Jakarta, panjimas – Rencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mengembalikan sistem penjurusan di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) mendapatkan respons positif dari kalangan akademisi.
Salah satunya datang dari Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), Prof. Dr. Khoirul Anwar, M.Pd., yang menyampaikan pandangannya dalam wawancara daring pada Senin (14/4/2024).
Menurut Prof. Khoirul, kebijakan ini bisa menjadi langkah strategis dalam mengarahkan pendidikan menengah agar lebih fokus pada pengembangan potensi dan kesiapan karier siswa.
Ia menilai, setidaknya ada empat manfaat utama yang bisa dihasilkan dari sistem penjurusan ini.
“Pertama, pengembangan minat dan bakat menjadi lebih terarah. Siswa diajak untuk mengeksplorasi lebih awal tentang minat dirinya dan potensi yang ada, sehingga bisa melatih kepekaan soal identifikasi kemampuan diri atau passion yang sesuai sebelum ke perguruan tinggi,” ujarnya.
Yang kedua, menurut Prof. Khoirul, pembelajaran akan menjadi lebih terfokus dan terarah. “Mata pelajaran yang relevan saja yang bisa ditawarkan ke siswa. Sehingga beban siswa tidak terlalu besar.”
Ia menambahkan, sistem ini juga dapat lebih dini menyiapkan karier siswa sesuai kebutuhan ke depan. “Sehingga dasar pengetahuan yang harus dikuasai sesuai kebutuhannya.”
Manfaat keempat dari sistem penjurusan, lanjutnya, adalah kemudahan dalam memfokuskan pada kemampuan atau kompetensi belajar yang lebih tinggi dan spesifik.
“Misalnya kemampuan analisis atau kemampuan mencipta, akan lebih punya porsi dan ruang yang besar untuk digali ke siswanya,” tutup Prof. Khoirul.











