Perlis, panjimas – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir membicarakan topik Muhammadiyah Masa Lalu, Kini, dan yang akan Datang dalam Dialog Intelek di Kangar Perlis pada Rabu (26/11). Ia menyampaikan, surat Al-‘Asr adalah salah satu yang menjadi fondasi gerakan Muhammadiyah dari dulu hingga saat ini.
‘Asr, kata Haedar, bukan hanya tentang waktu tapi modernitas. “Al-‘Asr juga memiliki makna Asy’ariyah, modernity. Yakni Islam sebagai Shalihul zaman wa makan,” jelasnya.
Muhammadiyah meletakkan surat Al-‘Asr sebagai fondasi gerakan, selain Al-Ma’un. Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan surat tersebut sampai 8 bulan lamanya kepada para santrinya.
Kiai Dahlan, menerjemahkan surat tersebut dalam konteks perbuatan yang tersistem. Haedar menyebutnya sebagai amaliyah yang terinstitusionalisasi atau terlembaga.
“Jadi, amal saleh itu kemudian diterjemahkan menjadi sebuah sistem. Lahirlah pendidikan, lahirlah hospital, lahirlah gerakan-gerakan sosial. Termasuk melahirkan gerakan perempuan Aisyiyah. Di mana pada saat itu di Indonesia paham tentang perempuan di itu dikendalikan, dihegemoni oleh paham tradisionalitas, bahwa perempuan harus didomestik, dan paham agama yang tidak membolehkan perempuan untuk ke ruang publik,” terangnya.
Haedar mengatakan, pemikiran-pemikiran modernis ini sebetulnya lahir dari paham Islam Berkemajuan. Muhammadiyah hari ini berbeda dengan Muhammadiyah pada masa lalu, karenanya Kiyai Ahmad Dahlan mengingatkan agar agama menjadi pedoman hidup baru untuk hidup di tengah tantangan zaman saat ini dan ke depan.
“Seperti yang diisyaratkan Kiai Dahlan tahun 1912. Saat ini, nanti akan berbeda dengan Muhammadiyah yang akan datang, karena itu, setiap anggota Muhammadiyah, setiap kader Muhammadiyah itu harus terus mencari ilmu, harus terus berbuat yang terbaik,” ujar Haedar.
Pemikiran Islam Berkemajuan itu, pertama, dasarnya Tauhid. Dari tauhid melahirkan pandangan kesemestaan.
Kedua, “Ar ruju’ ilal quran wa sunnah. “Al-Quran dan As-Sunnah harus menjadi kitab kehidupan umat manusia, baik yang muslim, bahkan menjadi sinar bagi yang non muslim,” lanjut Haedar.
Ketiga menghidupkan kembali tajdid dan ijtihad, dan yang keempat, wawasan Islam Berkemajuan itu mengembangkan wasthiyah Islam.
“Memahami wasathiyah Islam bukan hanya Islam yang damai, Islam yang humanis, toleran, cinta dan kasih, kebersamaan. Tetapi Islam yang membawa kemajuan hidup,” tegas Haedar. Dan yang kelima, mewujudkan risalah rahmatan lil ‘alamin













