Makkah, panjimas – Menjelang puncak ibadah haji yang akan berlangsung Kamis, 5 Juni 2025, anggota Amirul Hajj yang juga Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Sekjen MUI) Buya Amirsyah Tambunan mengajak seluruh jemaah haji Indonesia untuk memusatkan perhatian dan kesiapan penuh dalam menghadapi fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
“Tiga titik ini harus benar-benar menjadi fokus karena cukup menguras fisik dan mental. Maka dibutuhkan kesiapan spiritual, mental, dan fisik yang prima. Termasuk juga kesiapan pelayanan oleh para petugas haji,” ujar Buya Amirsyah di Makkah, Rabu (4/6).
Buya Sekjen juga mengingatkan bahwa rangkaian ibadah di Armuzna merupakan tahapan paling krusial dalam pelaksanaan haji. Setiap jemaah dituntut tidak hanya siap secara fisik, tetapi juga menjaga kebersamaan agar tidak tercecer dari rombongan.
“Kami berharap saat menjalani Armuzna ini jemaah tidak sakit atau tidak keluar dari rombongan, sehingga petugas tidak kerepotan dalam pencarian,” imbuhnya.
Armuzna adalah singkatan dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina, tiga lokasi utama dalam fase puncak haji. Prosesinya dimulai pada 8 Zulhijah ketika jemaah bergerak ke Arafah untuk menjalani wukuf keesokan harinya. Untuk itu, Amirsyah menyarankan jemaah menyiapkan perlengkapan penting sejak dini.
Pertama, pakaian ihram dan perlengkapan dasar seperti sabuk, gelang identitas, serta dokumen pendukung harus dipastikan siap. Kedua, tas paspor tidak boleh tertinggal.
Di dalamnya bisa diisi kartu kesehatan, buku doa, dompet, dan obat-obatan pribadi. Ketiga, jemaah juga diminta membawa tas tenteng berisi pakaian ganti, kain ihram cadangan, Al-Qur’an, dan alat komunikasi.
Lebih jauh, Amirsyah juga mengingatkan makna haji tidak hanya ritual semata, tetapi juga transformasi sosial. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW tentang haji mabrur yang balasannya tiada lain kecuali surga. Rasulullah menyebut dua ciri haji mabrur: memberi makan orang lain dan bertutur kata baik.
“Kalau tiap tahun ada 221 ribu jemaah haji asal Indonesia, maka kita berharap lahir pula 221 ribu orang yang peduli sosial, arif, santun, dan menyejukkan suasana,” katanya.
Menurut Amirsyah, haji mabrur sejatinya membawa dampak besar bagi bangsa Indonesia, termasuk dalam mengatasi berbagai krisis, baik akhlak, ekonomi, politik, maupun budaya.
“Mari kita tunggu kehadiran dan kiprah haji mabrur di Indonesia untuk menyejahterakan dan mendamaikan kehidupan kebangsaan di Republik tercinta ini. Semoga!” pungkasnya













