JAKARTA, panjimas – Pemeriksaan kesehatan gratis menjadi salah satu upaya mendorong deteksi dini penyakit kronis. Kemenkes menargetkan peningkatan usia harapan hidup masyarakat Indonesia. Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada kegiatan Cek Kesehatan Gratis bagi wartawan senior yang digelar Kemenkes bekerjasama dengan Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI) di gedung Suyudi Kemenkes pada Senin (26/10/2026).
Menkes mengungkapkan Kementerian Kesehatan memiliki target peningkatan usia harapan hidup masyarakat Indonesia dari 72 tahun menjadi 76 tahun. Target tersebut berkaitan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan sasaran pembangunan yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto.
Budi mengatakan, peningkatan usia harapan hidup tidak cukup hanya dilihat dari bertambahnya usia seseorang. “Kualitas kesehatan selama menjalani kehidupan juga harus menjadi perhatian utama,” kata Menkes.
Ia mencontohkan kondisi seseorang yang masih hidup hingga usia lanjut, tetapi telah mengalami penyakit berat sejak puluhan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa panjangnya usia belum tentu diikuti dengan kualitas hidup yang baik.
Menurutnya, upaya pencegahan penyakit kronis perlu menjadi perhatian bersama agar masyarakat tidak hanya memiliki usia harapan hidup yang lebih panjang, tetapi juga dapat menjalani masa tua dalam kondisi sehat dan produktif. Sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penyakit tidak menular, terutama stroke, penyakit jantung, gangguan ginjal, dan kanker.
Selain menargetkan peningkatan usia harapan hidup dari 72 menjadi 76 tahun, Budi juga menyampaikan sasaran peningkatan usia harapan hidup sehat dari 60 menjadi 65 tahun. Ia berharap upaya pencegahan penyakit dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dapat membantu mencapai kedua sasaran tersebut.
Menurut Budi, keberadaan orang-orang yang tetap aktif pada usia lanjut menjadi pengingat bahwa kesehatan perlu dipelihara secara konsisten. Ia berharap semakin banyak wartawan senior yang dapat mencapai usia di atas 80 tahun dalam kondisi sehat.
Menkes menjelaskan bahwa keberhasilan pembangunan kesehatan tidak hanya diukur melalui angka usia, tetapi juga melalui kemampuan masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari tanpa mengalami gangguan kesehatan yang berat. Dalam konteks tersebut, wartawan senior menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian melalui kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis.
Pemeriksaan ini diharapkan dapat membantu peserta mengenali kondisi kesehatannya lebih awal, terutama jika memiliki faktor risiko penyakit yang tidak selalu menimbulkan gejala pada tahap awal.
Stroke, Penyakit Jantung, dan Gangguan Ginjal Jadi Perhatian
Budi menjelaskan bahwa upaya meningkatkan usia harapan hidup harus dimulai dengan memahami penyakit yang dapat menyebabkan kematian dini atau menurunkan kualitas hidup. Dalam paparannya, ia menyoroti stroke, penyakit jantung, kanker, dan gangguan ginjal sebagai sejumlah penyakit yang perlu mendapat perhatian serius.
Menurutnya, pencegahan dan pengendalian faktor risiko dapat menjadi langkah penting untuk mengurangi kemungkinan seseorang mengalami penyakit tersebut. Stroke, misalnya, dapat menimbulkan gangguan fungsi tubuh yang berdampak panjang terhadap kehidupan seseorang. Sementara itu, penyakit jantung dapat menyebabkan kondisi darurat yang memerlukan penanganan segera.
Gangguan ginjal juga perlu diwaspadai karena pada kondisi tertentu dapat berkembang hingga membutuhkan terapi pengganti fungsi ginjal, termasuk dialisis atau cuci darah.
Budi mengingatkan bahwa sebagian penyakit kronis berkembang secara bertahap. Seseorang dapat merasa sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa, meskipun hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah, gula darah, atau kolesterol yang tinggi. Karena itu, ia mengajak masyarakat agar tidak hanya mengandalkan kondisi tubuh yang terasa bugar untuk menilai kesehatannya.
Pemeriksaan berkala diperlukan untuk mengetahui faktor risiko yang mungkin belum menimbulkan keluhan. Dengan mengetahui kondisi tersebut lebih awal, masyarakat dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dan memperoleh penanganan sesuai kebutuhan.
Menkes Tekankan Tiga Kebiasaan Sehat
Dalam sambutannya, Budi memaparkan tiga kebiasaan yang menurutnya perlu diterapkan untuk mendukung kesehatan jangka panjang, yakni tidur yang cukup, olahraga teratur, dan mengatur pola makan.
Pertama, tidur cukup dan teratur. Budi menekankan pentingnya memberikan waktu istirahat yang memadai bagi tubuh. Ia menyampaikan anjuran tidur sekitar 7 jam 40 menit sehari sebagai bagian dari pola hidup yang ia sarankan kepada para peserta.
Ia juga menyinggung penggunaan perangkat pemantau aktivitas untuk melihat durasi tidur dan aktivitas fisik sehari-hari.
Dalam kesempatan tersebut, Budi menceritakan bahwa perangkat yang digunakannya mencatat durasi tidurnya hanya sekitar lima jam lebih. Ia menjadikan pengalaman itu sebagai pengingat bahwa kebiasaan tidur perlu diperhatikan, termasuk oleh orang yang memiliki kesibukan tinggi.
Tidur yang cukup merupakan bagian dari pemeliharaan kesehatan. Namun, kebutuhan tidur dapat berbeda menurut usia dan kondisi individu. Oleh karena itu, masyarakat perlu memperhatikan kebutuhan istirahatnya serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami gangguan tidur berkepanjangan.
Kedua, berolahraga yang teratur. Ia menyarankan aktivitas fisik selama sekitar 30 menit per hari, lima hari dalam seminggu. Menurutnya, olahraga tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan yang berat atau membutuhkan fasilitas khusus. Masyarakat dapat memilih aktivitas sesuai kemampuan dan kondisi tubuh, seperti berjalan kaki, berlari, bersepeda, atau bermain bulu tangkis.
Budi juga memperkenalkan konsep zona intensitas olahraga, termasuk zona 2, yang dapat dipantau melalui perangkat kebugaran tertentu. Ia mendorong peserta untuk menjadikan aktivitas fisik sebagai kebiasaan rutin, bukan hanya dilakukan sesekali ketika memiliki waktu luang.
Bagi kelompok usia lanjut, jenis dan intensitas olahraga sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan fisik serta kondisi kesehatan masing-masing. Aktivitas yang dilakukan secara bertahap dan konsisten dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan kebugaran.
Ketiga, mengatur pola makan. Kebiasaan ketiga yang disampaikan Budi adalah mengendalikan pola makan dan menghindari konsumsi makanan secara berlebihan.
Ia mengingatkan peserta agar membiasakan diri makan secukupnya dan berhenti sebelum merasa terlalu kenyang. Pesan tersebut disampaikan sebagai pengingat bahwa pola makan sehari-hari turut berperan dalam menjaga berat badan dan mengendalikan berbagai faktor risiko penyakit kronis.
Pengaturan porsi makan perlu disertai pemilihan makanan bergizi seimbang, termasuk memperhatikan konsumsi sayur, buah, sumber protein, serta membatasi asupan gula, garam, dan lemak berlebihan sesuai kebutuhan kesehatan.
Melalui tiga kebiasaan tersebut, Budi mengajak masyarakat untuk memulai pencegahan penyakit dari kegiatan sehari-hari. Menurutnya, perubahan perilaku merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
Selain mengubah kebiasaan sehari-hari, Budi menekankan pentingnya memantau sejumlah indikator kesehatan. Ia menyebut tekanan darah, gula darah, kolesterol, serta berat badan atau obesitas sebagai empat hal yang perlu diperhatikan.
Keempat indikator tersebut dinilai penting karena berkaitan dengan risiko penyakit tidak menular, terutama penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal.
Pertama, tekanan darah. Budi menempatkan tekanan darah sebagai salah satu indikator utama yang perlu dipantau secara rutin. Dalam paparannya, ia menggunakan angka 120/80 mmHg sebagai acuan tekanan darah yang optimal. Ia juga mencontohkan hasil pengukuran salah satu peserta yang mencapai 219/170 mmHg untuk menggambarkan tingginya tekanan darah yang perlu segera mendapat perhatian medis.
Menurutnya, seseorang tidak boleh mengabaikan hasil pemeriksaan hanya karena merasa tubuhnya baik-baik saja atau tidak mengalami pusing. “Tekanan darah tinggi sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Padahal, apabila tidak dikendalikan, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko komplikasi serius, termasuk stroke, penyakit jantung, dan gangguan ginjal,” tegasnya.
Budi mengimbau masyarakat agar memeriksakan tekanan darah secara berkala, termasuk melalui pengukuran mandiri di rumah menggunakan alat yang sesuai.
Ia juga mengingatkan peserta yang telah didiagnosis mengalami hipertensi agar mengikuti pengobatan sesuai petunjuk tenaga kesehatan dan tidak menghentikan obat secara sepihak hanya karena merasa lebih sehat.
Kedua, gula darah. Budi menjelaskan bahwa pemeriksaan gula darah diperlukan untuk mengetahui kemungkinan gangguan metabolisme, termasuk diabetes. Ia menyebut pemeriksaan HbA1c sebagai salah satu metode yang dapat digunakan untuk menilai rata-rata kadar gula darah selama sekitar dua hingga tiga bulan terakhir.
Dalam paparannya, ia menggunakan angka HbA1c di bawah 5,7 persen sebagai kategori normal, 5,7 hingga kurang dari 6,5 persen sebagai kategori pradiabetes, dan 6,5 persen atau lebih sebagai salah satu kriteria diabetes. Hasil tersebut tetap perlu dinilai bersama kondisi klinis dan pemeriksaan lain oleh tenaga kesehatan untuk memastikan diagnosis.
Budi mengingatkan bahwa kadar gula darah yang tinggi dapat meningkatkan risiko komplikasi apabila tidak dikendalikan. Karena itu, masyarakat perlu menjalani pemeriksaan sesuai faktor risiko dan anjuran tenaga kesehatan.
Bagi orang yang telah didiagnosis menderita diabetes, pengelolaan gula darah perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pola makan, aktivitas fisik, pemantauan, serta pengobatan apabila diperlukan.
Ketiga adalah kolesterol, terutama kolesterol LDL yang sering disebut sebagai kolesterol jahat. Budi menjelaskan bahwa kadar LDL perlu diperhatikan karena berhubungan dengan pembentukan plak pada pembuluh darah. Penumpukan plak dapat mempersempit pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Dalam sambutannya, ia menyebut kadar LDL di bawah 100 mg/dL sebagai sasaran yang baik bagi banyak orang. Ia juga menekankan bahwa target dapat lebih rendah bagi individu dengan risiko kardiovaskular tertentu.
Secara medis, sasaran LDL memang perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Orang yang telah memiliki penyakit kardiovaskular atau faktor risiko tinggi dapat memerlukan target yang lebih ketat.
Pemeriksaan kolesterol menjadi salah satu cara untuk mengetahui kondisi tersebut. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan kadar yang tinggi, masyarakat perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan langkah penanganan yang tepat.
Keempat adalah berat badan dan obesitas, khususnya obesitas yang berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit metabolik. Budi mengingatkan bahwa penumpukan lemak tubuh, terutama di area perut, perlu menjadi perhatian karena dapat berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan.
Ia memberikan contoh pengukuran lingkar pinggang sebagai cara sederhana untuk membantu mengenali risiko obesitas abdominal. Angka lingkar pinggang di bawah 90 sentimeter untuk laki-laki dan di bawah 80 sentimeter untuk perempuan sebagai acuan yang perlu diperhatikan.
Selain lingkar pinggang, penilaian status berat badan juga dapat dilakukan melalui indeks massa tubuh atau body mass index (BMI), yang dihitung berdasarkan berat badan dan tinggi badan.
Budi mengajak peserta untuk tidak mengabaikan perubahan ukuran tubuh dan menjadikannya sebagai salah satu alasan untuk mengevaluasi pola makan serta aktivitas fisik.
Meski demikian, lingkar pinggang dan BMI merupakan alat penilaian awal, bukan satu-satunya penentu kondisi kesehatan. Hasilnya perlu dipertimbangkan bersama faktor risiko lain dan penilaian tenaga kesehatan.
Pemeriksaan Kesehatan Gratis sebagai Upaya Deteksi Dini
Budi juga menyoroti pentingnya program pemeriksaan kesehatan gratis yang diinisiasi pemerintah. Program tersebut menjadi salah satu sarana untuk memperluas kesempatan masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya. Ia mengajak para peserta memanfaatkan pemeriksaan yang tersedia untuk memantau tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan kondisi berat badan.
Menurutnya, pemeriksaan berkala dapat membantu menemukan faktor risiko sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih berat. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi yang memerlukan penanganan, peserta diharapkan melanjutkan konsultasi dengan tenaga kesehatan dan mengikuti rekomendasi yang diberikan.
Budi juga menekankan pentingnya kepatuhan dalam menjalani pengobatan bagi orang yang telah didiagnosis memiliki penyakit kronis. Ia mengingatkan bahwa hipertensi, diabetes, dan gangguan kolesterol tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan satu kali pemeriksaan atau pengobatan singkat. Pengelolaannya membutuhkan pemantauan dan penanganan yang berkesinambungan.
Program pemeriksaan kesehatan gratis, menurut paparan tersebut, diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan masyarakat untuk memeriksa kesehatan secara rutin. Namun, pemeriksaan gratis tetap perlu diikuti tindak lanjut yang sesuai apabila ditemukan masalah kesehatan. Dengan demikian, manfaat deteksi dini dapat dirasakan secara lebih optimal.
Meutya Hafid Apresiasi Semangat Wartawan Senior
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyampaikan apresiasi kepada para wartawan senior yang hadir. Meutya menilai semangat para wartawan senior patut diapresiasi karena mereka tetap aktif mengikuti kegiatan dan menjaga hubungan dengan komunitas profesinya meskipun telah memasuki usia lanjut.
Bagi Meutya, pertemuan tersebut memiliki arti tersendiri karena menjadi kesempatan untuk kembali berinteraksi dengan para jurnalis yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia pers.
Ia menggambarkan suasana pertemuan itu seperti kembali berada di lingkungan keluarga dekat, mengingat hubungan antara pemerintah dan wartawan telah terjalin melalui perjalanan profesi yang panjang.
Meutya juga menyinggung informasi mengenai hasil pemeriksaan kesehatan sejumlah peserta. Ia menyampaikan bahwa temuan tekanan darah tinggi pada sebagian peserta perlu menjadi perhatian dan ditindaklanjuti.
Menurutnya, pemeriksaan kesehatan gratis tidak boleh berhenti pada kegiatan pemeriksaan semata. Hasilnya perlu menjadi catatan untuk menentukan langkah lanjutan, khususnya bagi peserta yang membutuhkan perhatian medis.
Ia menilai kerja sama antara kementerian, organisasi wartawan, puskesmas, dan rumah sakit merupakan bentuk kolaborasi yang perlu dijaga keberlanjutannya.
Selain persoalan kesehatan, Meutya menyoroti posisi wartawan senior dalam ekosistem informasi di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa wartawan yang telah lama menjalani profesinya memiliki pengalaman dalam mengikuti berbagai peristiwa, memahami perubahan sosial, dan melihat bagaimana suatu keputusan dapat memengaruhi kehidupan masyarakat.
Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi modal penting untuk menghasilkan pemberitaan yang tidak hanya akurat, tetapi juga memiliki konteks dan memberikan manfaat bagi publik.
Meutya mengingatkan bahwa kualitas jurnalistik tidak seharusnya hanya diukur dari benar atau tidaknya suatu informasi. Dampak pemberitaan terhadap masyarakat juga perlu menjadi pertimbangan.
Ia mendorong agar informasi yang disampaikan melalui media dapat membantu masyarakat memahami persoalan, bukan justru menimbulkan kebingungan atau memperburuk keadaan.
Dalam pandangannya, wartawan senior memiliki peluang untuk berkontribusi melalui pembagian pengalaman dan pengetahuan kepada generasi jurnalis yang lebih muda.
Pengalaman mereka dalam melakukan verifikasi, menyusun berita, menilai kepentingan publik, dan menjaga etika profesi dapat menjadi bahan pembelajaran yang berharga bagi perkembangan dunia pers.
Meutya juga membuka peluang bagi kegiatan lanjutan bersama komunitas wartawan senior untuk menularkan prinsip-prinsip dasar jurnalistik kepada wartawan yang lebih muda











