BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Perkuat Pilar Ekonomi, Muhadjir: Dakwah Harus Melahirkan Kemandirian

15
×

Muhammadiyah Perkuat Pilar Ekonomi, Muhadjir: Dakwah Harus Melahirkan Kemandirian

Sebarkan artikel ini

PEKANBARU, panjimas – Dalam Muktamar 47 di Makassar, Muhammadiyah memancang pilar ekonomi sebagai arah gerak dakwah berkemajuan Muhammadiyah di masa kini dan nanti.

 

Menurut Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, seluruh gerakan dakwah Muhammadiyah untuk menegakkan pilar ekonomi tidak semata-mata untuk mencari keuntungan sepihak.

 

Di Puncak Milad ke-18 Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) pada Sabtu (27/6) di Pekanbaru, Muhadjir menjelaskan, pilar ekonomi yang ditegakkan Muhammadiyah berorientasi sociopreneur.

 

Muhadjir menambahkan, penegakkan pilar ekonomi Persyarikatan merupakan upaya penerjemahan api semangat Kiai Dahlan yang meletakkan dasar kemandirian dan pemikiran Islam Berkemajuan yang dipegang oleh Muhammadiyah.

 

Berbagai langkah telah dimulai, di antaranya adalah pendirian Pabrik Infus Suryavena di Malang. Selama ini dari 130 Rumah Sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah (RSMA) memakai produk infus dari luar.

 

Pabrik infus ini, kata Muhadjir, dibangun secara ‘urunan’ dalam bentuk saham oleh beberapa Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) dan RSMA. Sehingga keuntungan pabrik dapat dibagi secara adil.

 

“Semoga sebelum Muktamar 49 itu sudah berdiri pabriknya– kita kejar. Dan kapasitasnya sekitar 15 juta per tahun produksi,” katanya.

 

Direncanakan kapasitas produksi akan dinaikkan dua kali lipat, sebab ingin menjangkau rumah sakit maupun pelayanan kesehatan lainnya di luar jaringan RSMA.

 

“Intinya Muhammadiyah harus mengejar kemandirian,….. saat ini kita juga membangun mart, namanya boleh macam-macam, tapi yang diinisiasi oleh PP Muhammadiyah itu Mentarimu Mart,” ungkap Muhadjir.

 

Diharapkan model gerakan ekonomi ini dapat menyelamatkan produk-produk UMKM binaan Muhammadiyah. Sebab sampai saat ini masalah utama yang dihadapi kelompok dampingan UMKM Muhammadiyah adalah pasar.

 

Muhadjir melihat, selama ini produk UMKM dampingan Muhammadiyah memiliki kualitas yang sangat layak untuk bersaing. Akan tetapi karena keterbatasan pasar, akhirnya produk UMKM itu kerap terpinggirkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *