Jakarta, panjimas– Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., mengingatkan sekolah agar membekali peserta didik dengan keterampilan yang sesuai dengan zaman dan lingkungan tempat mereka hidup.
Pesan itu disampaikan Mu’ti dalam kuliah umum seusai pengukuhan kepala SD, SMP, SMA, dan SMK Muhammadiyah di lingkungan PCM Sepanjang, Taman, Sidoarjo, Senin (12/10/2026)
Acara berlangsung di lantai 6 gedung baru SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman (SD Mumtaz), Sidoarjo. Gedung tersebut sebelumnya diresmikan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Sabtu (10/10/2026).
Dalam kesempatan itu, dikukuhkan Ulin Farikha, S.Pd., M.Pd., sebagai Kepala SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman; Moh. Arif Saifuddin, S.Pd., M.Pd., sebagai Kepala SMP Muhammadiyah Taman; Edwin Yogi Laayrananta, M.I.Kom., sebagai Kepala SMA Muhammadiyah Taman; Rahmat Susilo, S.Pd., sebagai Kepala SMK Muhammadiyah 1 Taman; serta Fatchul Mubarok, S.Th.I., M.Pd., sebagai Kepala SMK Muhammadiyah 2 Taman.
Sekolah Harus Diisi Pendidikan yang Baik
Dalam kuliah umumnya, Mu’ti menyinggung Surah Al-Baqarah ayat 29 yang menjelaskan bahwa Allah Swt. menciptakan segala yang ada di bumi untuk dimanfaatkan manusia.
Ia kemudian mengaitkannya dengan pentingnya sekolah membaca alam dan kehidupan melalui berbagai disiplin ilmu.
Mu’ti bercerita pernah menulis buku bersama tiga orang dengan latar keilmuan berbeda. Sebuah persoalan dibaca melalui disiplin biologi, tafsir, dan hadis.
Menurutnya, pendekatan semacam itu penting agar pendidikan tidak berjalan dalam sekat-sekat ilmu yang kaku.
“Sekolah yang baik harus diisi dengan pendidikan yang baik,” pesannya.
Ia lalu menyinggung ungkapan yang kerap dikaitkan dengan Umar bin Khattab tentang mengajari anak berenang dan memanah.
Mu’ti menegaskan, ungkapan itu bukan hadis Nabi Muhammad Saw. Menurutnya, pesan tersebut juga tidak perlu dipahami sebatas kegiatan berenang di kolam atau berlatih memanah secara harfiah.
Yang lebih penting adalah maknanya: anak perlu dibekali keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan hidupnya.
“Ajari skill agar dia bertahan hidup dan ajari anak sesuai dengan zamannya,” ujarnya.
Keterampilan Harus Dekat dengan Kehidupan Anak
Mu’ti menjelaskan, jenis keterampilan yang dibutuhkan anak dapat berbeda-beda sesuai lingkungan tempat mereka tumbuh.
Karena itu, guru perlu mengenali lingkungan, perkembangan zaman, serta kebutuhan masa depan peserta didik. Pendidikan kemudian diarahkan agar anak memiliki kemampuan yang berguna ketika mereka hidup di masyarakat.
Guru, menurut Mu’ti, juga perlu memahami ayat-ayat Al-Qur’an sehingga mampu menghubungkan nilai keislaman dengan persoalan kehidupan.
Ia mendorong sekolah menerapkan pembelajaran mendalam atau deep learning dan memperkuat pendekatan STEM, yakni science, technology, engineering, and mathematics.
Namun, penguasaan sains dan teknologi tetap perlu berdiri di atas landasan nilai dan akhlak karimah.
“STEM diperkuat dengan landasan normatif dan akhlak karimah,” pesannya.
Mu’ti juga menyinggung pentingnya riset di sekolah. Lingkungan alam dan ekosistem di sekitar peserta didik dapat dibaca sebagai sumber belajar sekaligus dasar pengembangan keterampilan dan teknologi.
Menurutnya, sekolah perlu menciptakan teknologi dan mengembangkan keahlian berdasarkan hasil riset yang sesuai dengan kondisi lingkungan.
Ia menilai SMP Muhammadiyah Taman telah mulai bergerak ke arahtersebutt
Vokasi Jangan Hanya Menyiapkan Pencari Kerja
Perhatian Mu’ti juga tertuju pada pendidikan vokasi.
Menurutnya, sekolah vokasi tidak cukup hanya menyiapkan lulusan untuk mencari pekerjaan. Peserta didik juga perlu dibekali kemampuan menciptakan lapangan kerja dan teknologi.
Pesan itu mendapat perhatian khusus dari jajaran SMK Muhammadiyah di lingkungan PCM Sepanjang.
Kepala SMK Muhammadiyah 2 Taman Fatchul Mubarok, S.Th.I., M.Pd., mengatakan sekolahnya mendapat apresiasi atas tagline “Bekerja sebelum Lulus” dan penggunaan nama Vocatama.
“Kami mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari Ketua PP Muhammadiyah, Menteri Pendidikan, dan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur terkait tagline ‘Bekerja sebelum Lulus’ dan akronim Vocatama,” ujarnya saat dihubungi seusai pengukuhan.
Ia berharap apresiasi tersebut menjadi awal bagi Vocatama untuk semakin dikenal masyarakat.
“Semoga ini menjadi langkah awal Vocatama untuk lebih dikenal para tokoh dan masyarakat sehingga menjadi salah satu dakwah Muhammadiyah PCM Sepanjang di bidang pendidikan,” kata Fatchul.
Bagi Mu’ti, pendidikan yang baik akhirnya kembali pada kemampuan sekolah membaca kebutuhan anak. Ilmu, keterampilan, teknologi, riset, dan akhlak perlu berjalan bersama agar peserta didik tidak hanya siap lulus, tetapi juga siap hidup pada zamannya
