MuhammadiyahNasionalNews

Kader Muhammadiyah di Libya Perkaya Wawasan Fikih Kontemporer

34
×

Kader Muhammadiyah di Libya Perkaya Wawasan Fikih Kontemporer

Sebarkan artikel ini

Tripologi, panjimas – Mahasiswa S2 Program Inkubasi Kader Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengadakan diskusi ilmiah seputar fikih kontemporer di Masjid Kampus Kulliyah Dakwah Islamiyah, Tripoli, Libya.

Kegiatan ini berlangsung selama dua pekan, sejak 19 Agustus hingga 3 September, digelar setiap tiga hari sekali selepas salat Isya. Diskusi dipandu oleh mahasiswa S2 sebagai pemantik dengan beragam topik yang diangkat dari kitab Qodhoya Fiqhiyyah Mu’ashiroh karya Abdul Haq Khumaisy, akademisi Universitas Sharjah, Uni Emirat Arab.

Beberapa tema yang dibahas antara lain: hukum aborsi (Andi Maulana), hukum pernikahan misyar (Bagus Aji Prayoga), hukum sinema dan akting (Zulfikar Audia Pratama), hukum asuransi (Mabafasa Alkhuluqi), hukum memiliki warga negara asing (Azkia Alghifari), hukum eutanasia (Muhaimin Albasyir), serta hukum partisipasi perempuan (Adi Setiawan).

Menurut koordinator kegiatan, Bagus Aji Prayoga, ide awal diskusi ini lahir dari kebutuhan sederhana.
“Sebetulnya diskusi ini awalnya kita inisiasi untuk mengisi kekosongan setelah ujian. Namun, kemudian kita buka untuk umum agar manfaatnya dapat diterima lebih luas,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Zulfikar Audia Pratama. Ia menuturkan, “Kegiatan diskusi seperti ini memang sudah lama kita rencanakan. Kita ingin menggunakan waktu kosong liburan dengan sebaik-baiknya, misalnya dengan mengadakan forum ilmiah. Selain itu, kita juga berinisiatif membersihkan sekitar asrama mahasiswa, sehingga ada dampak positif bagi diri dan lingkungan,” jelasnya.

Lebih dari sekadar forum ilmiah, suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Peserta bebas menyampaikan pandangan, bertanya, bahkan menanggapi dengan perspektif baru. Forum ini tidak hanya memperkaya wawasan fikih, tetapi juga menumbuhkan tradisi intelektual di kalangan mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di Libya.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, para mahasiswa menunjukkan bahwa liburan bukanlah alasan untuk berhenti belajar. Justru di sela waktu luang, mereka menjadikannya sebagai momentum memperdalam pemahaman agama sekaligus menebar manfaat lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *