BeritaMuhammadiyahNasionalNews

PP Muhammadiyah Tegaskan Efisiensi Jadi Gaya Hidup Islami

20
×

PP Muhammadiyah Tegaskan Efisiensi Jadi Gaya Hidup Islami

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas –  Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi mengeluarkan Surat Edaran tentang Efisiensi dan Budaya Hidup Hemat yang menekankan pentingnya efisiensi sebagai prinsip berkelanjutan, tidak hanya dalam konteks organisasi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari umat.

 

Sekretaris PP Muhammadiyah, Muhammad Izzul Muslimin di Jakarta dalam keterangannya pada Senin (11/5/2026), menjelaskan, Surat Edaran itu bukan hanya respons terhadap kondisi krisis global seperti konflik Iran-Amerika atau Zionis Israel-Palestina yang berdampak pada ekonomi dan harga BBM.

 

Dalam arahannya, Izzul Muslimin menyampaikan tentang filosofi efisiensi sebagai bagian integral dari ajaran Islam, khususnya konsep qana’ah (mencukupkan diri).

 

Upaya efisiensi tersebut diharapkan tidak hanya diterapkan di lingkungan kantor, tetapi juga di rumah masing-masing individu.

 

“Hal ini berarti memanfaatkan sumber daya yang ada secara optimal tanpa berlebihan, namun juga tidak sampai pada tingkat kekurangan yang menghambat produktivitas,” katanya.

 

Efisiensi sebagai Nilai Islam Berkelanjutan

Penekanan pada efisiensi dalam edaran itu bukan semata langkah administratif, melainkan bagian dari internalisasi nilai-nilai Islam dalam tata kelola organisasi modern.

 

Konsep qana’ah yang diangkat menjadi landasan etik, mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan dan kebermanfaatan.

Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian, mulai dari konflik geopolitik hingga fluktuasi energi, Muhammadiyah memandang efisiensi sebagai jalan tengah yang strategis, yaitumenjaga keberlanjutan tanpa mengorbankan produktivitas.

 

Tiga Area Utama Penghematan

Surat edaran tersebut merinci sejumlah area utama yang menjadi fokus efisiensi, dengan pendekatan berbasis data dan kondisi riil operasional di Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta.

 

Pertama, penggunaan kendaraan dan BBM. Penggunaan mobil diesel akan dibatasi sementara waktu.

 

Hal tersebut disebabkan oleh masalah teknis terkait penggunaan biodiesel bersubsidi, serta biaya tinggi untuk bahan bakar non-subsidi seperti Pertamina Dex.

 

Prioritas akan diberikan pada penggunaan kendaraan non-diesel. Namun, jika tidak ada alternatif, mobil diesel tetap dapat digunakan.

 

Kedua, konsumsi listrik. Analisis menunjukkan bahwa rata-rata penggunaan listrik bulanan berada di kisaran 30 juta Rupiah, dengan puncak mencapai 39 juta Rupiah pada November 2025.

 

Peningkatan signifikan itu diduga karena penggunaan 10 unit AC di area basement. Strategi penghematan listrik akan dikembangkan untuk mengurangi beban biaya ini.

 

Sebagai perbandingan, penggunaan listrik terendah tercatat pada bulan Maret, sekitar 27 juta Rupiah, kemungkinan karena libur Idul Fitri.

 

Ketiga, penggunaan pendingin ruangan (AC). Salah satu langkah konkret untuk menghemat listrik adalah dengan mengatur suhu AC. Disarankan untuk menyepakati standar suhu AC yang efisien.

 

ebagai contoh, pembicara menyebutkan bahwa ia pribadi menggunakan suhu 24 derajat Celsius di rumahnya karena tidak terlalu menyukai AC yang terlalu dingin.

Dorongan Perubahan Perilaku Kolektif

Lebih dari sekadar kebijakan teknis, Surat Edaran itu juga menyasar perubahan perilaku seluruh elemen organisasi.

 

Efisiensi ditegaskan sebagai budaya bersama yang harus dihidupkan oleh Staf UPP PP Muhammadiyah, Staf Ortom Tingkat Pusat, serta seluruh karyawan yang berkantor di Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta.

 

Beberapa poin penting dalam edaran tersebut antara lain menghemat air, listrik, dan energi di setiap kantor, gedung, dan perumahan. Selain itu, mendorong gaya hidup yang cukup, sehat, bersih, dan produktif.

 

Langkah tersebut menandai pergeseran pendekatan dari sekadar regulasi menuju pembentukan habitus, budaya hidup hemat yang melekat dalam keseharian.

 

Landasan Teologis Larangan Berlebihan dalam Islam

Sementara itu, Kepala Kantor PP Muhammadiyah Jakarta, Hefina Chairan menegaskan kebijakan efisiensi itu memiliki dasar teologis kuat dalam Islam.

 

Ia menyebutkan prinsip efisiensi sangat selaras dengan pesan dalam QS. Al-Araf 31 yang menekankan pentingnya moderasi serta larangan bersikap berlebihan dalam kehidupan.

 

Dengan demikian, efisiensi tidak hanya dimaknai sebagai langkah ekonomis, tetapi juga sebagai bentuk ketaatan spiritual dan tanggung jawab moral.

 

Dari Kantor ke Rumah, Efisiensi sebagai Gerakan

Edaran tersebut secara implisit mengajak seluruh warga Muhammadiyah, bahkan masyarakat luas, untuk menjadikan efisiensi sebagai gerakan kolektif.

 

Dari penggunaan energi, pola konsumsi, hingga gaya hidup, semua diarahkan pada prinsip kebercukupan yang produktif.

 

Di tengah tekanan ekonomi global dan tantangan keberlanjutan, langkah Muhammadiyah ini menjadi contoh bagaimana nilai agama dapat diterjemahkan menjadi kebijakan konkret yang relevan dan berdampak luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *