Kemenag

Milad ke-113 Muhammadiyah Diwarnai MDMC Ukir Sejarah : EMT Raih Pengakuan WHO

41

Makassar, panjimas – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, membuka Program Pelatihan dan Pendampingan untuk Memperkuat Kapasitas Organisasi Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Regional Timur di Universitas Muhammadiyah Makassar, Jumat (14/11).

Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi mendalam atas kiprah MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) yang kian diakui di tingkat nasional dan internasional.

Agus menegaskan bahwa di usia ke-13, MDMC memberikan “hadiah besar” bagi Muhammadiyah dan bangsa Indonesia. Hal ini ditandai dengan keberhasilan EMT Muhammadiyah meraih sertifikasi WHO, menjadikannya EMT pertama di Indonesia yang mendapat pengakuan tersebut, sekaligus ke-16 di tingkat internasional.

Prestasi ini, katanya, bukan hanya mengharumkan nama persyarikatan tetapi juga Indonesia di mata dunia.

Agus juga menyinggung kehadiran MDMC yang selalu berada di garis depan dalam setiap bencana, bahkan seringkali turun lebih cepat dari lembaga kebencanaan lain. Di banyak lokasi, relawan MDMC kerap bergabung dengan Kokam, membentuk kekuatan tanggap darurat yang solid dan dipercaya pemerintah.

Pengakuan terhadap kapasitas MDMC juga terlihat dari penunjukan Dr. Rahmawati Husein sebagai deputi di BNPB. Karena perannya di pemerintah, Rahmawati kini menjadi unsur pengarah dalam MDMC atau dewan pakar.

Dalam sambutannya, Agus memaparkan kisah panggilan mendadak dari Kementerian Luar Negeri ketika terjadi gempa besar di Turki. Tanpa ragu, Muhammadiyah diminta mengirim relawan sebagai representasi resmi Indonesia.

“Kalau negara yang meminta, saya langsung jawab siap,” ujarnya. Dari sekitar 26 anggota tim, 23 di antaranya adalah relawan Muhammadiyah. Bahkan, tenda EMT yang sebenarnya dipersiapkan untuk verifikasi WHO justru diminta pemerintah untuk ditinggal di Turki, meski nilainya mencapai Rp4,5 miliar.

Dengan dukungan MPKO, Lazismu, dan berbagai pihak lain, kebutuhan pengganti tenda akhirnya terpenuhi. MDMC pun kemudian resmi memperoleh sertifikasi WHO, yang membuat nama EMT Muhammadiyah sempat menjadi trending.

Relisiensi Bencana dan Kesiapsiagaan
Agus menekankan bahwa perubahan nama dari LPB menjadi LRB menunjukkan orientasi Muhammadiyah terhadap ketahanan (resilience), bukan hanya respons bencana. Ia menegaskan pentingnya kesiapsiagaan, meskipun suatu daerah jarang mengalami gempa.

Ia mencontohkan Papua, yang beberapa tahun lalu dilanda banjir bandang Wasior—sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan terjadi. Karenanya, kesiapsiagaan harus dikembangkan di seluruh wilayah, termasuk Indonesia Timur.

Agus memuji kemajuan Muhammadiyah di Makassar dan Indonesia Timur. Ia mengingatkan bahwa secara historis Muhammadiyah “lahir di Jogja, berkembang di Padang, dan besar di Makassar”. Peran perguruan tinggi Muhammadiyah di Makassar disebut sangat menonjol, termasuk sebagai pusat pendidikan kebencanaan Muhammadiyah.

Ia juga menyampaikan perkembangan menggembirakan dari Papua, termasuk pembangunan gedung Rumah Sakit Muhammadiyah di Sorong, serta wakaf dan pembebasan lahan seluas 54 hektare di Teluk Bintuni.

MDMC juga sedang mempersiapkan tim EMT untuk membantu pengungsi Palestina. Agus membuka kesempatan bagi relawan Indonesia Timur untuk turut bergabung. Penempatan tim masih dipertimbangkan sesuai kondisi negara-negara penerima pengungsi.

Agus bercerita bahwa atribut MDMC kerap membuatnya disapa oleh warga Indonesia di luar negeri. “Topi MDMC saja sudah jadi identitas,” ujarnya. Hal ini menunjukkan kuatnya brand MDMC sebagai simbol dedikasi kemanusiaan Muhammadiyah.

Di akhir sambutan, Agus menyampaikan permohonan maaf kepada struktural Muhammadiyah. Ia mengakui bahwa relawan MDMC sering bergerak begitu cepat sehingga terkadang melewati prosedur administratif.

“Untuk kebencanaan boleh melewati prosedur, tetapi untuk administrasi harus tetap prosedural,” tegasnya.

Acara pelatihan resmi dibuka dengan pembacaan basmalah yang dipimpin Agus. Ia menyampaikan terima kasih kepada Rektor Unismuh Makassar, PWM Sulawesi Selatan, serta seluruh peserta dari berbagai wilayah yang berkomitmen memperkuat kapasitas LRB.

“Semoga Allah menjaga niat kita tetap ikhlas, memberi kita semangat juang dan kesabaran,” tutupnya

Exit mobile version