Makkah, panjimas – Sekjen MUI, Amirsyah Tambunan mengajak jamaah haji untuk fokus persiapan puncak ibadah haji dengan rangkaian Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Ketiga tempat ini menjadi fokus jamaah haji dalam rangkaian kegiatan wajib, sehingga dapat menyelesaikan puncak haji.
Kenapa harus fokus karena memang cukup menguras fisik dan mental jemaah haji, sehingga dibutuhkan fisik, mental dan spritual yang prima melalui pelayanan prima oleh para petugas termasuk Amirul Hajj yang saat ini hari ketiga di tanah suci Makkah.
“Kami berharap saat menjalani Armuzna ini harus kita antisipasi agar jemaah tidak sakit atau tidak keluar dari rombongan sehingga petugas tidak kerepotan dalam pencarian jemaah,” ujar Buya Amirsyah Tambunan.
Lantas apa itu Armuzna?
Sederhananya, Armuzna adalah singkatan dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Ketiga tempat ini disebut titik krusial dalam rangkaian kegiatan wajib, sehingga jemaah mengukuti puncak haji.
“Kami mengajak agar para jemaah fokus mulai dari niat hingga praktik di lapangan dengan persiapan antara lain; pertama, prosesi ibadah yang akan mulai bergerak menuju Arafah pada 8 Dzulhijjah ini, mereka harus mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan yang menunjang kelancaran ibadah seperti pakaian ihram, sabuk, gelang identitas, gelang maktab, dan identitas lainnya,” tandas Sekjen MUI.
Kedua, tas paspor juga tidak boleh tertinggal. Bisa diisi kartu kesehatan, buku doa, dompet, dan obat-obatan serta multivitamin secukupnya” imbaunya.
Perlengkapan ketiga, yakni tas tenteng yang bisa diisi berbagai peralatan seperti baju dan pakaian ganti. Pakaian bisa seperti baju koko, kain ihram cadangan, Al-Qur’an, alat komunikasi.
Haji Mabrur
Kehadiran jamaah haji Indonesia di Tanah Suci diharapkan mampu membawa suasana kedamaian dan keselamatan umat dan bangsa. Jika calon jamaah haji yang berada di tanah air dan berangkat ke Tanah suci hingga kepulangannya kembali ke tanah air malah membuat gaduh di masyarakat, atau bahkan membuat suasana lingkungan menjadi tidak nyaman akibat tingkah polah buruk dan kesombongannya.
Maka jelas sekali hal demikian itu bertentangan dengan nilai-nilai haji mabrur. Karena Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ جَابِرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلَامِ وفي رواية لأحمد والبيهقي إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ
Artinya: Dari Sahabat Jabir bin Abdillah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Haji mabrur tiada balasan lain kecuali surga.” Lalu sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa (tanda) mabrurnya?” Rasulullah SAW menjawab, “Memberikan makan kepada orang lain dan melontarkan ucapan yang baik.” (HR Ahmad, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi).
Dalam hadis ini disebutkan ada dua ciri dan karakteristik haji mabrur yang diwasiatkan oleh Rasulullah SAW yang harus dipenuhi oleh seorang haji; memberi makan kepada orang lain; kedua, melontarkan kata-kata yang baik.
Maka, jika diasumsikan tiap tahun ada 221 ribu jamaah haji asal Indonesia, sesungguhnya hal itu merupakan potensi luar biasa untuk bangsa ini. Artinya, setidaknya akan lahir setiap tahunnya orang-orang baru di negeri ini yang siap untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat menyejahterakan dan mendamaikan, yaitu orang-orang yang punya kepedulian dan kepekaan sosial yang tinggi serta orang-orang yang berpikir dan bertindak arif, santun dan menyejukkan suasana.
Itulah dampak sosial haji mabrur yang sejatinya sangat dinanti-nanti oleh bangsa ini. Semakin banyak yang berangkat haji, maka semakin besar bangsa ini memiliki pribadi-pribadi berpredikat haji mabrur, dan selanjutnya semakin mudah bagi negeri ini untuk keluar dari jeratan krisis multi-dimensi, baik krisis akhlak, krisis ekonomi, politik dan budaya.
Mari kita tunggu kehadiran dan kiprah haji mabrur di Indnonesia untuk menyejahterakan dan mendamaikan kehidupan kebangsaan di Republik tercinta ini. Semoga!












