanya. Begitupun jika keburukan itu dilakukan, maka keburukan itu jugalah yang akan diingat,” ucapnya.

 

Kekuatan Inner Dynamic Muhammadiyah yang Terus Hidup

Berlandaskan hal di atas, Haedar kemudian menjelaskan lebih jauh bahwa Muhammadiyah memiliki karakter realistis dan empirik yang bertumpu kepada nilai dasar gerakan. Baginya, Muhammadiyah dalam bergerak sangat memiliki etos kerja yang tinggi, bahkan hingga melampauinya. Sehingga, ia sebut itu dengan spirit “kecanduan bekerja”.

 

“Muhammadiyah ini punya etos kerja tinggi, bisa dibilang etos kerja Muhammadiyah itu adalah kecanduan bekerja. Inilah filosofi Muhammadiyah yang hidup dalam diri kita yaitu sedikit bicara, banyak bekerja,” katanya.

 

Ia menilai, hadirnya etos kerja ini didasari dengan kekuatan dari dalam (inner dynamic) dari setiap warganya. Dengan begitu, ia berpesan bahwa kekuatan ini harus terus dirawat, dikembangkan, dan dijaga bersama dengan dasar niat yang ikhlas, tulus, lillahi ta’ala.

 

“Bagai magma di gunung berapi, spirit ini akan terus keluar. Bahwa orang, kelompok yang sudah punya inner dynamic tinggi, mereka akan selalu menghasilkan perubahan, karya, amal jariyah yang terus menerus,” tegas Haedar.

 

“Maka rawatlah, tumbuh kembangkan, jaga, suburkan inner dynamic dari diri kita yang dasarnya dari bekerja, berbuat, dengan berniat diri, ikhlas, lillahi ta’ala,” tambahnya.

 

Berkhidmat dan Mengabdi di Muhammadiyah, Hadirkan Peradaban Alternatif

Selain etos kerja yang tinggi, Haedar juga menekankan pentingnya berkhidmat dan pengabdian dalam bermuhammadiyah. Ia menjelaskan, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah adalah organisasi nirlaba atau yang berlandaskan kepada kerelawanan. Maka dari itu, sejak lama kekuatan besar Muhammadiyah dibangun atas dasar penyebaran dakwah, tajdid, dan semangat Al Ma’un.

 

Haedar menyebut, kokohnya Muhammadiyah, keberhasilan Muhammadiyah dan begitu banyaknya warga Muhammadiyah dengan berbagai jenis profesinya, tidak tercapai tanpa adanya pengkhidmatan yang tinggi dan kesungguhan dalam bekerja.

 

“Besar dimulai dari kecil, tinggi dimulai dari rendah, perjalanan panjang dimulai dari titik nol. Tidak ada yang instan,” ucap Haedar.

 

Maka dari itu, proses perlu dilandasi dengan kesabaran yang tinggi. Haedar menyoroti bahwa ajaran tentang bersabar ini telah diwariskan sejak lama oleh pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan.

 

“Di zaman Ahmad Dahlan, Masjid dibakar, bikin garis kiblat ditentang, bikin sekolah dikafirkan. Tapi Kyai Dahlan menghadapinya dengan sabar. Akhirnya dengan spirit Kyai Dahlan, Kauman berubah dari kampung jahiliyah menjadi kampung yang Al Madinah, Al Munawwarah,” tuturnya.

 

Terakhir, Haedar mengajak warga Muhammadiyah untuk bersama-sama memasuki era baru dan menghadirkan peradaban alternatif di tengah kompleksitas duniawi. Dengan menghadirkan peradaban alternatif dan ikhtiar mengelola sumber daya yang berkeadaban dan maslahat, Haedar meyakini bahwa kedepan Muhammadiyah kian hadir sebagai agen kemajuan dan penyeimbang peradaban.

 

“Kehadiran Muhammadiyah bukan hanya untuk Muhammadiyah, tetapi Muhammadiyah hadir untuk umat dan bangsa. Maka warga Muhammadiyah perlu terus dinamis, proaktif untuk bangsa dan negara ini. Jika ingin menghadirkan kualitas yang baik, tidak boleh terus berada di zona nyaman,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *