BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Tak Lahir dari Kerja Keras Semata, Ada Kesabaran yang Menjaganya

16
×

Muhammadiyah Tak Lahir dari Kerja Keras Semata, Ada Kesabaran yang Menjaganya

Sebarkan artikel ini

Surabaya, panjimas – Jihad itu harus disertai dengan sabar. Secara spesifik, kata sabar dikatakan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhadjir Effendy dimaknai sebagai penuh perhitungan.

 

“Tidak boleh asal tabrak. Dihitung kapan harus bertindak, kapan menunggu, kapan kita memetik kemenangan, dan kapan kita harus siap-siap menerima kekalahan,” ucapnya.

 

Pembentangan Muhadjir seperti itu berpokok pangkal pada nukilan Qs al-Baqarah ayat 142. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.

 

“Jadi tidak hanya sungguh-sungguh saja, kerja keras saja tidak cukup tanpa diikuti dengan sabar,” katanya, Sabtu (31/10) saat Tabligh Akbar Milad 114 Muhammadiyah Pimpinan Ranting Muhammadiyah Keputih-Sukolilo di SD Muhammadiyah 26 Surabaya, Keputih, Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur.

 

Muhadjir menjelaskan, kata jihad selalui dirangkaikan dengan kalimat lain yang menjadi bandul penyeimbang. Misal, Qs al-‘Asr [103] ayat 3 menyebut, menegakkan kebenaran harus dengan sabar. Juga Qs Luqman [31] ayat 17, bahwa menegakkan amar makruf nahi mungkar mesti sabar.

 

“Jadi umat Islam itu rata-rata jihadnya sudah paham, tapi sabarnya tidak,” ujarnya.

 

Dalam konteks Kiai Dahlan, hidupnya dibingkai dengan sabar. Tidak hanya sabar, jihad dan kerja keras, begitu mencoloknya terpotret dari denyut nadi kehidupannya.

 

“Kiai Dahlan menerapkan ini. Kiai Dahlan di samping kerja keras, juga sabar,” menggarisbawahi konteks lebih luas pada organisasi Muhammadiyah yang dibangunnya. Tanpa hal demikian, tidak akan berdiri dan bahkan bertahan lama seperti sekarang.

 

“Muhammadiyah itu dibangun atas dua sisi, kerja keras dan sabar. Dengan sabar itulah sampai sekarang Muhammadiyah bertahan, bisa berkelanjutan (sustainable),” tegasnya.

 

Di sinilah generasi hari ini penting untuk menanamkan nilai-nilai yang telah diteladan oleh Kiai Dahlan tersebut. “Kiai Dahlan dengan Muhammadiyahnya karena dibangun atas dasar semangat kerja keras (jihad) dan sabar, jadilah (Muhammadiyah) sampai sekarang ini,” ulasnya.

 

Karena itu, Muhadjir menyebut, jihad dan sabar memegang peranan penting dalam kehidupan. Dan dalam bermuhammadiyah dan berasiyiyah, spirit ini mesti dipedomani oleh segenap warga Persyarikatan.

 

“Kenapa Kiai Dahlan selalu bilang sedikit bicara banyak bekerja karena memang nanti yang akan dinilai oleh Allah dari tanda-tanda yang dia bikin. Jadi kita harus setiap di tempat mana kita berada tinggalkanlah sebelum kita mati-mati tanda-tanda baik itu,” ungkapnya.

 

Manifestasi dari tanda-tanda baik itu adalah dengan mendirikan amal usaha, misal di bidang pendidikan yakni sekolah dan perguruan tinggi sebagai misi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Atas amal usaha yang dijalankan Muhammadiyah di bidang itulah, kemanfaatannya bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat.

 

“Ketika membangun sekolah, kampus, masjid, kita bertransaksi dengan Allah. Apa imbalannya? Surga,” singkapnya

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *