Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif
Muhammadiyah tidak pernah kekurangan kader. Di berbagai kampus, sekolah, masjid, organisasi otonom, amal usaha, hingga ruang-ruang digital, anak-anak muda Muhammadiyah terus tumbuh dan bergerak. Mereka hadir dengan pendidikan yang semakin baik, penguasaan teknologi yang semakin kuat, serta keberanian untuk memasuki berbagai ruang publik.
Namun, di tengah dinamika tersebut, ada satu pertanyaan yang layak terus diajukan, yaitu apakah pertumbuhan jumlah dan kapasitas kader selalu sejalan dengan penguatan kepribadian Muhammadiyah? Pertanyaan ini penting karena organisasi sebesar Muhammadiyah tidak hanya membutuhkan kader yang pintar, tetapi juga kader yang berkarakter.
Tidak hanya kader yang mampu berbicara tentang perubahan, tetapi juga mampu menjadi bagian dari perubahan. Tidak sekadar kader yang aktif secara organisasi, tetapi juga memiliki integritas, keluasan pandangan, kedalaman spiritualitas, kepedulian sosial, dan keteguhan ideologis. Di sinilah pentingnya kembali membaca dan menghidupkan 10 sikap Kepribadian Muhammadiyah.
Kepribadian Muhammadiyah bukan sekadar dokumen normatif yang dibaca dalam perkaderan lalu disimpan kembali di rak buku. Ia merupakan kompas moral dan ideologis yang seharusnya menjadi pedoman perilaku warga Muhammadiyah dalam menjalani kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan beragama.
Terlebih bagi kader muda. Sebab, wajah Muhammadiyah dalam dua atau tiga dekade mendatang sangat ditentukan oleh bagaimana generasi muda saat ini memahami, menghayati, dan mengamalkan kepribadian tersebut.
Salah satu tantangan perkaderan hari ini adalah kecenderungan untuk menjadikan nilai sebagai materi, bukan sebagai perilaku. Kader bisa saja menghafal berbagai dokumen ideologi Muhammadiyah. Bisa menjelaskan sejarah berdirinya Muhammadiyah. Bisa berbicara mengenai Islam Berkemajuan. Bahkan mampu menyampaikan gagasan tentang tajdid dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar.
Ideologi yang tidak menjelma menjadi perilaku pada akhirnya hanya akan menjadi pengetahuan. Padahal, Muhammadiyah sejak awal dibangun bukan sebagai gerakan wacana semata, melainkan sebagai gerakan amal.
Karena itu, 10 sikap Kepribadian Muhammadiyah perlu dibaca kembali bukan sebagai sepuluh pasal yang harus dihafalkan, melainkan sebagai sepuluh karakter yang harus dihidupkan.
Pertama, Beramal dan Berjuang untuk Perdamaian dan Kesejahteraan
Kader Muhammadiyah harus memiliki orientasi kehidupan yang melampaui kepentingan dirinya sendiri. Di tengah budaya digital yang semakin individualistik, ukuran keberhasilan sering kali bergeser menjadi jumlah pengikut, popularitas, jabatan, pendapatan, atau pengakuan sosial. Kader muda Muhammadiyah justru harus menunjukkan bahwa keberhasilan memiliki dimensi yang lebih luas, yaitu seberapa besar kehadiran kita memberikan manfaat bagi orang lain.
Beramal bukan hanya berarti aktif dalam kegiatan organisasi. Berjuang berarti menghadirkan kontribusi nyata bagi perdamaian dan kesejahteraan. Kader muda harus hadir di tengah persoalan kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, lingkungan, ekonomi digital, serta kesenjangan sosial.
Muhammadiyah membutuhkan generasi yang tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari Muhammadiyah?”, tetapi juga bertanya, “Apa yang dapat saya berikan kepada Muhammadiyah dan masyarakat?”
Kedua, Memperbanyak Kawan dan Mengamalkan Ukhuwah Islamiyah
Di era media sosial, menambah kawan ternyata tidak selalu mudah. Kita dapat memiliki ribuan pengikut, tetapi semakin sedikit ruang untuk benar-benar berdialog. Algoritma media sosial bahkan sering membuat seseorang hanya bertemu dengan orang-orang yang memiliki pandangan yang serupa. Akibatnya, perbedaan mudah berubah menjadi kecurigaan. Padahal, kepribadian Muhammadiyah mengajarkan pentingnya memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah.
Kader muda perlu belajar membangun jembatan, bukan memperlebar jarak. Perbedaan pilihan organisasi, metode dakwah, latar belakang pendidikan, bahkan pilihan politik tidak seharusnya menghapus persaudaraan sebagai sesama Muslim dan sesama anak bangsa. Muhammadiyah harus menjadi ruang yang melahirkan kader yang mampu merawat perbedaan, bukan sekadar memenangkan perdebatan.
Ketiga, Lapang Dada dan Luas Pandangan dengan Tetap Memegang Teguh Ajaran Islam
Ini adalah salah satu karakter yang semakin relevan di tengah masyarakat yang mudah terpolarisasi. Lapang dada bukan berarti kehilangan prinsip. Luas pandangan bukan berarti relativisme terhadap kebenaran. Justru keduanya harus berjalan bersama dengan teguh dalam ajaran Islam.
Kader muda Muhammadiyah perlu memiliki keberanian untuk berbeda tanpa harus memusuhi. Dalam tradisi intelektual Muhammadiyah, perbedaan pandangan merupakan bagian dari dinamika pemikiran. Karena itu, kader harus dibekali kemampuan untuk membaca persoalan secara mendalam, memahami konteks, menguasai sumber-sumber keislaman, sekaligus tetap terbuka terhadap ilmu pengetahuan. Kader yang kuat bukan kader yang selalu merasa paling benar, melainkan kader yang berpegang pada prinsip tetapi tetap mampu mendengarkan.
Keempat, Bersifat Keagamaan dan Kemasyarakatan
Muhammadiyah tidak pernah memisahkan keberagamaan dari kehidupan sosial. Islam harus hadir sebagai kekuatan yang membebaskan, mencerdaskan, memberdayakan, dan memajukan masyarakat. Karena itu, kesalehan kader tidak cukup diukur dari aktivitas ritualnya. Kesalehan juga harus tercermin dalam kepeduliannya terhadap persoalan masyarakat.
Kader yang rajin beribadah tetapi tidak peduli terhadap kemiskinan di sekitarnya perlu kembali mempertanyakan makna keberagamaannya. Demikian pula, kader yang aktif dalam kegiatan sosial tetapi kehilangan fondasi spiritualnya akan mudah kehilangan arah. Kader Muhammadiyah membutuhkan keseimbangan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial.
Kelima, Mengindahkan Hukum, Undang-Undang, Peraturan, serta Dasar dan Falsafah Negara yang Sah
Menjadi Muslim yang taat sekaligus warga negara yang baik bukanlah dua hal yang bertentangan. Kader Muhammadiyah harus memahami bahwa kehidupan kebangsaan membutuhkan penghormatan terhadap hukum dan aturan yang berlaku.
Di tengah munculnya budaya trial by social media, penyebaran informasi tanpa verifikasi, serta kecenderungan sebagian orang untuk menghakimi berdasarkan persepsi, sikap taat terhadap hukum menjadi semakin penting.
Kader muda harus menjadi contoh dalam literasi hukum, literasi digital, dan etika bermedia. Kritik terhadap kebijakan publik tentu merupakan bagian penting dari kehidupan demokratis. Namun, kritik harus dilakukan secara argumentatif, bertanggung jawab, dan berdasarkan data. Menjadi warga negara yang kritis tidak berarti menjadi warga negara yang destruktif.
Keenam, Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Segala Lapangan serta Menjadi Teladan
Amar ma’ruf nahi munkar sering kali dipahami secara sempit sebagai aktivitas menyampaikan nasihat kepada orang lain. Padahal, bagian terpenting dari amar ma’ruf nahi munkar adalah keteladanan.
Sulit mengajak masyarakat untuk jujur jika kader sendiri tidak jujur. Sulit berbicara tentang integritas jika perilaku organisasi tidak transparan. Sulit mengajak generasi muda mencintai ilmu jika kadernya sendiri tidak memiliki tradisi membaca dan belajar. Karena itu, amar ma’ruf nahi munkar harus dimulai dari diri sendiri.
Di ruang digital, misalnya, kader Muhammadiyah dapat melakukan amar ma’ruf dengan memproduksi konten edukatif, melawan disinformasi, membangun budaya diskusi yang sehat, serta menunjukkan etika dalam berkomunikasi. Dakwah terbaik sering kali bukan yang paling keras suaranya, melainkan yang paling kuat keteladanannya.
Ketujuh, Aktif dalam Perkembangan Masyarakat untuk Ishlah dan Pembangunan
Muhammadiyah tidak boleh menjadi penonton dalam perubahan zaman. Kader muda harus berada di garis depan dalam menghadapi perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, perubahan iklim, transformasi dunia kerja, perkembangan industri halal, serta perubahan demografi.
Jika teknologi mengubah cara manusia bekerja, kader Muhammadiyah harus ikut membentuk arah perubahan itu. Jika ekonomi digital membuka peluang baru bagi UMKM, kader harus membantu masyarakat memanfaatkannya.
Jika kecerdasan buatan mengubah dunia pendidikan dan pekerjaan, kader harus menjadi bagian dari diskusi tentang bagaimana teknologi digunakan secara etis dan manusiawi. Inilah makna ishlah dalam konteks kekinian, yaitu menghadirkan perbaikan nyata dalam kehidupan masyarakat. Muhammadiyah harus melahirkan kader yang tidak hanya mampu mengkritik zaman, tetapi juga mampu menawarkan solusi bagi zaman.
Kedelapan, Bekerja Sama dengan Golongan Islam Mana Pun dalam Menyiarkan dan Mengamalkan Islam
Di tengah kompleksitas persoalan umat, tidak mungkin semua persoalan dapat diselesaikan oleh satu organisasi. Karena itu, ukhuwah dan kolaborasi menjadi kebutuhan strategis. Kader muda Muhammadiyah harus mampu membangun kerja sama dengan berbagai kelompok Islam dalam persoalan-persoalan yang menjadi kepentingan bersama seperti pendidikan, kemiskinan, kesehatan, ketahanan pangan, ekonomi umat, lingkungan, pemberdayaan perempuan dan anak, serta penguatan masyarakat sipil.
Perbedaan manhaj atau tradisi organisasi tidak semestinya menjadi penghalang untuk bekerja sama demi kemaslahatan. Bersatu dalam persoalan bersama tidak mengharuskan kita menjadi sama dalam semua persoalan. Ini merupakan kedewasaan gerakan yang harus dimiliki kader muda.
Kesembilan, Membantu Pemerintah dan Bekerja Sama dengan Golongan Lain untuk Membangun Negara
Muhammadiyah merupakan bagian dari kekuatan masyarakat sipil yang memberikan kontribusi besar bagi pembangunan bangsa. Karena itu, hubungan Muhammadiyah dengan pemerintah semestinya tidak dibangun dalam pola oposisi permanen maupun dukungan tanpa kritik.
Ada saatnya bekerja sama. Ada saatnya memberikan masukan. Ada saatnya melakukan kritik. Semua itu dapat dilakukan dengan orientasi yang sama, yaitu kepentingan masyarakat dan kemajuan bangsa. Kader muda perlu memahami bahwa independensi organisasi tidak berarti anti-pemerintah. Sebaliknya, kerja sama dengan pemerintah juga tidak berarti kehilangan daya kritis.
Muhammadiyah membutuhkan kader yang mampu menjadi mitra kritis pemerintah yang konstruktif saat diperlukan, kritis saat kebijakan perlu diperbaiki, dan solutif saat masyarakat menghadapi persoalan.
Kesepuluh, Bersifat Adil dan Korektif ke Dalam dan ke Luar dengan Bijaksana
Barangkali inilah salah satu sikap terpenting dalam kehidupan organisasi. Sering kali seseorang sangat kritis terhadap kesalahan orang lain, tetapi kehilangan keberanian saat berhadapan dengan kesalahan di lingkungannya sendiri.
Padahal, kepribadian Muhammadiyah mengajarkan koreksi ke dalam dan ke luar. Hal ini berarti kader harus berani melakukan koreksi secara pribadi. Ketika organisasi mengalami persoalan, jangan selalu mencari kambing hitam. Ketika kader melakukan kesalahan, jangan dilindungi hanya karena kedekatannya. Ketika ada kekurangan dalam amal usaha, jangan ditutupi demi menjaga citra.
Namun, koreksi juga harus dilakukan dengan bijaksana. Kritik bukan untuk meruntuhkan. Koreksi bukan untuk mempermalukan. Perbedaan pendapat bukan untuk memutus persaudaraan. Koreksi yang sehat adalah koreksi yang bertujuan untuk memperbaiki, bukan untuk menghukum.
Menghidupkan Kembali Kepribadian Muhammadiyah
Lalu bagaimana sepuluh sikap tersebut dapat dihidupkan kembali? Pertama, ubah pendekatan perkaderan dari hafalan menjadi pembiasaan. Nilai Kepribadian Muhammadiyah harus hadir dalam praktik organisasi, bukan hanya dalam materi pelatihan.
Kedua, memperbanyak ruang dialog lintas generasi. Kader muda perlu bertemu dengan tokoh dan senior Muhammadiyah untuk memahami pengalaman perjuangan mereka, tetapi senior juga perlu mendengarkan kegelisahan generasi muda.
Ketiga, membangun proyek sosial kader. Nilai akan lebih mudah dipahami ketika kader berhadapan langsung dengan persoalan masyarakat seperti kemiskinan, pendidikan, lingkungan, UMKM, ketahanan pangan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Keempat, memperkuat literasi digital dan etika dalam bermedia sosial. Kader harus menjadi produsen pengetahuan dan narasi yang mencerahkan, bukan sekadar konsumen informasi.
Kelima, menghidupkan tradisi intelektual. Kader muda harus kembali membaca, menulis, berdiskusi, meneliti, dan mengembangkan gagasan. Muhammadiyah membutuhkan kader yang memiliki kedalaman berpikir sekaligus keberanian untuk bertindak.
Keenam, mengembangkan budaya evaluasi dan koreksi internal. Organisasi yang besar bukan organisasi yang tidak pernah salah, melainkan organisasi yang mampu mengenali kesalahan dan memperbaikinya.
Ketujuh, mengukur keberhasilan kaderisasi berdasarkan dampaknya terhadap masyarakat. Jangan hanya menghitung berapa banyak kader yang mengikuti pelatihan. Ukur pula berapa banyak yang kemudian menjadi pendidik yang baik, pengusaha yang berintegritas, ilmuwan yang produktif, birokrat yang amanah, profesional yang kompeten, aktivis sosial yang konsisten, dan pemimpin masyarakat yang memberikan manfaat.
Menyiapkan Kader untuk Muhammadiyah 20 Tahun Mendatang
Muhammadiyah sedang berada pada fase yang sangat menentukan. Organisasi ini memiliki sejarah panjang, jaringan amal usaha yang luas, sumber daya manusia yang besar, serta pengalaman lebih dari satu abad dalam mengembangkan dakwah dan pelayanan sosial.
Namun, masa depan organisasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya aset atau banyaknya amal usaha. Masa depan Muhammadiyah sangat bergantung pada kualitas manusia yang akan mengelolanya. Karena itu, pertanyaan tentang kaderisasi sesungguhnya adalah pertanyaan tentang masa depan Muhammadiyah.
Dua puluh tahun dari sekarang, siapa yang akan mengelola sekolah dan universitas Muhammadiyah? Siapa yang akan memimpin rumah sakit? Siapa yang akan mengembangkan ekonomi umat? Siapa yang akan membawa dakwah Muhammadiyah ke ruang digital? Siapa yang akan menjaga integritas organisasi? Siapa yang akan menerjemahkan Islam Berkemajuan ke dalam persoalan baru yang bahkan belum kita bayangkan hari ini?
Persiapan itu tidak cukup hanya dengan memberikan jabatan kepada generasi muda. Tidak cukup hanya dengan memperbanyak pelatihan. Kita harus membangun karakter kader. Sepuluh sikap Kepribadian Muhammadiyah, karena itu, bukan warisan masa lalu yang hanya perlu dijaga. Sepuluh kepribadian Muhammadiyah ini merupakan modal masa depan yang harus terus dihidupkan.
Pada akhirnya, kader Muhammadiyah tidak cukup hanya dikenal karena identitas organisasinya. Ia harus dikenal karena akhlaknya, ilmunya, amalnya, dan manfaatnya. Sebab, tantangan terbesar Muhammadiyah hari ini bukan sekadar mempertahankan jumlah kader, melainkan memastikan bahwa setiap kader benar-benar membawa nilai-nilai Muhammadiyah ke dalam kehidupan.
Muhammadiyah tidak membutuhkan generasi yang sekadar mewarisi nama besar. Muhammadiyah membutuhkan generasi yang mampu mewarisi nilai, meneruskan amal, memperbarui gagasan, dan membawa gerakan Islam Berkemajuan untuk menjawab tantangan zaman.
Di situlah sepuluh sikap Kepribadian Muhammadiyah menemukan relevansinya kembali, yaitu bukan sebagai teks yang dibaca, melainkan sebagai karakter yang hidup; bukan sekadar identitas yang dikenakan, melainkan nilai yang dipraktikkan; bukan hanya warisan masa lalu, melainkan kompas menuju masa depan. Masa depan Muhammadiyah itu, sesungguhnya, sedang dibentuk oleh kader muda hari ini.
*) (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur)












