NasionalNews

Mendikdasmen Dukung Santri Jadi Penulis Visioner, Menulis Bukan Sekadar Komersial

30
×

Mendikdasmen Dukung Santri Jadi Penulis Visioner, Menulis Bukan Sekadar Komersial

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu`ti, hadir dalam sarasehan yang diinisiasi Suara Merdeka Network bertema “Gerakan Santri Menulis 2025-Pelatihan Dai Medsos”. Acara yang berlangsung di Ballroom Masjid Baiturrahman, Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat (21/3), ini menjadi bagian dari komitmen membina kemampuan literasi kalangan muda, khususnya para santri.

Dalam sambutannya, Mendikdasmen menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan Gerakan Santri Menulis dan menyampaikan penghargaan kepada Suara Merdeka yang telah mengawal kegiatan tersebut selama lebih dari tiga dekade. “(Acara ini) Merupakan sebuah kegiatan yang sangat penting baik dalam konteks keagamaan maupun pendidikan literasi,” ujar Mu’ti.

Mu’ti menilai program ini sejalan dengan misi Kementerian untuk memperkuat tradisi menulis di kalangan pelajar. Ia menekankan bahwa sejak dini, generasi muda perlu didorong untuk mengekspresikan gagasan melalui tulisan sebagai bagian dari kecakapan literasi.

“Membangun generasi penulis sejak muda telah mampu memiliki gagasan dan menuangkan pikirannya serta memberikan informasi yang terjadi melalui tulisannya,” lanjutnya.

Lebih jauh, ia menyebut kehadirannya sebagai wujud kecintaan pribadi terhadap dunia kepenulisan. Bagi Mu’ti, menulis adalah bagian tak terpisahkan dari kesehariannya. “Writing is my life”, tuturnya, menandaskan bahwa dengan menulis, ia dapat menyumbangkan pemikiran yang bisa diakses dan dimanfaatkan oleh publik.

Ia pun mengingatkan agar aktivitas menulis tidak hanya diarahkan pada aspek komersial, tetapi juga harus memiliki nilai visi, misi, serta orientasi ideologis.

“Menulis itu harus menjadi bagian yang tidak hanya bersifat “pasar”, namun perlu ada kepentingan visi dan misi serta ideologis, agar tulisan tersebut bisa menjadi referensi di masa yang akan datang,” ucapnya di hadapan puluhan santri yang mengikuti pelatihan.

Gerakan Santri Menulis 2025 diapresiasi Mendikdasmen Abdul Mu’ti sebagai bagian dari penguatan literasi. Ia mendorong santri menulis tak hanya bersifat “pasar”, tapi juga bernilai ideologis dan visioner.

Pimpinan Redaksi Suara Merdeka, Agus Toto Widyatmoko, turut menyampaikan peran berkelanjutan yang telah dijalankan oleh medianya sejak 1994. Ia menyebut ribuan santri telah terlibat dalam program pelatihan ini dan menjadi bagian dari ekosistem kepenulisan, baik dalam media cetak maupun media sosial

“Sebagian santri-santri yang menjadi alumni pelatihan juga telah bergabung untuk menjadi penulis sesuai dengan tata cara jurnalistik, baik di koran Suara Merdeka ataupun sosial media kami,” kata Agus.

Ia menegaskan pentingnya membekali para santri dengan pemahaman jurnalistik agar informasi yang mereka sampaikan relevan dan berkualitas. “Kegiatan ini salah satu bentuk ikhtiar Suara Merdeka yang turut mencerdaskan kehidupan bangsa melalui menulis,” ujar Agus.

Hal senada diungkapkan Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin. Ia mengapresiasi inisiatif Suara Merdeka yang memberi ruang bagi santri untuk berkembang melalui pelatihan menulis.

“Harapannya santri-santri ini selain dapat berkembang bagi dirinya juga dapat memberikan dampak yang baik dalam mengembangkan wilayah Semarang,” ujarnya. Ia berharap, para peserta mampu menjadi penyampai informasi yang cerdas dan berkontribusi bagi kehidupan berbangsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *