Jakarta, panjimas – Jadikanlah Allah tetap selalu di atas manusia. Pesan ini disampaikan oleh Saad Ibrahim, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dalam Pengajian PP Muhammadiyah di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Menteng, Jakarta pada Jum’at malam (14/11).
Mengangkat tema “Mewujudkan Kepahlawanan dalam Era Kekinian,” Saad menjelaskan bahwa paradigma makna kepahlawanan harus berpedoman dasar pada ayat pertama Q.S Al-’Alaq. Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah adalah puncak dari sebuah struktur. Pemaknaan atas kepahlawanan harus bermula dari kesadaran akan kekuasaan Allah.
“Semangat proyeksi dari ungkapan Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq, disinilah untuk mengokohkan kembali posisi Allah menjadi posisi yang tertinggi dalam konteks the structure of being,” ujar Saad.
Menurut Saad, dalam mewujudkan kepahlawanan di era kekinian sangatlah riskan, karena jika tidak berhati-hati justru dapat menjerumuskan diri ke dalam api neraka. Mengutip dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Saad menjelaskan bahwa terdapat tiga golongan manusia yang pertama kali dihisab, yakni orang yang mati syahid, orang yang berilmu, dan orang yang dermawan.
Golongan pertama adalah orang yang mati syahid dalam perjuangannya di jalan Allah. Meski tampak mulia, ia dapat dengan mudahnya masuk neraka karena satu kesalahan fatal yakni niat mendapatkan penghormatan manusia bukan lillahi ta’ala.
“Saya lakukan karena engkau ya Allah. Engkau berdusta, bukan mengharapkan aku tapi mengharapkan supaya engkau jadi pahlawan. Supaya engkau dikenal. Supaya engkau masyhur,” ujar Saad.
Golongan kedua adalah orang yang berilmu. Mereka yang mempelajari ilmu dan Al-Qur’an namun menjadikan kemasyhuran sebagai tujuan utama. “Sudah dikatakan oleh Allah akhirnya Allah mendustakan karena sesungguhnya yang ingin dicapai ialah kemasyhuran, kepahlawanan,” jelasnya.
“Yang ketiga adalah orang yang mendermakan hartanya. Dia katakan semata-mata karena-Mu ya Allah. Tapi Allah mengatakan, tidak. Itu kamu lakukan supaya engkau dikenal. Supaya engkau masyhur sebagai dermawan,” imbuhnya
Menilik dari hadits tersebut, Saad mengingatkan bahwa pentingnya keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. “Tapi jangan pernah kemudian kita melakukan sesuatu itu untuk kemudian kita dikenal, kita kemudian dihormati, kita dianggap pahlawan,” ujar Saad dengan tegas.
Kepahlawanan memang tidak lekang oleh zaman, namun dalam memaknainya, janganlah menjadikan Allah sebagai bagian terakhir. Apapun yang dilakukan manusia haruslah diniatkan sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada-Nya secara ikhlas, bukan demi validasi, pujian, dan penghormatan dari manusia lain. Karena sejatinya penghormatan manusia, tidak menjadi cerminan kedudukan manusia di mata Yang Maha Kuasa.
“Kita harus menyadari ketika orang hormat sama kita, ya boleh jadi, orang yang hormat pada kita itu surganya lebih tinggi dari kita,” pungkasnya













