Keberhasilan membangun institusi yang kokoh dan penuh berkah merupakan hasil dari proses tata kelola yang terukur dan berkesinambungan. Fondasi ini dibentuk oleh kesadaran kolektif, niat yang lurus, dan eksekusi sistem yang baik. Namun, jika kita mengevaluasi keadaan saat ini, secara faktual penerapan Good University Governance (GUG) belum terimplementasi dengan optimal. Ketidaksiapan inilah yang berdampak langsung pada terhambatnya visi besar institusi, ibarat memaksakan pencapaian yang menjulang tinggi di atas fondasi sistem yang masih rapuh dan belum sepenuhnya mapan.
Mengawali hari Jumat ini, mari kita refleksi untuk benahi dan perkuat kembali fondasi tersebut bersama-sama. Sejalan dengan filosofi Sulapa Eppa yakni tentang keseimbangan empat sisi yang mengokohkan suatu bangunan, institusi kita juga membutuhkan empat pilar penggerak yang saling menopang untuk mewujudkan tema kita hari ini:
THE PILLAR of GOOD GOVERNANCE : Membangun Institusi yang Kuat, Sehat, dan Berkah
Sebagai langkah nyata untuk memperkuat fondasi tersebut, mari kita resapi empat pilar ini bersama ini. Jangan jadikan sebagai beban atau tuntutan, melainkan sebagai panggilan hati untuk terus memperbaiki diri:
1. Personal Itqan Menumbuhkan Kualitas dari Dalam Diri
Perubahan yang besar selalu bermula dari kesadaran setiap individu. Tata kelola yang baik tidak akan terwujud tanpa adanya itqan, yaitu bekerja dengan sungguh-sungguh, teliti, dan penuh tanggung jawab. Ketika kita menyadari bahwa setiap lelah dan peluh di meja kerja senantiasa diawasi dan dinilai oleh Allah SWT, pekerjaan kita akan berubah wujud menjadi ibadah. Sebagaimana ayat berikut:
وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ….
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu…” (QS. At-Taubah: 105)
2. Syura Synergy Merangkul Sahabat dalam Satu Barisan
Sebaik apa pun kemampuan kita, amanah institusi ini tidak akan sanggup dipikul sendirian. Kita tidak sedang mencari seorang superhero , melainkan merajut sebuah superteam. Kolaborasi yang baik terbangun saat kita bersedia saling terbuka, menghargai masukan, dan membiasakan musyawarah (syura). Dalam ikatan inilah, kita tidak sekadar rekan kerja, melainkan saudara yang saling menguatkan.
… وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ …
“…sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka…” (QS. Asy-Syura: 38)
3. Muhasabah Progresif : Keberanian untuk Berkaca dan Memperbaiki Diri
Institusi yang sehat bertumbuh dari kebiasaan mengevaluasi diri. Melalui muhasabah, kita diajak melihat kembali apa yang sudah dikerjakan tanpa perlu saling menyalahkan. Kita mengenali kekurangan semata-mata untuk memperbaiki sistem kerja dan menata langkah yang lebih baik untuk hari esok.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ…
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok…” (QS. Al-Hasyr: 18)
Dalam konteks pendidikan tinggi, muhasabah diwujudkan melalui monitoring, evaluasi, audit, penjaminan mutu, pengukuran kinerja, dan tindak lanjut perbaikan
4. Tajdid Transformatif : Menyalakan Harapan melalui Pembaruan
Perubahan adalah hal yang tidak bisa kita hindari. Tajdid mengajarkan kita untuk tidak terpaku pada rutinitas masa lalu dan terus menyesuaikan diri. Karena hanya dengan kesediaan untuk berinovasi, institusi ini bisa terus berkembang dan memberi dampak positif yang nyata.
…إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ…
“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Refleksi Penutup
Rekan-rekan yang dirahmati Allah, Good Governance pada akhirnya bukanlah hanya tentang sederet prosedur, akreditasi, atau pemenuhan aturan semata. Lebih dari itu, tanpa sistem yang berjalan dengan benar, keadilan tidak akan pernah dirasakan dan terwujud. Tata kelola ini baru akan bermakna ketika:
Itqan melahirkan kinerja yang ikhlas,
Syura melahirkan kehangatan kolaborasi,
Muhasabah melahirkan perbaikan yang tiada henti, dan
Tajdid melahirkan transformasi yang membawa harapan.
Mari jadikan Jumat ini sebagai titik balik yang tenang di dalam hati kita masing-masing. Sambil tersenyum memulai hari, mari kita tanyakan pada diri sendiri:
“Kebaikan kecil apa yang bisa saya persembahkan hari ini, agar fondasi institusi tempat saya mengabdi menjadi sedikit lebih kuat, lebih bermanfaat, dan lebih lekat dengan keberkahan”
Selamat merajut asa dan menunaikan amanah.
Selamat menebar kebaikan di mana pun kita berada.
Abdul Hamid Cebba











