Jakarta, panjimas – The Lead Institute Universitas Paramadina bersilaturahmi atau saba sekaligus meneliti kearifan lokal Sunda masyarakat adat Kasepuhan Adat Banten Kidul di Kasepuhan Gelaralam terkait pelestarian alam dan ketahanan pangan.
Kasepuhan Gelaralam berada di kawasan pedalaman Gunung Halimun-Salak, yang secara administratif berada di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Agenda penelitian masyarakat adat “Saba Kasepuhan 2026” ini merupakan bagian dari Program Perempuan dan Aksi Iklim yang dicanangkan The Lead Institute Universitas Paramadina.
The Lead Institute bekerja sama dengan MaHa Indonesia, Pratita Foundation, dan Pray Foundation mengirim lima peneliti untuk memotret upaya Urang Gelaralam dalam menjaga kelestarian lingkungan dan menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman krisis iklim.
Tim peneliti yang terlibat yakni Maya Fransiska MA, Hani Djoko MSi, Dida Darul Ulum MA, dan Suandri Ansah.Kepala tim peneliti sekaligus Ketua The Lead Institute Universitas Paramadina, Dr. phil. Suratno Muchoeri menjelaskan,Kasepuhan Gelaralam merupakan salah satu role model keberhasilan penyatuan budaya, tradisi, dan lingkungan.

“Termasuk korelasinya dengan nilai-nilai agama Islam dan Sunda Wiwitan. Kita menggali kearifan lokal terkait tradisi danbudaya dan bagaimana keduanya berkorelasi dengan keberlanjutan lingkungan serta ketahanan pangan,” ujar Suratno,Selasa 13 Oktober 2026.
Peneliti The Lead Institute, Maya Fransiska, MA mengungkapkan bahwa wilayah Kasepuhan Gelaralam hidup dalam karakteristik, yang dalam Babad Cianjur di sebut galudra ngupuk, kawasan yang tanahnya bagus dan dikelilingi sungaimengalir.Antar kawasan permukiman tampak dipisahkan oleh sungai, hutan, huma, dan balong.
Rumah-rumah penduduk berarsitekturpanggung dengan atap ilalang yang secara struktur bangunan memiliki kelebihan tidak mengganggu daerah resapan air danaman dari gempa.Keberadaan sungai bagi masyarakat adat kasepuhan sangat vital, karena selain irigasi pertanian, aliran sungai saat ini juga dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik terbarukan yang dihasilkan lewat Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh).
Pejabat Kasepuhan, Aki Dai atau akrab disapa Aki Tunggara menjelaskan, masyarakat Kasepuhan Gelaralam adalahmasyarakat berbudaya padi sebab aktivitas utamanya berpusat pada pertanian padi.Selain itu, ada juga masyarakat adat yang jadi peternak, pedagang, pegawai, pekerja gigs maupun pekerja migran sebagaimana yang dilakukan cucu Aki Dai yang bekerja di Jepang.
“Tiap-tiap tahapan proses tanam wajib dimulai dengan upacara atau ritual memohon berkah para leluhur,” kata Aki Dai.Terdapat berbagai rangkaian ritual sejak padi belum ditanam sampai berhasil dipanen, yakni dimulai dari Ngaseuk, SapangJadian Pare, Nyiram Pare, Sawenan, Mipit Pare, Nganyaran/Ngabukti sampai Seren Taun.
“Ritualnya dipimpin sama Abah dibantu sama yang namanyaRorokan Pamakayaan (pejabat sepuh yang khusus bertugasmengurus ritual budaya padi),” kata Aki Dai.
Maya menjelaskan, dalam tradisi Kasepuhan Gelaralam ritual Ngaseuk, Sapang Jadian Pare, Nyiram Pare, Sawenan, danMipit Pare merupakan ranah kerja pria, sedangkan tahap Nganyaran/Ngabukti menjadi ranah kerja perempuan.
“Secara teknis pelaksanaan terkait persiapan pangan warga ketika melakukan ritual secara keseluruhan adalah tanggungjawab komunal perempuan di Imah Gede,” tutur Maya.
Imah Gede adalah bangunan adat yang menjadi episentrum pemerintahan dan kegiatan adat warga Kasepuhan Gelaralam.Selain tempat tinggal Kepala Adat, Imah gede juga menjelma sebagai ruang komunal masyarakat.
Adalah Babantos, tradisi gotong royong kaum perempuan di Imah Gede dengan aktivitas seperti mamasak makanan pokok,lauk-pauk, membuat kudapan, dan semacamnya untuk menjamu tamu adat maupun untuk makan sehari-hari.Aktivitas perempuan di Imah Gede akan semakin sibuk menjelang ritual adat.
Selain perempuan yang mendapat giliranbertugas, perempuan lain yang tidak wajib piket juga banyak yang tetap datang membantu selepas menyelesaikan pekerjaanrumah tangga.Hasil masakan di Imah Gede biasanya akan dibawa pulang oleh ibu-ibu piket maupun mereka yang sekadar membantu untukdimakan oleh keluarga di rumah masing-masing.
“Kalau yang perempuan biasanya rutin bantu-bantu di Imah Gede setiap hari untuk masak-masak. Saya mah senang karenaramai, jadi ada kegiatan daripada diam di rumah,” kata Suwarsih, anak Aki Dai.
Pengelolaan rumah tangga adat di Imah Gede berada dibawah kendali istri Abah sebagai otoritas perempuan tertinggi di Kasepuhan Ciptagelar.Mamah Dede adalah istri dari Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, sang pemimpin Kasepuhan Ciptagelar saat ini. Dia lah yang menentukan kebijakan anggaran belanja serta mengatur stok padi dan bahan pangan lainnya.
“Ini membuktikan bahwa ketahanan pangan masyarakat adat Kasepuhan Gelaralam sudah merata dan berkeadilan, bahkansampai dalam tingkat satuan keluarga,” kata Maya.
“Kita bisa belajar banyak hal dari Kasepuhan Gelaralam, terutama bahwa kebudayaan Sunda itu hidup, dihayati, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam bentuk nilai-nilai, norma, aktivitas maupun produk budaya,” kata Suratno.











