BeritaMUINasionalNews

Sekjen MUI Buka Gerakan Nasional Literasi Bebas Buta Aksara Al Quran

39
×

Sekjen MUI Buka Gerakan Nasional Literasi Bebas Buta Aksara Al Quran

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Sekjen MUI, Dr Amirsyah Tambunan membuka acara Gerakan Nasional Literasi Bebas Buta Aksara yang diadakan di Kantor MUI  Pusat, pada hari Jumat (9/10/26).

Sebelum mengawali sambutannya, Sekjen MUI menyampaikan pantun :

Jalan yang rusak telah diratakan

Tempat berlari anak rusa

Mari kita baca Al-Qur’an

Agar hidup tidak tersiksa

 

Pergi ke kota tua membeli arloji

Bapak/ibu datang membawa benih

Siapa saja yang rajin mengaji

Hatinya tenang pikiran jernih

Dalam sambutannya beliau juga mangajak semua pemangku kepentingan terus melakukan pemberantasan buta huruf Al-Qur’an. Ini program yang mulia untuk memuliakan umat Islam. Program nasional yang di dukung oleh pemerintah, lembaga keagamaan, dan masyarakat untuk mengatasi keterbatasan kemampuan membaca huruf hijaiyah dan Al-Qur’an. Hingga saat ini angka buta aksara al-Qur’an.

Sasaran Pengentasan Buta Huruf

Pertama, membantu anak-anak, remaja, hingga orang dewasa agar mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai ilmu tajwid, kedua, penguatan literasi Keagamaan dengan menanamkan nilai-nilai Qur’ani sejak dini serta membangun kecintaan terhadap kitab suci.

Program Sekolah & Madrasah oleh Kementerian Agama melalui Direktorat PAI menggalakkan Gerakan Ayo Mengaji di Sekolah yang menyasar puluh ribuan siswa muslim. Program khusus seperti Geulisan (Gerakan Literasi Al-Qur’an) bagi pelajar melalui Kantor Urusan Agama (KUA) di berbagai wilayah secara rutin mempunya penyuluh berdasarkan data Kementerian Agama Republik Indonesia, jumlah penyuluh agama Islam di Indonesia mencapai 24.393 orang (per Juli 2025), yang terdiri dari 5.458 PNS dan 18.935 PPPK.

Kemenag juga telah mengusulkan tambahan 71.000 formasi Jabatan Fungsional Penyuluh Agama. Dapat bekerjasama melalui program seperti GEBRAKAN (Gerakan Pemberantasan Buta Aksara Al-Qur’an) untuk membimbing masyarakat dan ibu-ibu di desa.

Memperkuat metode cepat belajar pemanfaatan metode praktis (seperti metode Tsaqifa atau buku islah) yang memungkinkan peserta didik membaca Al-Qur’an dalam waktu relatif singkat melalui pelatihan intensif.

Strategi kolaborasi melalui lembaga Wakaf & Ormas dengsn melibatkan lembaga seperti Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) lewat program wakaf produktif untuk mendukung pengadaan Al-Qur’an dan tenaga pengajar di sejumlah Daerah.

 

Muliakan Umat, Cerdas Membaca Al-Qur’an

Berdasarkan hasil penelitian dari Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, angka buta huruf atau buta aksara Al-Qur’an di Indonesia mencapai 72,25 persen dari total penduduk Muslim.

Secara nasional, Pertama, sekitar 72,25% umat Islam di Indonesia masuk dalam kategori cukup atau kurang dalam kemampuan membaca Al-Qur’an.

Kedua, populasi Muslim yang besar, diperkirakan lebih dari 170 juta jiwa masih menghadapi kendala dalam membaca Al-Qur’an secara baik dan benar.

Ketiga, sebagian besar masyarakat baru pada tahap mengenal huruf atau harakat, sementara yang mampu membaca lancar dan sesuai ilmu tajwid masih berada di bawah angka 50%.

Pekerjaan Rumah (PR) umat Islam masih sangat besar untuk melakukan penguatan literasi agar pemberantasan buta aksara al-Qu’an dapat di lakukan secara terukur dengan target pertahun angkat capaian 5 % sehingga 10 tahun angka turun menjadi 60-50 persen.

Pembiayaan menggunakan dana literasi al Qur’an (Dala) kata Ambar – Ir. H. Ambar Pramita, direktur Gerakan Dana Abadi Literasi Al-Qur’an (Dala) MUI. Kata Ketua panitia- Dr. Chairul Hakim, ketua tim kerja. Semata-mata untuk memuliakan umat. Buya Amirsyah menegaskan semakin tinggi kecerdasan maka semkin mudah menghafal Al-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *