MuhammadiyahNasionalNews

Kuliah Ulama Tarjih Muhammadiyah, Din Syamsuddin : Ulama Bukan Hanya Ahli Fikih tapi Ahli Semua Disiplin Ilmu

28
×

Kuliah Ulama Tarjih Muhammadiyah, Din Syamsuddin : Ulama Bukan Hanya Ahli Fikih tapi Ahli Semua Disiplin Ilmu

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. M. Din Syamsuddin mengatakan bahwa predikat ulama tidak hanya dapat dilekatkan pada seorang yang ahli di bidang ilmu fikih atau hukum Islam, tapi pada semua disiplin ilmu. Demikian ditegaskannya pada Kuliah Umum di Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM), Kaliurang, Yogyakarta, 22 Januari 2026.

Kuliah Umum diikuti sekitar 300 Thalabah/Thalibat PUTM yg berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, selama ini ada salah kaprah di Dunia Islam termasuk Indonesia bahwa ulama (atau alim) adalah seseorang yang memiliki wawasan ilmu pengetahuan atau kepakaran dalam bidang ilmu fikih atau hukum Islam.

Mereka (para ulama itu) dimintai fatwa tentang segala masalah kehidupan. Hal itu bersifat reduksionis terhadap ilmu-ilmu keislaman yang luas, dan ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya.

Menurut Mantan Ketua Umum MUI Pusat ini, ayat Al-Qur’an (Surah Fathir Ayat 28) yang menyebut kata ulama sebagai kelompok yang takut kepada Allah SWT didahului dengan pernyataan tentang manusia, makhluk melata, binatang yang beragam warnanya. Ayat sebelumnya (Surah Fathir Ayat 27) menegaskan tentang keanekaan warna dari buah-buahan, dan pegunungan.

Maka kata ulama pada akhir ayat itu, menurutnya mengisyaratkan mereka yang memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang keaneka ragaman makhluk Alla itu, baik manusia, fauna, dan flora, serta jagat raya secara keseluruhan. Karena hal ini berkait dengan aneka disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu pengetahuan alam maupun ilmu-ilmu pengetahuan sosial, maka ulama adalah pakar dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan tsb.

Jadi, selain ada ulama bidang syariah, bidang ushuluddin, bidang tasawwuf, juga ada ulama kimia, biologi, fisika, astronomi, antropologi, sosiologi, ekonomi, politik dan lain sebagainya. Syaratnya adalah para ulama multi disiplin itu memiliki khasyatullah (rasa tunduk, patuh dan takut kepada Allah SWT, Pencipta Alam Semesta).

 

Lebih lanjut, menurut Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta itu, para ulama zaman klasik, seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Farabi, atau Ibnu Khaldun, umpamanya, adalah ulama yang menguasai dasar-dasar ilmu keislaman seperti Ilmu Kalam dan Ilmu Fikih, tapi mereka juga menguasai ilmu pengetahuan seperti matematika, biologi, fisika, antropologi dan sosiologi.

Di sinilah terjadi perpaduan pengetahuan hasil penafsiran antara ayat-ayat wahyu (ayat-ayat Qauliyah) dan ayat-ayat semesta (ayat-ayat kauniyah). Nilai dan ilmu Sang Pencipta Allah SWT terdapat pada kedua dataran luas itu, yaitu wahyu dan alam semesta, ayat-ayat yang tersurat dan ayat-ayat yang maftuhat.

 

Oleh karena itu, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu berharap kepada Thalabah/Thalibat PUTM sebagai calon ulama Muhammadiyah agar mempelajari semua bidang ilmu. Walaupun nanti, hanya satu-dua bidang ilmu yang dikuasai secara mendalam, tapi bidang-bidang ilmu lain tidak ditinggalkan sama sekali. Ulama Muhammadiyah perlu berwawasan luas, tidak hanya mampu membaca kitab-kitab kuning (kitab-kitab klasik yg sudah tua dan kertasnya berwarna kuning), tapi juga buku-buku putih sebagai hasil penemuan ilmiah baru.

Pada bagian akhir kuliah umumnya, dan atas pertanyaan peserta, Din Syamsuddin menegaskan bahwa ulama Muhammadiyah adalah kaum cerdik-cendekia yang tegas berpegang teguh pada prinsip, luas dalam pengetahuan, luas dalam pergaulan, dan luwes dalam pendekatan.

“Hanya dengan demikian, umat Islam akan bisa bangkit kembali memegang supremasi peradaban dunia,” pungkasnya.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *