ARAB SAUDI, panjimas – Setelah seluruh proses atau rangkaian ibadah haji selesai, jemaah haji Muhammadiyah 1447 H dijamu Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Arab Saudi pada (2/ 6) di Makkah.
Temu Haji Muhammadiyah 1447 H ini mengangkat tema “Dari Tanah Suci Mencerahkan Negeri” dihadiri Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Fathurrahman Kamal, Ketua Lembaga Pembinaan Haji dan Umroh PP Muhammadiyah Muhammad Ziyad, Ketua PP ‘Aisyiyah Rohimi Zamzam, serta Wamenhaj Dahnil Anzar, dan lain-lain.
Muhammad Ziyad dalam sambutannya mengapresiasi pelayanan yang diterima jemaah haji, khususnya untuk konsumsi dan transportasi yang menurutnya kualitas lebih baik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Dia menerangkan, bahwa untuk periode haji 1447 H ini dari Kelompok Bimbingan Haji dan Umroh (KBIHU) Muhammadiyah-’Aisyiyah ada sebanyak 12.500 jemaah haji yang berangkat.
“Bapak-bapak dan ibu-ibu ini mewakili beliau-beliau itu yang tersebar di sepuluh sektor dan sekitar 250 hotel yang tersebar,” ungkapnya.
Dirinya juga mengapresiasi sarana yang Temu Haji Muhammadiyah diwadahi oleh PCIM Kerajaan Arab Saudi ini. Menurutnya ini sekaligus sebagai ajang pemantapan sebelum jemaah haji Muhammadiyah kembali ke tanah air.
Hal senada juga disampaikan perwakilan jemaah haji Muhammadiyah, sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Klaten (UMUKA), Sukamta. Terlebih dengan adanya forum seperti ini, warga Muhammadiyah serasa di rumah sendiri.
“Semoga sepulang haji nanti kita semua, kami semua, bapak dan ibu benar-benar menjadi manusia yang kehadirannya membawa kebaikan, membawa kedamaian, dan juga membawa kemajuan umat termasuk Persyarikatan,” ungkapnya.
Pihaknya juga mengapresiasi peran Persyarikatan Muhammadiyah yang bisa dirasakan, tidak hanya di Indonesia saja, tapi juga di Tanah Suci. Ini menunjukkan peran nyata Muhammadiyah untuk umat secara global.
Sukamta juga berharap kebaikan-kebaikan, termasuk menahan amarah dan nafsu yang dilakukan jemaah haji selama di Tanah Suci bisa juga diterapkan di kehidupan pasca prosesi ibadah haji, sehingga haji itu membekas dan tentu harapannya menjadi haji yang mabrur.
Sementara itu, Wamenhaj, Dahnil Anzar mengapresiasi KBIHU Muhammadiyah-’Aisyiyah yang memposisikan jemaah haji sebagai subyek ibadah bukan objek. Sebab jika jemaah diposisikan sebagai objek, maka akan dilihat sebagai komoditas semata.
“Muhammadiyah, NU, Persis itukan perspektifnya bukan bisnis. Perspektifnya adalah jemaah, membimbing umat haji ini,” tuturnya.
Apresiasi juga dia sampaikan kepada Muhammadiyah yang ikut membantu kelancaran prosesi haji melalui KBIHUnya. Dia menegaskan, Kementerian Haji dan Umrah tidak anti KBIHU, sebab adanya institusi ini meringankan beban Kemenhaj
