Lamongan, panjimas – Prosesi haji dan umroh tidak hanya berisi tentang ibadah khusus saja, tapi di dalamnya juga terdapat anjuran untuk meraih karunia Allah SWT dengan cara berniaga atau berbisnis.
Hal itu disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy dalam launching Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) KBIHU Labbaik Surya Travelindo pada Sabtu (30/8) di Masjid Asy Syifa, Lamongan.
Muhadjir yang juga Penasehat Presiden Bidang Haji menyampaikan selamat dan apresiasi atas soft launching PPIU KBIHU Labbaik Surya Travelindo yang dikelola oleh keluarga Muhammadiyah di Lamongan ini.
Menurutnya ini adalah respons yang baik oleh Muhammadiyah, sebab potensi bisnis haji dan umroh ini masih begitu besar. Sebab jemaah yang berangkat haji dan umroh setiap tahunnya mencapai angka jutaan jiwa.
“Jadi peluang untuk menangani kalau tidak disebut bisnis umroh dan haji di masa depan itu masih sangat cerah,” katanya.
Mengutip Surat Al Baqarah ayat 198, Muhadjir Effendy menyebut, dalam pelaksanaan ibadah haji diperbolehkan juga untuk melakukan perniagaan atau bisnis dengan catatan mencari untung dari Tuhan.
Oleh karena itu, diperbolehkan ketika mengelola perjalanan haji dan umroh dengan pandangan bisnis. “Jangan sampai kemudian tidak menggunakan prinsip bisnis di dalam tata kelola,” sambungnya.
Mengulas sejarah haji, Muhadjir menjelaskan bahwa sebelum haji ditentukan sebagai rukun Islam, perjalanan haji sejak awal memang sarat akan transaksi jual beli baik barang maupun jasa.
Kota Mekkah, sambungnya, menjadi titik temu oleh para peziarah maupun kafilah dagang sejak zaman pra Islam. Para pejalan saat itu selain menjadikan Kota Mekkah sebagai tempat ziarah, juga menjadikannya sebagai tempat bisnis.
“Di samping untuk berziarah (di Mekkah) itu juga berbisnis – barter, jadi titik barter. Termasuk dari jalur Sutra China itu titik temunya di Mekkah. Di samping barter barang juga mengumpulkan perbekalan untuk melanjutkan ke perjalanan berikutnya, karena itu Zamzam menjadi strategis untuk komoditas waktu itu,” katanya.
Karena posisi strategis tersebut, Sumur Zamzam pernah hilang ratusan tahun karena ditimbun oleh Bani Jurhum – yang memiliki kepentingan supaya pusat transit berpindah dari Mekkah ke Yaman. Namun berhasil ditemukan kembali oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad.
Keberhasilan Abdul Muthalib kemudian menjadikan kembali Kota Mekkah sebagai pusat transit. Sehingga Bani Hasyim, yang merupakan klan dari Abdul Muthalib memegang peran penting di Kota Mekkah











