BeritaNewsOpini

Pembangunan dan Masalah Kebahagiaan

14
×

Pembangunan dan Masalah Kebahagiaan

Sebarkan artikel ini

Mishal Husain bertanya kepada mantan Menteri Luar Negeri Singapura, mengapa Singapura sebagai salah satu dari 20 negara terkaya di dunia tapi tidak bahagia.

Lalu sang mantan menteri yang ditanya dengan tersenyum menjawab bahwa itu terjadi karena Lee Kuan Yew Bapak pembangunan Singapura tidak pernah menjanjikan kepada rakyatnya kebahagiaan.

Dia hanya menjanjikan pembangunan ekonomi, infrastruktur, pendidikan dan lain-lainnya. Hal yang sama tampaknya juga kita alami sehingga kita terlihat sangat sibuk melakukan pembangunan dan mengejar pertumbuhan ekonomi.

Padahal kita tahu pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak otomatis akan bisa membuat kita memiliki tingkat kebahagiaan yang sebanding dengan itu karena kita tahu tingkat kebahagiaan biasanya sangat terkait dengan masalah pemahaman kita akan makna hidup.

Serta adanya relasi yang baik dan hangat dengan sesama serta tidak adanya ancaman yang menimbulkan ketakutan dan kerisauan pada diri kita.

Untuk itu yang perlu kita sadari dalam menjalankan pembangunan adalah bahwa yang kita cari tidak hanya kemajuan dalam aspek fisik dan material saja tapi juga aspek kebahagiaan bagi rakyat kita.Mengapa demikian ?

Karena materi hanyalah alat, sedangkan kebahagiaan adalah salah satu tujuan dari kehidupan manusia. Disinilah kita perlu mencamkan dengan baik pesan-pesan dari orang arif bijaksana yang telah mengatakan bahwa kekayaan sejati itu tidaklah dilihat dari banyaknya uang dan harta yang kita miliki tetapi kekayaan sejati adalah adanya ketenangan hati dan kebahagiaan yang senantiasa mau bersyukur.

Untuk itu agar tujuan tersebut bisa tercapai, orang-orang arif tersebut telah berpesan agar kita dalam mencari harta carilah harta yang berkah, yaitu harta yang kita dapat dengan cara halal dan tidak melanggar hukum karena menurut mereka harta yang seperti itulah yang akan bisa membuat kita bahagia dan bisa terhindar dari stres dan penderitaan.

Disinilah kita perlu mengingat-ingatkan pemerintah agar dalam melaksanakan pembangunan, pemerintah jangan hanya menekankan aspek fisik material saja tapi juga harus memperhatikan aspek dan dimensi kebahagiaan sebagai sesuatu yang sangat esensial dan terdalam dari kesejahteraan yang kita cita-citakan.

Untuk itu pemerintah kita harapkan agar jangan hanya sibuk mengukur keberhasilan pembangunan dari aspek produk domestik bruto (PDB) , pendapatan perkapita dan pembangunan infra struktur yang sudah mereka kerjakan saja tapi juga harus bisa memasukkan konsep indeks kebahagiaan guna melengkapi dan menutup kekurangan model pembangunan konvensional yang ada selama ini.

Dalam mengukur indeks kebahagiaan suatu masyarakat atau bangsa ada tiga aspek kebahagiaan yang perlu kita perhatikan. Pertama, aspek afeksi atau perasaan, berupa rasa senang dan rendahnya tingkat kekhawatiran serta kecemasan yang dihadapi warga masyarakat dalam segala aspek kehidupannya.

Kedua, aspek makna hidup yang akan mendorong warga bangsa untuk dapat menerima keadaan yang mereka alami secara positif serta mampu menciptakan diri mereka untuk bisa hidup bersama masyarakat dan lingkungannya dengan aman tentram dan damai.

Ketiga, adanya kepuasan hidup yang dialami oleh para warga dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta adanya lingkungan yang asri yang mampu menyediakan air dan udara yang bersih, serta ruang terbuka yang hijau dan sehat bagi seluruh rakyatnya.

 

Anwar Abbas

Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *