Sumbar, panjimas – Danau Maninjau menjadi salah satu favorit wisata lokal yang menjadi legenda wisata bagi masyarakat sumatera Barat bahkan Asia Tenggara.
Demikian disampaikan buya Amirsyah Tambunan selaku pemerhati budaya & kearifan lokal yang sekaligus sebagai Sekjen MUI saat kunjungan ke Danau Maninjau seusai acara Tabligh Akbar dan acara serah terima Tanah Wakaf di PCM Tanjung Raya, Maninjau, Kab.Agama pada hari Sabtu (30/5/26).
Hal ini menarik sebab bukan hanya karena pemandangan alamnya saja, tapi juga warisan budayanya dan secara historis adalah danau ini terbentuk dari letusan gunung berapi purba yang diperkirakan terjadi puluhan ribu tahun lalu melalui proses kaldera vulkanik gunung berapi.
Secara geografis danau ini memiliki kedalaman maksimum mencapai 165 meter, yang terjadi kaldera dan berada di ketinggian sekitar 461 meter di atas permukaan laut dengan luas permukaan sekitar 99 kilometer yang persegi berada di daerah Maninjau Kab.Agam Sumbar.
Kawasan ini sangat populer sebagai destinasi wisata alam yang tenang dan indah. Untuk itu buya Amirsyah mengajak untuk menjaga stabilitas ekonomi lokal dan merencanakan perjalanan untuk melihat objek wisata ini dengan cara mencari informasi melalui situs Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Agam, Sumatra Barat.
Menjaga Stabilitas Wisata Lokal
Wisata lokal melihat kembali kearifan lokal yakni pandangan hidup, nilai-nilai, dan pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun oleh suatu masyarakat.
Hal ini menjadi pandangan dan tuntunan dalam bersikap, mengelola lingkungan, dan memecahkan masalah sehari-hari secara bijaksana sesuai dengan kondisi wilayah setempat.
Untuk menelaah lebih dalam, berikut aspek-aspek utama kearifan lokal; pertama, berwujud nyata (Tangible) sejumlah artefak atau bentuk fisik, seperti bangunan tradisional, pakaian adat (batik/tenun), senjata, dan naskah kuno; kedua, tidak berwujud (Intangible).yakni tradisi yang diturunkan secara lisan berupa nyanyian, petuah, pantun, aturan adat (pantangan), cerita rakyat, hingga sistem nilai sosial yang membuat masyarakat lepas dari kegalauan akibat kondisi ekonomi nasional dan lokal.
Karena itu kearifan lokal di era modernisasi dan globalisasi adalah nilai-nilai luhur dan tradisi budaya yang berfungsi sebagai filter dan identitas.
Di tengah derasnya arus perubahan global, kearifan lokal justru menjadi solusi budaya asing yang hedonis sekaligus fondasi moral agar masyarakat tidak kehilangan jati diri bangsa salah satunya melalui wisata ke Museum Buya Hamka dan Rumah wisata AR Sutan Mansur sei Batang Maninjau untuk menjaga stabilitas ekonomi lokal.
