NasionalNews

Idul Fitri Momentum Kembali ke Fitrah untuk Meneguhkan Peradaban

48
×

Idul Fitri Momentum Kembali ke Fitrah untuk Meneguhkan Peradaban

Sebarkan artikel ini

Khutbah Idul Fitri : DR.Amirsyah Tambunan

اَللهُ اَكْبَر اَللهُ اَكْبَر وَلِلَّهِ الْحَمْدِ
Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Hari ini adalah hari gembira, hari berbahagia bagi orang-orang yang berpuasa, hari momentum penyerahan hadiah dari Allah SWT. Para malaikat turut mengucapkan selamat kepada orang-orang yang berhari raya. Diriwayatkan oleh sad Ibnu Ausal-Anshari, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:  “Apabila telah tiba Hari raya Idul fitri, berdirilah para malaikat berjejer di sepanjang jalan, sambil berseru, “wahai kaum muslimin, bergegaslah menuju Tuhan Yang Maha Mulia, yang menaburkan kebajikan dan memberikan pahala yang berlipat ganda.

Kamu telah diperintahkan Qiyamul-lail (beribadah di malam hari), lalu kamu laksanakan, kamu diperintahkan berpuasa, kamu menjalankannya, kamu patuh pada perintah Tuhanmu. Sekarang, terimalah hadiahmu! Apabila mereka telah selesai shalatnya, berdirilah seorang penyeru mengatakan “ketahuilah bahwa Tuhanmu telah mengampunimu, kembalilah dengan tenang dengan kendaraanmu. Hari ini adalah hari pemberian “hadiah”. Dan dilangit pun, hari ini disebut dengan hari hadiah” (HR. Tabrani).


اَللهُ اَكْبَر اَللهُ اَكْبَر وَلِلَّهِ الْحَمْدِ
Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Madrasah Rohaniyah ramadhan merupakan proses panjang yang telah kita lakukan selama ramadhan untuk menata hati, menghidupkan rasa, dan mencerdaskan; pertama, kecerdasan intelektual yakni bukan sekedar bisa menghitung, akan tetapi dapat memahami masalah kehidupan dan memberikan solusi atyas masalah yang dihadapi; kedua, kecerdasan emosional yakni mempu mengendalikan emosi kearah yang positif; ketiga, kecerdasan spiritual yakni memberikan sprit yang kuat untuk terus meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT; keempat, kecerdasan social yakni menjadikan masyarakat sebagai wadah membina kebersamaa untuk kekuatan umat (taqwiyatul ummah); kelima, kecerdasan menjadi pengusaha dalam dunia bisnis (entrepreneurship).

Semua ini memerlukan segala mujahadah (kesungguhan), keseriusan, dan pengorbanan serta keikhlasan dalam menjalankan ibadah selama ramadhan itu akan mengantarkan kita menjadi pribadi takwa kembali kepada kesucian diri (fitrah) sebagai manusia baru dengan kehidupan baru dan peradaban yang baru.

Dalam satu kesempatan, Sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ رضي الله عنه أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ «مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ» رواه الترمذى
Artinya: “Abdullah bin Busr radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa ada seorang Arab Badui berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” beliau menjawab: “Siapa yang paling panjang umurnya dan baik amalannya.” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihut Targhib wat Tarhib (no. 3363).

Tentunya yang paling jahat yaitu orang yang panjang umurnya tetapi semakin hari semakin tidak baik akhlaknya, semakin tidak baik ubudiyahnya kepada Allah, dalam segala hal kebaikannya terus berkurang.
وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ (١٢)
Artinya: “nanti Muhammad engkau akan melihat orang yang berbuat kejahatan di muka bumi ini hingga ketika berhadapan kepada Allah mereka tersipu dan menunduk malu menghadap Allah.

Dalam keadan seperti itu mereka berkata, ya Tuhan kami sudah mendengar adzab mu, tidak sanggup kami ya Tuhan menanggung adzab mu, tolong lah ya Tuhan kembali kan kami ke bumi sebentar saja dan akan melakukan yang terbaik,

Sayangnya itu hanya penyesalan yang tidak berguna lagi. Ulama mengatakan, “dunia ini seperti sawah ladang, barang siapa yang menabur kebaikan pasti dia akan menuai hasil dari kebaiknya, dan jika ia menabur benih-benih kejahatan ia akan memetik penyesalan yang tidak berguna lagi. Untuk itu mungpung kita masih diberikan kesempatan umur didunia ini mari kita isi usia kita untuk beribadah, beramal sholeh, dan bertaubat kepada Allah Swt.


اللهُ اَكْبَرُ. اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah.
Sebelum lebih jauh memberikan pesan Idul Fitri, ijinkan saya menyampaikan kata hikmah dari ulama: “Sebagaimana ketika tubuh SAKIT, makanan dan minuman tidak bermanfaat baginya. Begitu pula HATI ketika sakit karena maksiat syahwat, dia takkan tergugah dengan nasihat-nasihat.”(Ibnul Qayyim rahimahullah).

Oleh sebab itu mari kita perhatikan perintah Allah berdasarkan pendekatan Al- Quran dan hadis, setidaknya ada 3 ciri orang yang kembali kepada fitrah (Idul Fitri), setelah menempuh madrasah ruhaniyah Ramadhan, yaitu;
Melestarikan nilai-nilai Kesholehan individual selama dan sesudah ramadhan. Seperti Hasan Al Basri yang Menapaki Al-Abrar Menuju Al-Muqarrabun mengatakan Ramadhan itu datang seperti cermin. Ia memantulkan siapa diri kita dalam ibadah, dalam kebajikan, dalam keikhlasan.

Setiap tahunnya, kita berjalan kembali ke dalam keheningan diri, menemukan sejauh mana hati kita telah melangkah. Apakah kita masih sekadar sebagai al-abrar— yaitu mereka yang berbuat baik dengan ketulusan—atau kita mulai bergerak menuju al-muqarrabun—yaitu mereka yang tenggelam dalam cinta dan kedekatan dengan-Nya.
Ramadhan adalah bulan yang memiliki daya ubah yang luar biasa menuju al-muqarrabun tenggelam dalam cinta dan kedekatan dengan-Nya.

Banyak manusia yang tiba-tiba berubah di bulan Ramadhan. Yang tadinya jarang pegang al-Quran berubah menjadi dekat dengan al-Quran. Yang tadinya jarang ke masjid menjadi rajin ke masjid. Yang tadinya tidak menutup aurat, tiba-tiba berubah menutup aurat. Yang tadinya tidak sabaran, menjadi lebih sabar dan lebih jujur di bulan Ramadhan.

Acara-acara di televisipun mengalami perubahan yang cukup luar biasa. Nuansa religius begitu terasa pada segmen-segmen acaranya. Yang tadinya tidak banyak menayangkan acara-acara keagamaan, pada saat bulan Ramadhan berubah dan dipenuhi dengan acara-acara keagamaan.

Gosip tentang artis berubah kontennya menjadi perbincangan tentang agama atau kehidupan beragama para artis, serta perubahan-perubahan yang lainnya. Perubahan-perubahan ke arah positif tersebut memang patut kita syukuri.

Artinya, sampai titik tertentu, Ramadhan berhasil mengubah manusia. Namun sayangnya, terkadang perubahan tersebut hanya bersifat sementara. Ibarat sebuah bulletin hanya sebatas edisi Ramadhan. Keluar dari Ramadhan, kita kembali kepada kebiasaan semula. Orang yang kembali kepada fitrah (idul Fitri) maka dia akan berusaha melestarikan ubudiyah dibulan ramadhan dan meningkatkannya diluar ramadhan. Ia tetap membaca al-Quran, tetap shalat berjamaah di Masjid, berusaha bangun malam untuk sholat tahajjud karena ramadhan sudah menerpanya.

Dalam menjalankan ibadah ritual kepada Allah SWT ada tiga ruh (jiwa) dari ibadah itu yang harus terintegritas didalam jiwa kita yaitu; pertama, ketaatan, seorang ahli ibadah harus benar-benar taat dalam ibadahnya, Ia akan berusaha menuntut ilmu agama, rajin hadir di majelis talim untuk mendapatkan pencerahan hati, pencerahan pikiran dan pencerahan amal agara ibadahnya diterima oleh Allah SWT;

Kedua, Syukur, seorang ahli ibadah senantiasa bersyukur diatas segala nikmat yang Allah SWT berikan, ia tidak menyalahgunakannya apalagi mengingkari nikmat Allah SWT; ketiga, Qurbah, seorang ahli ibadah itu selalu dekat dengan Allah SWT, merasa dilihat dan diawasi Allah SWT sehingga selalu berbuat yang terbaik mengutamakan kejujuran dan keadilan meskipun tiada orang yang melihatnya.

Senantiasa melakukan amal shalih kesholehan social sepanjang Tahun. Menebarkan kebajikan, cinta dan kemaslahatan yang bisa dirasakan dan bermanfaat bagi orang lain. Banyak nash-nash dari al-Quran maupun al-Hadis yang menyerukan pentingnya membangun kesholehan sosial di dalam kehidupan ini.

Seperti beberapa riwayat berikut ini:
عَنْ اَنَسٍ بن مالك قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ: مَنْ لَقِيَ أَخَاهُ بِمَا يُحِبُّ لِيُسِرَّهُ بِذَالِكَ سَرَّهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa bertemu saudaranya dengan membawa sesuatu yang dapat menggembirakannya, pasti Allah akan menggembirakannya pada hari kiamat.” (Thabrani dalam Mujam Shagir)


مَنْ لَا يَرْحَمْ النَّاسَ لَا يَرْحَمْهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
Artinya: Barang siapa tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya (HR.Muslim).
اِرْحَمْ مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكَ مَنْ فِي السَّمَاءِ
Artinya: “Sayangilah makhluk yang ada dibumi, niscaya yang ada dilangit akan menyayangimu”. (Hadits Shahih, Riwayat ath-Thabrani dalam al-Mujam al-Kabir, Lihat Shahiihul jaami no. 896).


لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ) رواه البخاري ومسلم(
Artinya:  “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri”. [HR. Bukhari dan Muslim]
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami no:3289).

Inilah hidup yang bermakna. Hidup yang memberi arti bagi kehidupan orang lain. Keberadaannya selalu dinantikan karena kemanfaatan yang ditularkannya. Ketika ia tak ada, manusia mencarinya, merasa kehilangan ketiadaannya dan selalu merindukannya.

Sebagai insan yang beriman yang selalu berusaha membangun hubungan baik dengan Allah (hablumminalloh), jangan sampai termasuk orang yang mufis (bangkrut amal ibadahnya dihari akhirat). Dalam satu hadis diceritakan tentang orang-orang yang muflis karena ternodanya hubungan hablumminannas.
أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوْا: الْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ. فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
Artinya: “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu.

Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR Muslim no. 6522)

Senantiasa menghiasi hidup dengan nilai-nilai akhlakul karimah,
أَكْمَـلُ الْمـُؤْمِنِيـْنَ اِيـْمَانـًا اَحْسـَنُهُمْ خُلُـقًا
Artinya: “Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang sempurna budi pekertinya.” (H.R. Tirmizi).
Diantara Akhlakulkarimah yang harus kita jaga, kita rawat adalah akhlak mulia kepada kedua orang tua. Idul fitri atau lebaran dinegara kita melahirkan budaya mudik dan sungkem kepada kedua orang tua.

Inilah saat penting bagi kita untuk berbuat baik kepada orang tua kita. Inilah ladang amal bagi kita selaku anak yang berbakti kepada orang tua. Jika kita dengan ikhlas peduli, memberi kasih sayang dan membantu meringankan beban hidupnya, yakinlah, surga balasannya.

    Jasa dan perjuangan mereka tidak akan bisa kita balas dan bayar lunas. Demi Allah, sebanyak apa pun yang pernah kita berikan, apa pun yang pernah kita serahkan kepada orang tua kita, tidak akan setimpal dengan perjuangan dan pengorbanan mereka membesarkan kita.
    Idul fitri sebagai sarana untuk bermuhasabah dalam kehidupan berumah tangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

    Dalam kehidupan rumah tangga pasti tidak selamanya baik-baik saja. Dalam interaksi dan komunikasi antaranggota keluarga, bisa jadi ada kesalahpahaman yang menimbulkan perselisihan dan pertentangan, bahkan pertengkaran. Ada kenakalan anak yang tidak mematuhi perintah orang tua. Ada perselisihan antara kakak dan adik yang memicu pertengkaran.

    Ada orang tua yang tidak memberi teladan yang baik pada anaknya. Ada anak yang kurang menghormati dan menghargai orang tua. Ada istri yang tidak taat dan berkata kasar pada suami. Ada juga suami yang tidak memenuhi tanggung jawab pada istri dan anak-anaknya. Ada istri yang merasa kurang diperhatikan.

    HAda suami yang merasa kerjanya kurang dihargai, dan masalah-masalah lain, yang jika tidak dikelola secara sabar bisa menimbulkan masalah dan dosa.

    Untuk itu, mari, di momentum Idul fitri hari ini kembali kepada Fitrah untuk membangun pradaban dengan saling membuka diri untuk saling memaafkan. Kesiapan kita untuk introspeksi diri, saling menerima kelebihan dan kekurangan, berkomitmen untuk terus belajar lebih baik adalah pelajaran berharga.

    اَللهُ اَكْبَر اَللهُ اَكْبَر وَلِلَّهِ الْحَمْدِ
    Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah
    Pada akhirnya, setelah bulan Ramadhan berlalu ditahun ini, marilah kita lebih meningkatkan kualitas iman, ilmu dan amal, sebab berhasilnya orang yang beramal dibulan ramadhan terlihat setelah Ramadhan itu berlalu.

    Dan marilah pada bulan syawal ini, kita saling bersilaturrahim dan bermaafan. Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat Ali Imran 133-134
    وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٣٤)
    Artinya: Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.

    Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Ali-Imran: 133-134).
    كل بنى ادم خطأ وخير الخطائين التوابون (رواه مسلم)
    Artinya: “Setiap manusia itu bersalah, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah (berdosa) adalah taubat” (HR. Muslim).

    Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan
    Tidak ada seorang manusia pun yang luput dari dosa dan kesalahan, mari kita hamparkan tikar perdamaian dan saling mendoakan dengan ucapan
    تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ.

    Semoga amal ibadah kami dan kalian diterima oleh Allah SWT.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *