BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Ketika Keluarga Nahdhiyin Memilih Kampus Muhammadiyah, Ketua Umum Angkat Bicara

86
×

Ketika Keluarga Nahdhiyin Memilih Kampus Muhammadiyah, Ketua Umum Angkat Bicara

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, panjimas  – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir turut menanggapi video yang sempat viral terkait banyaknya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dari keluarga Nahdhiyin dari pada keluarga Muhammadiyah.

 

Video tersebut diunggah oleh Founder Drone Emprit yang juga Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, Ismail Fahmi, usai menjadi narasumber Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) di Fakultas Teknik UMM pada Rabu (9/9/2026).

 

Dalam video tersebut, Ismail Fahmi bertanya kepada seluruh mahasiswa Fakultas Teknik UMM. “Siapa yang dari keluarga Muhammadiyah?” tanyanya. Kemudian ada beberapa mahasiswa yang mengangkat tangan.

 

Sementara saat Ismail Fahmi bertanya kembali. “Siapa yang dari keluarga Nahdhatul Ulama (NU)?” Mayoritas mahasiswa mengangkat tangan sambil mengatakan “Saya!”

 

Video tersebut diupload Ismail Fahmi dengan caption. “Survey Family 100 Pesmaba Universitas Muhammadiyah Malang. Siapa yang dari Keluarga MU? Siapa dari Keluarga NU? Hasilnya di luar nurul. This is UMM,” tulisnya.

 

Haedar Nashir Berharap Semua Kelompok Terangkat Maju

Ditemui usai peluncuran logo Tanwir dan Milad ke-114 di Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026), Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir santai menanggapi hal itu. Ia mengaku sejak dulu Muhammadiyah memang begitu.

 

“Jadi, sekolah-sekolah Muhammadiyah, Perguruan Tinggi, itu kan dari berbagai golongan. Dan sekolah-sekolah Muhammadiyah termasuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah memang tidak untuk keluarga Muhammadiyah saja,” katanya.

 

Baca Juga: Malang Melintang di Dunia Kewartawanan, Haedar Nashir: Saya Jurnalis, Karena Itu Saya Ada

 

Menurut Haedar, justru di situ siswa atau mahasiswa belajar tentang toleransi dan belajar berbagai pandangan keislaman. Karena baginya, toleransi yang paling susah itu sebenarnya di satu golongan agama, bukan antaragama.

 

“Kalau antaragama sudah jelas kan. Tapi kalau di satu agama seperti kita hidup di keluarga. Jadi itu sesuatu yang positif dan lazim di Muhammadiyah sudah lama,” ucapnya.

 

Haedar berharap, mudah-mudahan dengan cara seperti itu ada transfer nilai tentang Muhammadiyah, karena organisasi ini membawa misi Islam yang berkemajuan.

 

“Supaya anak bangsa dari manapun datangnya, hidup berakhlak mulia tapi pikirannya maju. Sehingga dengan pikiran maju, ya Alhamdulillah semua kelompok bangsa jadi terangkat kemajuan. Nah itu baik,” ucapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *