Panjimas – Tahun 2025, Albania membuat kebijakan cukup menarik, mengangkat Diella sebagai Menteri Pengadaan Publik. Ternyata Diella adalah sosok virtual sebagai “makhluk AI” yang disebut virtual AI minister. Tugas utamanya adalah mengawasi dan membantu mengambil keputusan dalam proses pengadaan barang dan jasa pemerintah untuk meminimalkan korupsi, kolusi, konflik kepentingan, dan manipulasi tender.
Ide “agak laen” Albania ini sebenarnya ekspresi sikap apatisme manusia kepada sesamanya. Kenapa? Karena Diella diyakini akan menjadi menteri yang jujur, transparan, dan berperilaku apa adanya karena berupa mesin. Mesin dipastikan tidak memiliki “hawa nafsu” untuk berbuat curang dalam pengadaan barang dan jasa. Betapa posisinya itu sangat diminati banyak orang, karena bisa menjadi lokus berbagai kepentingan ekonomi. Karena itu, diangkatlah AI agar “integritas” tetap dijaga.
Selain itu, tentu, Albania ingin mengadopsi perkembangan teknologi di mana teknologi berbasis kecerdasan buatan dianggap menarik dan mumpuni dalam mendukung tugas-tugas krusial menyangkut integritas moral yang sering dilanggar oleh manusia. Di sini jelas ada pergeseran peran di mana posisi manusia telah digantikan oleh teknologi canggih yang lebih menjanjikan, dan kecenderungan ini dipastikan semakin meluas.
Munculnya Diella sebagai menteri di pemerintahan Albania sebenarnya bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Sudah lama fenomena itu diprediksi para ahli akan benar-benar terjadi, di mana peran-peran manusia akan digantikan mesin (robot). Sebelumnya ada penyeru agama di Jepang bernama Mindar. Diluncurkan pada 2019 di sebuah kuil Buddha di Kyoto. Mindar dirancang menyerupai Bodhisattva Kannon yang diberi tugas menyampaikan khotbah serta ajaran Buddha, meski belum menggunakan AI generatif seperti saat ini.
Belakangan muncul sosok serupa bernama Buddharoid. Dia itu robot yang lebih baru yang diluncurkan tahun ini. Kehadiran Buddharoid dibuat berbasis AI generatif yang dilatih dan dididik dengan kitab-kitab suci Buddha sehingga dapat berdialog, menjawab pertanyaan tentang kehidupan, memberi nasihat spiritual, bahkan melakukan gestur seperti biksu saat berdoa. Robot ini dikembangkan oleh tim Kyoto University untuk mengatasi berkurangnya jumlah biksu di Jepang.
Hal sama belakangan ini ramai diperbincangkan di Indonesia. Yaitu munculnya ustadzah berparas cantik bernama Hajar, dengan lesung pipi yang menawan. Banyak orang “tertipu” karena sosoknya yang begitu identik seperti manusia. Keberadaannya cukup viral di TikTok dengan jumlah followers sekitar 1,1 juta. Penampilannya sangat menarik, ciamik, dan enak dilihat. Wajar adanya jika akun ustadzah virtual ini menarik banyak peminat.
Konon, setelah diketahui bahwa ustadzah Hajar itu ternyata AI banyak followers, khususnya cowok, yang kecewa. Meskipun tidak sedikit yang tetap setia karena ingin “menikmati” ceramahnya yang menyejukkan. Tidak peduli dia siapa, yang penting materi ceramahnya mengena untuk siraman ruhani di tengah kekeringan spiritual saat ini. Apalagi ada pepatah populer “undzur maa qaala walaa tandzur man qaala” (lihat apa yang disampaikan, bukan melihat siapa yang mengatakan).
Sebagai sebuah konsekuensi kehidupan yang serba mesin ini, hadirnya sosok ustadzah virtual bernama Hajar jelas menunjukkan bahwa teknologi kecerdasan buatan berkembang sangat pesat dan telah memasuki hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk ruang dakwah atau penasihatan nilai-nilai keagamaan.
Ini jelas-jelas menjadi tantangan sekaligus pengingat bagi umat beragama, khususnya masyarakat muslim agar semakin bijak dalam memanfaatkan teknologi. AI bekerja berdasarkan algoritma dan mengolah data yang tersedia di ruang digital. Karena itu, setiap informasi yang disampaikannya tetap harus disikapi secara kritis dan perlu dikroscek (di-tabayyun) kepada ahlinya.
Dalam tradisi Islam, mubaligh itu menjalankan tugas profetik sebagai pewaris para nabi (al-ulama waratsatul anbiyaa). Ilmu yang disampaikannya diperoleh melalui proses belajar yang berkesinambungan dengan guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. Karena itu, materi ceramah semestinya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, memiliki rujukan yang kuat, serta lahir dari pemahaman agama yang mendalam dan keteladanan moral. Dakwah bukanlah semata menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan hikmah, akhlak, dan tanggung jawab spiritual sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad saw.
Berbeda dengan mubaligh, AI tidak mengalami proses internalisasi ilmu maupun pembentukan karakter. AI hanya menghasilkan respons berdasarkan pola data yang tersedia, sehingga tetap memiliki potensi kekeliruan, bias, atau penyajian informasi yang keluar dari konteks. Selain itu, AI bukanlah sosok yang dapat dijadikan teladan moral maupun otoritas keagamaan. Jika materi keagamaan yang keliru diterima begitu saja oleh masyarakat, dampaknya bisa menyesatkan pemahaman umat.
Karena itu, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti guru atau mubaligh. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mempermudah akses informasi, tetapi belajar dan memahami agama tetap memerlukan bimbingan ulama atau guru dari sosok manusia asli yang memiliki otoritas, sanad keilmuan yang jelas, dan integritas moral.
Jadi, untuk merespons fenomena itu dan sangat mungkin ke depan akan muncul sosok-sosok lain dengan performa dan pendekatan yang berbeda kiranya masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memilih sumber pengetahuan agama. Harus dipahami bahwa ceramah dan nasihat keagamaan merupakan tuntunan yang mengarahkan umat menuju jalan yang benar serta kebahagiaan di dunia dan akhirat. Saatnya lebih kritis dalam berpikir dan beragama. Wallahu a’lam.
Thobib Al Asyhar ( Alumni Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak, Dosen Pascasarjana SPPB Universitas Indonesia, Karo Humas dan Komunikasi Publik Kemenag)













