SIDOARJO, panjimas – Peran Muhammadiyah untuk internasional semakin dibutuhkan di tengan berbagai persoalan global yang mencuat, mulai dari konflik kemanusiaan hinga upaya mewujudkan tatan dunia yang berkeadilan dan damai.
Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafiq A. Mughni dalam ageda Wisuda Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), pada Rabu (28/10).
Syafiq menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki tanggung jawab besar sebagai organisasi sosial keagamaan untuk terus berkontribusi dalam membangun bangsa dan menjawab berbagai persoalan kemanusiaan.
Ia menilai, Muhammadiyah tidak bisa bergantung diri kepada kekuatan politik ataupun entitas lain di luar persyarikatan, melainkan Muhammadiyah harus melangkah secara mandiri untuk berkontribusi membangun bangsa.
“Karena itulah kita terus bergerak untuk membangun bangsa ini,” ujar Syafiq.
Lebih lanjut, dalam kiprahnya di sektor perdamaian dunia, Syafiq mencontohkan keterlibatan Muhammadiyah dalam upaya perdamaian antara pemerintah Filipina dan Masyarakat Muslim Bangsa Moro di Filipina Selatan.
Syafiq menjelaskan bahwa dalam proses perdamaiannya Muhammadiyah menjadi salah satu anggota Internasional Contact Group (ICG) atau kelompok yang berperan memantau dan mengawal jalannya perundingan perdamaian.
“International Contact Group melibatkan sejumlah organisasi internasional dan pemerintah negara-negara yang turut mendukung proses perdamaian. Pertama Sant’Egidio dari Italia, Humanitarian Reconciliation dari Australia, dan Humanitarian Resources dari Thailand. Adapun aktor pemerintah negara yang turut terlibat antara lain Inggris, Turki, dan Arab Saudi,” jelasnya.
Maka dari itu, kiprah Muhammadiyah dalam forum internasional juga menjadi salah satu alasan semakin banyaknya delegasi luar negeri yang berkunjung untuk mengenal Muhammadiyah lebih dekat.
Dalam forum yang dihadiri oleh para wisudawan dan wisudawati UMSIDA, Syafiq turut menyatakan bahwa ketertarikan masyarakat terhadap Muhammadiyah turut terlihat dari minat mahasiswa asing untuk menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah.
“Ini adalah sebuah bakti bagaimana Muhammadiyah ikut membangun bersama-sama,” ujarnya.
Melalui berbagai institusi pendidikan yang dimiliki, Muhammadiyah juga terus berupaya menghadirkan akses pendidikan yang mencerahkan tanpa membatasi sekat-sekat sosial, etnis, budaya, maupun agama.
“Kita semua adalah manusia yang satu, manusia yang berhak mendapatkan sentuhan pencerahan dari Persyarikatan Muhammadiyah,” tegasnya.
Terakhir, Syafiq turut membahas bahwa gagasan-gagasan mengenai pengembangan Internasionalisasi Muhammadiyah lebih lanjut akan dibahas melalui Sidang Tanwir Muhammadiyah mendatang.
“Jika disetujui, maka ini akan menjadi dokumen penting yang dapat menuntun kiprah Muhammadiyah lebih lanjur di dunia internasional,” pungkasnya.











