BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Milad ke-24, Lazismu Perkuat Integrasi untuk Perluas Dampak Pemberdayaan

49
×

Milad ke-24, Lazismu Perkuat Integrasi untuk Perluas Dampak Pemberdayaan

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, panjimas – Lazismu menggelar Resepsi Milad ke-24 pada Rabu (29/7) di Aula lantai 4 Perpustakaan Nasional, Gambir, Jakarta Pusat. Milad ini menjadi momentum untuk memperkuat integrasi kelembagaan sekaligus memperluas kolaborasi dalam meningkatkan dampak pemberdayaan masyarakat.

 

Mengusung tema “Integrasi Menguatkan Dampak”, peringatan tahun ini menjadi ruang refleksi atas perjalanan Lazismu selama lebih dari dua dekade sekaligus penegasan arah pengembangan lembaga dalam menghadapi berbagai tantangan sosial di masa depan.

 

Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, menyampaikan bahwa tema milad tahun ini dipilih sebagai hasil refleksi atas perjalanan Lazismu sejak berdiri pada 4 Juli 2002. Menurutnya, penguatan lembaga tidak cukup dilakukan melalui peningkatan penghimpunan dana, tetapi juga melalui integrasi tata kelola, sistem informasi, dan sinergi antarlembaga agar manfaat yang dirasakan masyarakat semakin besar.

 

“Integrasi harus menjadi fondasi agar seluruh potensi yang dimiliki Lazismu dapat bergerak dalam satu arah dan menghasilkan dampak yang lebih luas,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan, peringatan Milad ke-24 juga diramaikan dengan berbagai kegiatan di tingkat wilayah dan daerah, seperti distribusi bantuan kepada masyarakat, makan bersama, fun walk, hingga run for charity yang akan terus digelar sebagai bagian dari syiar gerakan filantropi Islam.

 

Selain penguatan kelembagaan, Lazismu juga menegaskan pentingnya menyusun program berdasarkan kebutuhan riil masyarakat. Menurut Ahmad Imam Mujadid Rais, pendekatan pemberdayaan harus diawali dengan mendengarkan persoalan yang dihadapi masyarakat sehingga program yang dijalankan benar-benar mampu memberikan solusi.

 

“Jangan sampai kita menyusun program hanya dari balik meja. Kita harus hadir, mendengar, dan memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat,” katanya.

 

Sejumlah program pemberdayaan yang telah berjalan, seperti pengembangan pertanian organik, pendampingan pelaku usaha mikro, hingga penguatan ekonomi masyarakat melalui bantuan modal usaha, disebut sebagai contoh pendekatan yang berorientasi pada penyelesaian persoalan di lapangan.

 

Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan zakat tidak hanya diukur dari besarnya dana yang dihimpun maupun disalurkan, tetapi juga dari dampak yang dihasilkan. Salah satu indikator yang terus didorong adalah transformasi mustahik menjadi muzaki melalui program pemberdayaan yang berkelanjutan.

 

Karena itu, Lazismu mendorong penguatan sistem pengukuran dampak sejalan dengan indikator dalam Indeks Zakat Nasional yang menempatkan tata kelola dan dampak sebagai ukuran utama kinerja lembaga pengelola zakat.

 

Resepsi Milad ke-24 juga menyoroti tantangan sosial yang akan dihadapi masyarakat pada masa mendatang, termasuk dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian dan kelompok masyarakat rentan. Persoalan lingkungan dipandang perlu menjadi bagian dari agenda strategis Lazismu hingga 2030 agar program pemberdayaan mampu menjawab tantangan yang terus berkembang.

 

Di sisi lain, penguatan akuntabilitas juga menjadi perhatian utama. Lazismu terus memperkuat tata kelola melalui kerja sama dengan berbagai mitra strategis serta mendorong penerapan konsep social return on investment agar manfaat sosial dari setiap dana yang dihimpun dapat diukur secara lebih objektif dan dirasakan oleh masyarakat maupun para mitra.

 

Memasuki usia ke-24 dan menyongsong seperempat abad perjalanan pada tahun depan, Lazismu berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan, memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, serta menghadirkan program-program yang semakin berdampak bagi kesejahteraan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *