Jakarta, panjimas –Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI Dahnil Anzar Simanjuntak dalam acara Penutupan ToT Pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur.
Dalam sambutannya, ia berpesan agar para petugas haji lebih siap secara fisik, mental, serta memiliki orientasi pelayanan yang maksimal, karena para petugas haji 90 persen kerja fisik.
Dahnil menjelaskan, para petugas haji akan menjalani masa pelatihan intensif mulai 10 Januari 2026. Pelatihan ini berlangsung dengan sistem karantina atau “masuk barak” sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kedisiplinan.
“Nanti tanggal 10 itu para petugas mulai masuk barak istilah saya. Nanti fokus pelatihannya itu ada di Asrama Haji ini. Nanti sebagian juga akan ada pelatihan di Halim,” ujar Dahnil, Kamis (8/1/2026).
Dahnil menambahkan, para petugas haji akan mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) selama kurang lebih tiga minggu. Sementara itu, para pelatih dan fasilitator telah lebih dahulu menjalani ToT pelatihan khusus sebagai persiapan.
“Jadi kemungkinan mereka akan mengikuti kurang lebih tiga minggu persiapan diklat petugas. Lima hari ini adalah para trainer, para fasilitator yang nanti akan melatih mereka (petugas haji) pada tiga minggu ke depan,” jelasnya.
Dahnil menegaskan durasi pelatihan yang lebih panjang tahun ini merupakan respons atas berbagai kritik publik terkait kualitas pelayanan haji pada tahun-tahun sebelumnya. Ia menekankan pentingnya meluruskan niat seluruh petugas haji sejak awal.
“Kita ingin pastikan semua petugas haji itu orientasi utamanya adalah pelayanan jemaah, bukan nebeng naik haji,” tegasnya.
Ia mengakui sebagian petugas memang belum pernah menunaikan ibadah haji. Namun, hal tersebut tidak boleh menggeser fokus utama tugas mereka sebagai petugas haji.
“Untuk itu kami akan pastikan niat utamanya terlebih dahulu itu adalah pelayanan terhadap jemaah,” imbuh Dahnil.
Selain orientasi pelayanan, aspek integritas, kedisiplinan, dan kekompakan tim menjadi fokus utama pelatihan. Dahnil menyebut pekerjaan pelayanan haji di Madinah dan Makkah menuntut kerja tim yang solid.
Selain itu, kedisiplinan dasar seperti Peraturan Baris-Berbaris (PBB) juga akan diterapkan sebagai fondasi ketertiban. Para petugas haji juga akan menjalani uji ketahanan fisik.
“Secara fisik tentu mereka akan kami uji karena 90 persen kerja-kerja petugas haji itu kerja fisik. Bahkan saya sering menyebutnya ini kerjanya 25 jam, tidak berhenti,” pungkas Dahnil













