MANGGARAI TIMUR panjimas — Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan yang telah bertugas selama hampir tiga pekan dalam penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bendahara Umum PP Muhammadiyah Hilman Latief mengungkapkan, pengabdian para relawan selama berada di lapangan bukan perkara mudah. Sebagian dari mereka bahkan harus meninggalkan pekerjaan dan aktivitas profesional untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak.
“Atas nama PP Muhammadiyah, saya ucapkan terima kasih atas seluruh proses yang berjalan tiga minggu di lapangan. Bukan perkara yang mudah. Alhamdulillah, saya dengar teman-teman relawan yang lain telah datang untuk mengganti shift. Ini momentum yang baik untuk kita menjaga kontinuitas,” ujar Hilman di Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, NTT pada Ahad (6/9).
Menurutnya, kesinambungan menjadi bagian penting dalam kerja kemanusiaan Muhammadiyah. Ia mengingat ungkapan di lingkungan Persyarikatan bahwa relawan Muhammadiyah berusaha datang lebih awal ketika bencana terjadi dan pulang paling akhir setelah proses penanganan berjalan.
Hilman menuturkan, sebagian relawan yang diterjunkan merupakan tenaga kesehatan dan dokter spesialis yang harus meninggalkan tempat praktiknya selama menjalankan misi kemanusiaan.
“Relawan-relawan ini meninggalkan pekerjaannya. Dokter-dokter spesialis yang praktik, mereka tinggalkan selama tiga minggu,” katanya.
Pengorbanan tersebut, lanjut Hilman, tidak dapat dilepaskan dari spirit keagamaan yang menjadi dasar gerakan kemanusiaan Muhammadiyah. Ia mengutip pesan Al-Qur’an, wa ta‘āwanū ‘alal-birri wat-taqwā, yakni saling bekerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan.
Hilman juga menyinggung Surah Al-Balad yang berbicara tentang al-‘aqabah, yakni jalan yang berat dan sulit. Menurutnya, pesan tersebut mengajarkan keberanian untuk mengambil keputusan nyata dalam membantu sesama, seperti memberi makan, menolong masyarakat dalam kesulitan, serta hadir bagi kelompok rentan.
“Kita tidak bicara pribadi. Alhamdulillah, Muhammadiyah dan tentu organisasi keagamaan yang lain memperkuat level itu sehingga kita menjadi gerakan kolektif,” ujarnya.
Ia menambahkan, kesiapan para relawan Muhammadiyah merupakan hasil proses panjang yang dibangun melalui konsolidasi internal, antara lain bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), LAZISMU, Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU), serta berbagai unsur Persyarikatan.
Salah satu bentuk penguatan tersebut dilakukan melalui pengembangan Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah yang telah dipersiapkan sejak 2018. Proses itu mencakup peningkatan pengetahuan, keterampilan, prosedur, sertifikasi, serta mentalitas relawan dalam memberikan pelayanan kedaruratan.
“Kami tidak ingin semangat kawan-kawan ini terhambat hanya karena masalah administrasi,” jelas hilman.
Hilman menyebut proses panjang tersebut memungkinkan relawan Muhammadiyah bergerak dengan standar yang lebih baik, baik dalam penanganan bencana di dalam negeri maupun dalam misi kemanusiaan internasional.
Ia menilai capaian tersebut merupakan hasil perjuangan bersama MDMC, tenaga kesehatan, relawan, serta banyak pihak yang selama bertahun-tahun membangun kapasitas kemanusiaan Muhammadiyah.
PP Muhammadiyah juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat yang turut berperan dalam proses penanganan bencana di NTT.
Menurut Hilman, kerja kemanusiaan membutuhkan kekuatan kolektif karena proses pemulihan tidak berlangsung dalam waktu singkat.
“Misi keagamaan dan kemanusiaan itu perlu kerja keras yang luar biasa. Kalau tidak kuat dan tidak kolektif tentu akan berat. Kita ingin membangun persaudaraan kemanusiaan yang kuat dari proses yang kita jalankan,” pungkasnya.













