BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Sejak Awal Berdiri Memiliki Perhatian Kuat Terhadap Persoalan Sosial, Walau Bukan Sebagai Gerakan Sosialis

17
×

Muhammadiyah Sejak Awal Berdiri Memiliki Perhatian Kuat Terhadap Persoalan Sosial, Walau Bukan Sebagai Gerakan Sosialis

Sebarkan artikel ini

YOGYAKARTA, panjimas — Muhammadiyah sejak awal berdirinya memiliki perhatian kuat terhadap persoalan sosial, terutama kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, dan ketimpangan. Gerakan tersebut berakar pada nilai tauhid dan diwujudkan melalui keberpihakan kepada masyarakat lemah.

 

Hal itu disampaikan Anggota Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Arif ‘An dalam acara Ngaji Sore di TVMu pada Ahad (6/9).

 

Dalam dialog bertema “Muhammadiyah dan Sosialisme, Menuju Peradaban yang Lebih Berkemajuan”, Arif menjelaskan bahwa Muhammadiyah memang tidak dapat disebut sebagai organisasi sosialis, tetapi memiliki orientasi sosial yang kuat.

 

“Karena Muhammadiyah itu bukan partai sosialis. Tapi Muhammadiyah itu nilai punya nilai-nilai rasa yang tinggi terhadap sosial,” ujar Arif.

 

Menurutnya, corak sosial Muhammadiyah telah tampak sejak Kiai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Kondisi masyarakat yang miskin, kelaparan, tidak memperoleh pendidikan, dan mengalami keterbelakangan menjadi kenyataan sosial yang mendorong lahirnya gerakan dakwah Ahmad Dahlan.

 

“Jadi, Muhammadiyah sejak kelahirannya itu memang yang menjadi gerakannya, dakwahnya adalah dakwah sosial,” katanya.

 

Dakwah sosial tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai bentuk pemberdayaan, mulai dari ekonomi kerakyatan, pendidikan bagi masyarakat miskin, hingga pelayanan sosial. Arif menyebut Muhammadiyah bahkan telah mengembangkan koperasi dan Baitul Maal wat Tamwil (BMT), serta berbagai layanan sosial sebelum model-model serupa berkembang dalam kebijakan negara.

 

Bagi Arif, titik temu Muhammadiyah dengan gagasan sosialisme terutama berada pada perhatian terhadap keadilan sosial, keberpihakan kepada masyarakat lemah, dan perlawanan terhadap kemiskinan, kesenjangan, serta penindasan.

 

“Jadi Muhammadiyah itu basisnya keadilan karena perintah Allah,” tegasnya.

 

Namun, Arif menekankan adanya perbedaan mendasar antara Muhammadiyah dan sosialisme dalam pengertian ideologi politik. Jika sosialisme menempatkan negara sebagai pihak yang mengatur kehidupan ekonomi dan sosial secara dominan, sedangkan kapitalisme menyerahkan banyak hal kepada mekanisme pasar, Muhammadiyah memandang negara, masyarakat, dan agama memiliki peran yang saling melengkapi.

 

“Kalau sosialisme itu kan negara ngurus semua. Kalau kapitalismenya itu pasar yang ngurus semua. Nah, kalau Muhammadiyah itu masyarakat, negara, agama itu semua mix,” jelasnya.

 

Dari Al-Maun menuju tauhid sosial

Arif menilai salah satu sumber utama karakter sosial Muhammadiyah adalah cara Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan Surah Al-Ma‘un kepada para santrinya. Al-Qur’an, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai bacaan, tetapi harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

 

“Sesungguhnya itu menancapkan ke santri-santrinya beliau bahwa Al-Qur’an tidak hanya segera dibaca, tapi Al-Qur’an ini harus dipraktikkan,” katanya.

 

Karena itu, pengajaran Al-Ma‘un dilakukan berulang-ulang hingga para santri memahami bahwa pesan ayat tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan. Menurut Arif, inti pengajaran itu adalah keberpihakan kepada fakir miskin dan kelompok yang membutuhkan pertolongan.

 

“Yang di situ yang diberikan adalah di dalam Al-Ma‘un itu kan kita harus menyantuni anak fakir miskin,” ujarnya.

 

Arif memperluas makna fakir miskin tidak sebatas kekurangan ekonomi. Kemiskinan juga dapat berupa keterbatasan pendidikan dan iman. Karena itu, pemberdayaan harus diarahkan agar masyarakat yang lemah dapat berdiri secara lebih mandiri.

 

Ia menyebut corak tersebut sebagai tauhid sosial, yakni keberagamaan yang menghubungkan kesalehan individual dengan kepedulian terhadap kehidupan sosial.

 

“Tauhid sosial itu menterjemahkan sajadah tidak hanya di ruang-ruang salat,” kata Arif.

 

Menurutnya, nilai tauhid harus hadir dalam berbagai ruang kehidupan. Di pasar, misalnya, tauhid diwujudkan melalui kejujuran dan keadilan dalam berdagang. “Di situ ada tauhidnya itu apa? Timbangan harus adil,” tegasnya.

 

Dengan demikian, ruang dakwah Muhammadiyah tidak berhenti di masjid. Kantor, pasar, lembaga pendidikan, lingkungan masyarakat, dan berbagai ruang kehidupan lainnya merupakan tempat untuk menghadirkan amal saleh.

 

“Amal kebaikannya tidak hanya di sajadah di masjid aja, tapi kemudian di semua, di pasar kah, kemudian kita di aktivitas kelembagaan yang lain, di semua aktivitas,” tuturnya.

 

Arif mengingatkan kader Muhammadiyah agar tidak memahami kesalehan sebatas hubungan manusia dengan Allah. Kesalehan individual harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap sesama.

 

Ia memberikan gambaran sederhana. Seseorang bisa saja rajin salat dan tahajud, tetapi pada saat yang sama membiarkan tetangganya kelaparan. Kondisi semacam itu, menurut Arif, bertentangan dengan semangat dakwah sosial yang diwariskan Ahmad Dahlan.

 

“Ini ada kesenjangan, disparitas antara spiritual individual, hablum minallah, dengan spiritual sosial, hablum minannas. Gak bisa, gak boleh, harus korelasi,” katanya.

 

Karena itu, kader Muhammadiyah harus memiliki kepekaan sosial. Keberpihakan kepada masyarakat bawah harus diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk membantu orang yang mengalami persoalan ekonomi, pendidikan, maupun persoalan sosial lainnya.

 

Arif juga menekankan bahwa dakwah sosial tidak boleh dilakukan secara diskriminatif. Kepedulian sosial harus diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan tanpa melihat agama, suku, maupun latar belakang.

 

“Karena di kita Islam itu mengajarkan semua itu harus kita bantu,” ujarnya.

Ia kemudian mengingatkan kisah seseorang yang memberi minum seekor anjing sebagaimana terdapat dalam hadis Nabi. Menurut Arif, kisah tersebut menunjukkan bahwa perbuatan baik kepada makhluk Allah memiliki nilai di hadapan-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *